Si Murid Penyuka Puisi Cinta

No Comment Yet

Seminggu yang lalu, saya menyuruh murid-murid saya untuk menulis puisi. Temanya sengaja saya beri kebebasan sebebas-bebasnya. Sebab bila saya tentukan temanya, nanti bisa-bisa saya dituduh sebagai guru yang membatasi daya kreatif muridnya. Kulo bisa modyarrrr….

 

Murid-murid saya yang setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) ini, nyatanya sebagian besar menulis puisi yang bertemakan cinta: cinta terhadap sahabat, ibu, guru, lawan jenis, serta tumbuhan dan binatang. Sedikit sekali dari mereka yang menulis tentang kritik ekonomi, politik, dan sosial, padahal mereka adalah murid-murid jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Saya pun tidak kaget, wong di sekolah tidak diajari untuk mengkritisi keadaan situasi ekonomi, sosial, dan politik kok. Murid-murid saya ini lebih banyak diajari bagaimana menjadi penghafal yang baik, bukan penganalisis yang kritis. Tujuannya agar nanti ketika ujian bisa menjawab soal pilihan ganda (PG). Fyi, soal PG merupakan soal yang sangat membatasi daya kreatif dan menumpulkan otak untuk berpikir kritis. Gak percaya? Baiklah, lain waktu akan saya bikin artikelnya.

Tapi saya bersyukur terhadap murid-murid saya ini. Karena bagi saya, daripada menulis tentang seputar kebencian terhadap agama-suku-ras lain, lebih baik menulis tentang mencintai ibu, guru, sahabat, lawan jenis, tumbuhan dan binatang. Ini lebih meneduhkan dan menyejukkan. Tidak hanya itu, murid-murid saya secara tidak langsung juga menjalankan perintah Tuhan: yakni mengasihi dan mencintai makhluk-makhluk-Nya. Suatu hal yang saat ini cukup langka dijumpai.

Selain menyoroti sisi temanya, saya juga bersyukur karena tema tersebut ditulis dalam bentuk puisi. Puisi merupakan bagian dari seni. Nietszhe, Filsuf berkebangsaan Jerman mengatakan, seni merupakan sebagai media untuk mengungkap sekelebat kebenaran terdalam. Sementara filsuf lainnya, Schelling, mengungkapkan bahwa seni mampu menampilkan kebenaran lebih daripada filsafat: imajinasi lebih unggul dibanding intelek atau akal (Bambang Sugiharto:2014).

Sampai di sini saya bisa menyimpulkan, bahwa murid-murid saya sedang mencari sekelebat kebenaran terdalam. Dan mereka percaya, “kebenaran adalah cinta: cinta terhadap ibu, guru, sahabat, lawan jenis, binatang, dan tumbuhan”.

Bertolak belakang dengan itu, saat ini masyarakat Indonesia lebih banyak disuguhi tema-tema kekejaman dan kebencian. Tanpa ampun tema-tema tersebut disebarluaskan melalui sebagian media cetak dan elektronik. Sebagian sinetron, acara-acara TV, serta pemberitaan, tak henti-hentinya menyajikan pesan kekejaman dan kebencian. Di sinetron kita menyaksikan sekolompok anak muda, yang terpecah menjadi genk-genk, bersaing dengan cara-cara kekejaman: manusia berkelahi dengan binatang (harimau, ular, serta elang), seorang anak membentak ibunya hanya karena tidak dikasih uang jajan.

Tidak ada gejala cinta pada itu semua. Kalau pun ada, cinta ditampilkan hanya sebatas ilusi belaka. Secara kasat mata ada cinta, tapi sebenarnya bukan cinta, yang ada hanyalah kepentingan ‘ekonomis’.

Dalam pemberitaan media-media, murid-murid saya seakan “dipaksa” menyaksikan para elit politik saling menghina, menghujat, hingga saling menjatuhkan, dengan cara keji: seperti memfitnah. Tidak hanya itu, berita-berita infoteiment pun tidak kalah menggelisahkan kita, para guru. Ada sesame artis yang saling hina satu sama lain. Tak jarang, kata-kata bernuansa kebencian terlontar dengan begitu gampangnya. Ada juga “ustadz seleb”, yang melalui dakwah-dakwahnya di televisi, mengajarkan jemaahnya untuk mudah mengucapkan kata “kafir” terhadap agama lain. Mereka seakan lupa, bahwa tingkahlaku mereka banyak disaksikan oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia.

Dengan demikian, sebagian pemberitaan, acara-acara TV dan sinetron yang benuansa kebencian dan kekejaman, dikhawatirkan bisa menjadi “makanan racun” bagi murid-murid saya. Bahkan jika tidak diantisipasi, nantinya murid saya akan menjalani tugas setan. Dan saya pun khawatir mereka nantinya lebih suka menghina ketimbang membina, lebih suka berkelahi ketimbang berdiskusi. Mengerikannn….

Namun, yang lebih menggelisahkan ialah bagaimana cinta dikemas oleh pemberitaan, acara-acara TV dan sinetron. Terjadi pendangkalan terhadap makna cinta. Cintanya menjadi sempit. Mencintai satu pihak, tapi membenci pihak lain. Membenci pihak lain, karena mencintai pihak lainnya. Membenci Ahok karena mencintai Front Pembela Islam. Membenci metro TV karena mencintai TV One. Membenci Mama Dede karena mencintai Mia Khalifa,(lho?). Dan masih banyak lagi yang polanya seperti itu. Silahkan kalian tambahkan sendiri di kolom komentar blog ini.

Tidak ada keuniversalan cinta. Tidak ada niatan untuk mencintai semua: Ahok-FPI, metroTv-TvOne (yang ini sepertinya mulai berdamai sejak pimpinan partai golkar bertemu dengan pimpinan partai nasdem), Jokowi-SBY, dan seterusnya. Saya pun jadi bertanya: mengapa cinta justru menjadi dasar untuk membenci? Bukankah benci dan cinta dua hal yang bertolak belakang? Bukankah cinta datangnya dari hati, sementara benci datangnya dari hawa nafsu?

Saya mencurigai mereka yang mendasarkan cinta untuk melakukan kebencian, memiliki cinta yang lemah – bila tidak ingin disebut tak punya cinta. Cintanya kalah oleh hawa nafsu kebencian. Hawa nafsu kebencian lebih mendominasi jiwanya, ketimbang cintanya. Mereka pun tak berusaha menguatkan hasrat cintanya. Ah, mungkin saja mereka disibukkan dengan bekerja, makan, tidur, bermain, dan kesibukan lainnya. Waktunya terkuras untuk melakukan kesibukan-kesibukan itu semua. Saking sibuknya, “merenung” berpikir bagaimana untuk menguatkan hasrat cinta menjadi tak ada waktu.

Alangkah baiknya bila luangkan sedikit waktu membuka-buka kitab suci, tafsir-tafsir Qur’an milik Quraish Shihab, tulisan-tulisan Mahatma Gandhi dan Martin Luther, syair-syair Jalaluddin Rumi dan Kahlil Gibran, artikel-artikel Eric Fromm dan Muhammad Iqbal, dan sesamudera keilmuan lainnya. Dari sana kita akan mendapati tambahan hasrat cinta agar lebih kuat, serta mampu mengalahkan hawa nafsu kebencian.

Dari sana pula kita akan menyadari betapa bodohnya kita. Kita tersadar, ternyata yang kita cintai hanyalah manusia: makhluk nisbi yang tak bisa luput dari dosa. Kita mencintai habib, ulama, dan politikus. Hingga lambat laun, habib, ulama, dan politikus, mereka sangka sebagai “Tuhannya”, menggeser Tuhan Semesta Alam.

Sebab  bila kita mencintai Tuhan Semesta Alam, secara otomatis kita akan mencintai makahluk-makhluk-Nya. Kita akan mencintai segala apa yang diciptakan Tuhan Maha Kuasa, termasuk setan sekalipun.

Mengapa kita tidak belajar dari setan, makhluk yang dihinakan oleh manusia ini, justru sangat mencintai Tuhan Maha Agung. Dengan rela dan ikhlas, setan menerima perintah Tuhan untuk menggoda makhluk-Nya untuk melakukan kebencian dan kekejaman. Setan patuh, tidak membantah. Setan sangat menjiwai dan paham betul tugasnya di dunia: menggoda.

Berbeda dengan manusia. Tugas manusia adalah kebalikan dari setan: yakni menyebarkan cinta dan kedamaian kepada seluruh makhluk-Nya. Tapi saat ini justru sebagian besar manusia tidak memahami tugasnya tersebut. Bahkan, karena tidak pahamnya, tugas setan pun diambil.

Jadi tolong apresiasi murid saya yang mempunya sifat mencintai. Politikus, ulama, ekonom, budayawan, dan apapun profesinya, yang mentasbihkan dirinya masuk ke dalam golongan yang mengandalkan kebencian dan kekejaman, jangan mencemarkan murid-murid saya, yang sudah saya anggap sebagai sahabat ini. Sekali lagi: “Jangan beri murid-murid saya “asupan racun” berupa kebencian dan kekejaman.”

Saya ucapkan termia kasih untuk politikus, ulama, ekonom, budayawan, dan apapun profesinya, yang telah menebar nilai-nilai cinta. Hal itu harus dilestarikan untuk kehidupan yang lebih damai. Semoga tetap begitu. Amin..


Yogo Harsaid

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *