Mendambakan Kampus yang Aman Tanpa Tindak Kriminal

No Comment Yet

Peristiwa penodongan yang terjadi pada mahasiswa Fakultas Teknik di Pendopo Teknik di tanggal 9 Oktober 2016 menandakan bahwa kampus UNJ sekarang darurat dengan tindak kriminal. Penodongan terjadi pada saat di lingkungan kampus tidak ada kegiatan kuliah yang reguler, tepatnya di hari Minggu. Penodongan berawal dari mahasiswa Fakultas Teknik tersebut yang sedang mengerjakan tugas kuliah. Tiba-tiba, seseorang menodongkan senjata tajam kepadanya dan menyuruh mahasiswa tersebut menyerahkan handphone miliknya. Korban sempat mengejar pelaku penodongan tersebut, namun korban kehilangan jejak pelaku tersebut.

Kasus yang diceritakan di atas hanyalah salah satu dari banyaknya kasus pencurian yang terjadi di lingkungan kampus UNJ. Barang-barang yang dicuri seperti handphone, helm, laptop, bahkan motor menjadi barang-barang yang lumrah untuk dicuri. Kasus-kasus pencurian tersebut membuat citra UNJ tercoreng menjadi kampus yang tidak aman dan ramah bagi mahasiswa.

Pihak kampus sebenarnya sudah mencari pelaku dari penodongan terhadap mahasiswa Fakultas Teknik tersebut. Salah satu anggota satpam di UNJ mengenali wajah pelaku tersebut yang ternyata adalah pegawai cleaning service di UNJ. Pihak keamanan juga mendampingi korban ke Polsek terdekat untuk dimintai keterangan atas penodongan tersebut. Tetapi kasus penodongan ini dilepaskan saja oleh korban, tidak ingin kasus ini diusut secara tuntas dan mendalam.

Upaya yang dilakukan oleh kampus untuk mencegah tindak kriminal ini sudah dimaksimalkan oleh pihak kampus. Penambahan personil keamanan serta pemasangan cctv di tempat-tempat yang rawan tindak kriminal menjadi wacana yang diangkat oleh Rektorat ketika dialog civitas academica UNJ. “Saya telah menyuruh Wakil Rektor II untuk memetakan kebutuhan akan satuan pengamanan di kampus,” demikian salah satu kutipan dari perkataan Rektor UNJ, Djaali, saat acara dialog civitas academica UNJ di Aula Latief Hendraningrat. Namun, realisasi dari wacana yang diangkat oleh Rektorat bertolak belakang dengan kejadian di lapangan, dengan kurangnya personil keamanan di UNJ serta kurangnya kebutuhan akan pengawasan dengan cctv di lingkungan kampus.

Aksi yang dilakukan oleh pihak keamanan UNJ dalam menangani kasus penodongan tersebut yang dilakukan secara cepat dan tanggap merupakan usaha untuk membuat pelaku-pelaku tindak kriminal tersebut menjadi jera akan tindakan yang dilakukan oleh mereka. Namun, banyak kasus pencurian yang dibiarkan menguap begitu saja. Dengan kata lain, banyak korban yang tidak ingin melanjutkan pengusutan atas kasus pencurian yang dialami oleh dirinya.

Seperti kasus yang dialami oleh mahasiswa FIS yang meninggalkan barang-barang berharganya di Mushalla kemudian barang-barang tersebut dicuri oleh orang. Namun korban dari FIS ini tidak ingin melibatkan pihak kampus untuk melakukan pengusutan terhadap kasus yang dialaminya, malah korban ini menganggap hal yang dilakukan untuk mengusut kasusnya sia-sia karena barang-barang yang dicuri tersebut tidak bisa kembali kepada dirinya lagi.

Seharusnya, mahasiswa yang mengalami pencurian dan penodongan harus melapor kepada pihak keamanan, jika perlu melapor kepada kepolisian untuk mengusut tuntas kasusnya. Tetapi, pengusutan kasus ini harus diiringi dengan bukti-bukti yang mendukung adanya tindak kriminal. Pihak kampus juga merealisasikan wacana untuk menambah personil keamanan dan pengawasan dengan menggunakan teknologi agar tindak kriminal yang terjadi di UNJ ini berkurang. Momentum tindak kriminal terjadi ketika korban lengah, akibatnya korban menjadi sasaran empuk bagi pelaku tindak kriminal tersebut. Jangan lengah, karena lengah merupakan kesempatan pelaku untuk melakukan tindak kriminal.


Muhammad Rizky Suryana

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *