Poster dan Kembalinya Kritik

No Comment Yet

Seperti yang sudah-sudah, kampus masih tetap alergi kritik, tidak sampai satu bulan, poster kritik itu dicabut dan hampir tidak tersisa.

Poster banyak dijadikan sebagai media untuk menyampaikan sesuatu,  baik itu berupa informasi, alat propaganda, kampanye, dan sebagainya. Di kampus, poster biasanya banyak dijumpai di tembok majalah dinding (mading). Beberapa minggu lalu saya melihat poster seperti biasa, namun kali ini ada yang berbeda dan menarik perhatian. Ketika melewati gedung seni rupa, belakang panggung arena prestasi (après) dan lorong dekat UPT perpustakaan, terlihat beberapa poster yang sangat ‘berani’. Isi poster tersebut salah satunya bertuliskan “kampus negeri rasa swasta”. Entah siapa yang memasang poster-poster tersebut.

Selain poster, kritik mengenai kampus juga bermunculan di tembok-tembok dengan tulisan yang langsung dicetak pada tembok dengan  mengatasnamakan ‘Dinas Keresahan Kampus’. Setelah melihat tulisan-tulisan tersebut, saya memiliki prasangka bahwa ada sesuatu yang diharapkan dari ‘Dinas keresahan Kampus’, setidaknya ada respon dan beberapa perubahan yang lebih baik dari pihak kampus.

Kritik kampus merupakan sebuah ‘symbol’. Pertama, kritik adalah symbol dari ketidakmampuan kampus untuk melaksanakan fungsinya. Sebelum poster-poster ini bertebaran di mading dan tembok, kritik terhadap kampus sudah beberapa kali ada. Contoh yang terakhir terjadi ialah aksi aliansi mahasiswa UNJ  pada bulan Mei lalu. Aksi itu mempunyai tujuh tuntutan dari mahasiswa terhadap kampus. Beberapa tuntutan yang dilayangkan yaitu, penghapusan uang pangkal bagi mahasiswa baru 2016/2017, penurunan uang kuliah tunggal (UKT), dan  tindakan tegas kampus terhadap dosen yang melakukan kekerasan seksual.

Kampus-kampus negeri seperti UNJ seharusnya tidak memberikan tarif bayaran kuliah yang mahal. Selain karena merupakan universitas negeri, UNJ dan kampus-kampus lain (termasuk swasta)  yang ada di Indonesia adalah sebuah lembaga pendidikan. setiap orang berhak mendapatkan pendidikan sebagaimana yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1. Jika bayaran kuliah mahal, maka yang berhak mendapatkan pendidikan adalah orang-orang dari kalangan tertentu. Bukannya lupa akan adanya beasiswa atau bantuan dari pemerintah, namun prosedur mendapatkan bantuan tersebut sulit dan terkadang dipersulit. Parahnya, bantuan tersebut seringkali salah bidik. Hal seperti ini yang membuat mahasiswa jengah.

Ada aksi maka ada reaksi. Kedua, kritik merupakan symbol atas kepedulian mahasiswa terhadap kampus. Di tengah sibuknya jam perkuliahan karena dituntut untuk lulus cepat, ternyata ada mahasiswa yang tidak hanya kritis di dalam ruang kelas, tapi juga kritis terhadap lingkungan sekitar.  Poster-poster yang berisi kritik adalah salah satu bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kampusnya. Ini juga menunjukan bahwa aksi aliansi mahasiswa UNJ tahun lalu tidak berpengaruh signifikan terhadap perbaikan kinerja kampus.

Respon kampus terhadap kritik mahasiswa yang sudah-sudah biasanya selalu represif dan reaksioner. Terakhir kampus memecat ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan beberapa mahasiswa lainnya (meskipun pada akhirnya surat pemecatan tersebut dicabut). Itu adalah salah satu  bentuk gertakan dari kampus untuk upaya pembentukan “self-alarm” mahasiswa. Ketika mahasiswa ingin berbicara maka mahasiswa akan memikirkan kembali apakah ia akan berbicara atau tidak, membahayakan atau tidak, dan pada akhirnya menerima, diam dan menciptakan mahasiswa yang apatis.

Seperti yang sudah-sudah, kampus masih tetap alergi kritik, tidak sampai satu bulan, poster kritik itu dicabut dan hampir tidak tersisa. “kalau kalian bikin berita atau kritik seperti ‘itu’, kan kalian juga yang akan malu. Kampus kalian jadi terlihat buruk”, alasan klasik, upaya membentuk ‘wajah paradoks’ kampus. Jika seperti ini, maka kampus mempunyai dua wajah yang berlainan (adanya realitas permukaan dan realitas terselubung). Kampus sibuk dengan pembangunan gedung-gedung baru untuk memberikan kesan kepada khalayak bahwa kampus ‘ini’ adalah kampus yang ‘berkualitas’. sedangkan, masih banyak mahasiswa yang terpaksa berhenti dan cuti kuliah karena tidak bisa membayar uang kuliah. “Uang kuliah di kampus ini sudah termasuk murah, jadi tinggal pilih saja mau masuk negeri atau mau masuk swasta yang biasa-biasa saja,”  jelas kampus menanggapi bayaran UKT.

Mendengar alasan-alasan klasik bahkan apatis seperti itu, saya tiba-tiba diam dan teringat beberapa teman saya yang terpaksa cuti, tetapi kampus tidak peduli. Saya keluar meninggalkan gedung tempat para petinggi beraktivitas dan melewati sisa robekan poster-poster tersebut sambil berdoa dalam hati, semoga mahasiswa tidak berhenti peduli terhadap kampusnya.

Adiningsih

 

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *