Dasar-Dasar Jurnalistik dan Eksistensi Jurnalisme

No Comment Yet

Selasa (22/05) Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ERA FM, Sigma TV, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Didaktika dan Keluarga Mahasiswa Pencinta Fotografi (KMPF) bersinergi mengadakan acara Pekan Jurnalistik (Pekjur). Acara ini dilaksanakan di Gedung Sertifikasi Guru Lantai 9 Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Dalam acara ini, panitia menghadirkan Sasmito Madrim, Ketua Federasi Serikat Pekerja Media Independen, untuk membahas dasar-dasar jurnalistik. Topik yang dibawakan pada sesi kedua ini dimulai pukul setengah satu siang.

Perkembangan Jurnalistik

Sasmito memulai dengan pertanyaan: apa itu jurnalistik? Selanjutnya, ia menjelaskan jurnalistik berasal dari kata “jurnal” yang berarti catatan harian. Ia mengatakan ada beberapa tahap yang harus dilalui sebelum membuat karya jurnalistik. “Perencanaan awal, terjun ke lapangan, menulis hasil observasi lapangan, dan menyajikannya ke khalayak ramai,” paparnya. Sasmito juga menambahkan ada tiga ruang lingkup jurnalistik yaitu, straight news, feature, serta opini yang meliputi editorial, kolom, dan catatan pinggir.

Kemudian ia memaparkan perkembangan jurnalistik. Menurutnya, jurnalistik pertama kali muncul pada 131 SM di Romawi. Saat itu banyak ditemukan papan pengumuman. Setelah ditemukan mesin cetak di Jerman abad-17, penyebaran karya jurnalistik semakin massif. Hingga saat ini, masa di mana internet merajalela, jurnalistik semakin eksis dan bisa menjangkau seluruh dunia.

Sasmito mengatakan, perkembangan jurnalistik di Indonesia ditandai ketika ada surat kabar Belanda di Indonesia abad ke-17. Lalu pada 1907, Tirto Adhi Soerjo membuat surat kabar  Medan Prijaji. Hingga saat ini, di era reformasi, jurnalistik masih berkembang di Indonesia. “Buktinya Dewan Pers mencatat saat ini ada 47 ribu media di Indonesia, 2 ribu media cetak, 674 radio, 523 Televisi, dan sisanya media daring,” tuturnya.

Jika melihat konteks media di kalangan mahasiswa pada saat ini. Menurutnya, mahasiswa kini dekat dengan karya-karya jurnalistik. Karena, saat ini karya jurnalistik tidak hanya berupa tulisan. Akan tetapi, bisa berupa video, infografis, dan film pendek. “Tulisan tetap penting, tetapi jika kita bisa membuat sesuatu yang lebih menarik mengapa tidak? Yang penting maknanya sama-sama bisa tersalurkan,” tutur Sasmito.

Dasar-Dasar Jurnalistik

Setelah memaparkan perkembangan jurnalistik, Sasmito berpesan agar jurnalis memperhatikan kode etik jurnalistik. Kode etik tersebut mengacu pada apa yang telah dirumuskan oleh Bill Kovach dan Tom Rosentiels yaitu, sembilan elemen jurnalistik yang terdiri atas :

  1. Jurnalisme itu mengejar kebenaran,
  2. Komitmen wartawan kepada masyarakat dan kepentingan publik,
  3. Jurnalisme itu disiplin menjalankan verifikasi,
  4. Independen terhadap sumber berita,
  5. Harus menjadi pemantau kekuasaan,
  6. Menyediakan Forum bagi masyarakat,
  7. Berusaha keras membuat hal penting menjadi menarik dan relevan,
  8. Menjaga agar berita proporsional dan komprehensip dan,
  9. Mengutamakan hati nurani.

Dari sembilan elemen tersebut, yang paling Sasmito tekankan adalah independensi jurnalis. Ia mengatakan hal tesebut sulit karena saat ini kebanyakan perusahaan media berpihak kepada partai politik atau kepentingan praktis. “Contoh saja TV One yang milik Abu Rizal Baqrie. Lalu Metro TV dimiliki oleh Surya Paloh, Ketua Partai Nasdem, serta MNC grup yang dimiliki oleh Ketua Partai Perindo, Hary Tanoe,” ujar Sasmito.

Maka itu, selain mematuhi sembilan elemen jurnalisme, Sasmito juga menyarankan agar jurnalis berserikat. Dengan begitu, jurnalis bisa mempertahankan indepedensi dengan memberikan batasan-batasan pada pengusaha media. “Jurnalisme akan tetap sehat,” tutup Sasmito.

 

Penulis: Uly Mega Septiani

Editor: Yulia Adiningsih dan Lutfia Harizuandini

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *