Tantangan bagi Media Daring

No Comment Yet

Di era digital ini, banyak media beralih dari cetak ke daring. Peralihan ini beresiko mudahnya penyebaran hoax.

 

Rabu (10/5), Didaktika mengundang Elvan Dany Sutrisno, wakil pemimpin redaksi Detikcom, sebagai pembicara di kegiatan Latihan Dasar Pers Mahasiswa (LDPM). Sama seperti kemarin, acara ini dilaksanakan di Gedung Sertifikasi Guru lantai sembilan. Topik yang diusung pada sesi kedua yang dimulai pukul satu siang ini membahas tentang manajemen web.

Di era digital ini, hampir semua orang memiliki gadget atau gawai, seperti telepon pintar. Banyak di antara mereka yang membaca berita melalui gawai. Maka dari itu, Elvan memberi saran kepada pers mahasiswa (persma) untuk beralih dari cetak ke digital. “Lebih baik persma keluar dari pattern sekarang (cetak),” ujar Elvan.

Sebelum beralih ke digital, ada hal yang perlu diperhatikan menurut Elvan, yakni eksistensi dari suatu media. Eksistensi media akan diakui jika dikenal pembaca.

Strategi efektif bagi persma agar dikenal pembaca bermula dari produk cetak. “Melalui cetak, kalian (persma) menunjukkan pada pembaca bahwa kalian ada,” tambahnya. Setelah pembaca mengenal media, barulah beralih ke daring.

Berdasarkan penjelasan Elvan, media daring bergaya running news. Maksudnya ialah satu tema berita yang terdiri dari beberapa berita dan terus diperbarui hingga berita tersebut tuntas. Ini ditujukan untuk memberikan informasi aktual kepada pembaca.

Kendati begitu, Elvan pun menyadari peralihan tersebut membawa resiko yang besar. Salah satunya yakni mudahnya penyebaran hoax atau berita bohong.

Media daring dituntut untuk memproduksi berita dengan cepat. Waktu untuk memverifikasi pun singkat, baik langsung maupun tidak langsung. Ada kemungkinan berita yang belum tuntas diverifikasi sudah dipublikasikan. Ini akan berakibat fatal jika informasi yang didapat di lapangan tidak benar. “Ini merupakan tantangan bagi jurnalis media daring,” tegasnya.

Menurutnya, jurnalis seharusnya memberitakan fakta yang benar-benar terjadi kepada pembaca. Dalam prosesnya pun jurnalis tidak boleh mengabaikan undang-undang pers, pedoman media siber, dan kode etik jurnalistik.

Berita yang dicurigai sebagai berita bohong wajib diklarifikasi. Elvan menjelaskan ada tiga tahapan dalam mengklarifkasi berita bohong. Pertama, memahami isu apa yang sedang tersebar. Kedua, melakukan investigasi atau terjun ke lapangan. Ketiga, mengambil kesimpulan apakah berita yang dimaksud berita bohong atau bukan.

 

 

Lutfia Harizuandini

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *