Verifikasi Data dengan Tahapan Reportase

No Comment Yet

Selasa (22/5), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak di bidang jurnalistik berkolaborasi dalam penyelenggaraan acara Pekan Jurnalistik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) 2018. UKM tersebut adalah ERA FM, Didaktika, Sigma TV, dan Kelompok Mahasiswa Peminat Fotografi (KMPF).

Acara tersebut berlangsung di Lantai 9 Gedung Sertifikasi Guru UNJ. Didaktika diberikan kesempatan dalam Pekan Jurnalistik dengan mengadakan materi tentang Teknik Reportase, yang dibawakan oleh Latifah dari Berakar Komunikasi (berakar.com) serta dimoderatori oleh reporter Didaktika, Annisa Nurul.

Latifah membuka acara dengan penjelasan singkat mengenai alur reportase. Ada beberapa hal yang menyertai alur reportase menurutnya. Pertama adalah menentukan tema dalam pemberitaan. “Sebelum liputan kita temukan dulu yang menarik dan bisa dijadikan berita,”ujarnya.

Latifah melanjutkan pembicaraan mengenai alur reportase ke tahap selanjutnya yaitu rapat redaksi. Menurutnya, setiap usulan tema yang dibawakan oleh reporter digali melalui rapat redaksi. Alhasil, reporter mendapatkan sudut pandang (angle) dan sumber-sumber informasi yang dibutuhkan dalam pemberitaannya. Latifah menambahkan bahwa dalam rapat redaksi, diperhatikan juga analisis sosial terhadap tema tersebut.

Kemudian, dalam materi presentasinya Latifah membagi sumber-sumber informasi yang didapatkan melalui tiga lapisan atau tahap peliputan. Lapisan pertama didapatkan dari fakta-fakta permukaan, seperti siaran pers, konferensi pers, rekaman pidato, dan sebagainya.

Latifah memberikan contoh ringkas tentang lapisan pertama ini. Semasa ia menjadi reporter Didaktika, ia meliput usaha Dja’ali untuk menyampaikan aspirasi kepada Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) atas pemberhentiannya oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

“Saat itu, saya mendengar curahan hati Dja’ali kepada DPR tentang pemberitaan buruknya di media. Ini bisa disebut lapisan pertama, karena narasumber untuk berita saya menyampaikan secara langsung permasalahannya,” ucap Latifah.

Selanjutnya, lapisan kedua yang dimaksudkan oleh Latifah adalah dengan cara observasi, riset data, dan wawancara narasumber sekunder. Di lapisan ini, reportase sudah memasuki tahap verifikasi atas pernyataan yang disampaikan narasumber di lapisan pertama.

”Sesudah dapat informasi dari rektorat, verifikasi juga ke staf-nya atau biro-biro di kampus,” ujarnya. Latifah menambahkan, pernyataan mahasiswa juga bisa dimasukkan ke dalam lapisan kedua.

Latifah juga menyatakan kendala yang terjadi ketika memasuki lapisan kedua. “Kadang, ketika melakukan liputan di kampus, narasumber di lapisan kedua-lah yang susah untuk ditemui. Meskipun sudah mengirim surat wawancara ke mereka,” tegasnya. Namun, ia menambahkan bahwa kesulitan tersebut bisa diatasi dengan metode doorstop (menunggu narasumber keluar dari kantor atau tempat acara yang dihadirinya untuk diwawancarai).

Lapisan terakhir adalah penafsiran dan analisis oleh reporter. Latifah menuturkan bahwa reporter dituntut untuk bisa menjelaskan penyebab dan konsekuensi dari beritanya. Dengan kata lain, reporter bisa menjawab keingintahuan pembaca terhadap suatu peristiwa.

 

Penulis: Muhammad Rizky Suryana

Editor: Faisal Bachri

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *