Pemuda dan Semangat Toleransi

No Comment Yet

UNJ, Rabu (16/11/2016) – Pukul tiga siang itu di teater terbuka (terbuk), beberapa orang berkumpul memakai baju yang sama. Bagian belakang baju itu tertulis;

“kami berbangsa, menghormati yang beda; damai dan toleran, kami mencintai semua; alam dan manusia, kami Indonesia.”

Karena penasaran tim DIDAKTIKA kemudian menemui salah satu dari mereka. Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2012, Aditya Rahman menjelaskan, bila mereka sedang mengadakan sebuah festival untuk memperingati Hari Toleransi Dunia yang jatuh tepat pada Rabu (16/11).

Festival tersebut diberi nama Peace and Tolerance. Disponsori oleh Wahid Foundation, festival itu bertujuan untuk memberikan semangat toleransi kepada pemuda. Puncak acaranya adalah pembacaan Deklarasi Peace and Tolerance 2016 yang akan dipimpin oleh Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation. Festival dapat terselenggara berkat kerjasama antara Wahid Foundation dengan beberapa komunitas pemuda se-Jabodetabek. Di antaranya komunitas Fans Sejati Iwan Fals (Fasih) dan Musang Lovers Jakarta (MLJ).

Qowin selaku ketua pelaksana mengatakan Peace and Tolerance merupakan sebuah momentum untuk para pemuda agar sadar tentang makna toleransi. Sebab pemuda mempunyai tanggung jawab sebagai penerus generasi bangsa. “Pemuda itu pemimpin masa depan. Bila pemuda itu tidak toleran maka akan hancur bangsa kita ke depannya”, ujar Qowin.

Dalam festival tersebut banyak pemuda yang menampilkan kebolehannya. Misalnya, Joko Pinurbo yang membacakan puisi berjul “Durrahman” dan JFLOW yang membawakan musik hip-hop. Selain mereka juga dimeriahkan oleh Fajar Merah (Anak Wiji Tukul), Dira Sugandi, Kill The DJ, dan Steven Jam mengiringi jalanya festival. Sejumlah video dokumenter juga diputar dengan tema yang berhubungan dengan Hari Toleransi Dunia.

Ketika semakin malam, setelah Dira Sugandi membawakan lagu “Tanah Airku”, giliran Yenny Wahid naik ke terbuk. Ia menjelaskan bila penyelenggaraan festival ini karena rasa prihatin akan rasa kebencian yang mengisi ruang-ruang publik. “Orang saling mencaci, orang saling memberikan pesan-pesan kebencian. Tapi, mereka lupa kalau kita semua adalah saudara yang mempunyai semangat untuk mempersatukan bangsa kita”, ungkap anak kedua dari pasangan Abdurrahman Wahid (Alm) dan Sinta Nuriyah.

Yenny Wahid juga meyakini bahwa pemuda yang akan menjadi agen-agen pembawa semangat toleransi itu. Berdasarkan sejarah, pemuda memilki peran penting dalam merumuskan sumpah pemuda, karena pemuda saat itu mempunyai semangat persatuan dan tidak melihat latar belakang golongan, suku, etnis maupun ras. Sebab mereka memiliki gagasan yang sama, yaitu gagasan mengenai kebangsaan.

Setelah itu, pembacaan deklarasi diikuti oleh hadirin dan ditutup dengan suara tepuk tangan meriah. Namun, festival belum selesai. Meski hujan deras datang, para peserta tidak membubarkan diri karena acara masih berlangsung. Masih ada beberapa penampilan musik. Apalagi, penampil terakhirnya ialah Steven Jam.

Yap

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *