Bumi Manusia dalam Pergerakan Sosial Orde Baru

No Comment Yet

Bumi Manusia adalah karya sastra yang berusia 38 tahun dari hasil tangan sosok sastra Indonesia, Pramudya Ananta Toer. Kemudian film yang mengambil sumber yang sama disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan antek-anteknya, membuat karya ini menjadi topik yang dibicarakan orang-orang. Terlepas dari segala komentar miring dari filmnya, muncul pertanyaan di dalam pikiran kira menyoal buku dan penulis dibalik karya tersebut.

Sebagai buku pertama dalam rentetan tetralogi yang mencakup Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca; Bumi Manusia membawa pembacanya ke sudut pandang Minke, seorang anak bangsawan Jawa di jaman nusantara dalam belengu penjajahan Belanda,. Sebagai putra bangsawan Minke berkesempatan mendapat pendidikan yang mumpuni bersama dengan keturunan Belanda totok dan bangsawan lainnya, berbeda pada masyarakat pribumi waktu itu.

Pada awal perjalanannya, Minke tidak langsung menjadi pahlawan yang membawa dunia menuju kebaikan, ia tidak menyadari keadaan orang-orang yang hidup di masa Hindia Belanda. Namun, cerita selanjutnya membawanya bertemu dengan karakter lain, Nyai Ontosoroh, yang digambarkan penulisnya sebagai wanita cerdas meski statusnya sebagai nyai yang kerap kali memiliki stigma pemuas hasrat biologis orang Eropa, dan anak gadisnya Annalies Mellema yang juga mencerminkan ibunya. Belajar dari pertemuan dan pertukaran pikiran dengan tokoh-tokoh lainnya sepanjang perjalananya, terbukalah pikiran Minke. Kemudian pada akhir petualangannya dalam buku pertama, tragedi menimpanya. Kemudianlah hal ini yang menjadikannya sosok kekuatan intektual dalam perlawanan terhadap kekuatan kolonial.

Minke tidak lain hanyalah ciptaan imajinasi Pramudya. Meski begitu, Minke diciptakan dari tokoh nyata, Tirto Adi Suryo, salah satu jurnalis awal di Indonesia. Banyak dari tulisannya yang dimuat dalam Medan Prijaji ,bertujuan untuk mengkritik tajam kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan hidup rakyat kecil. Tirto sendiri merupakan figur penting dalam pergerakan nasional, bahkan namanya menjadi salah satu pahlawan nasional. Tanpa satu pun peluru yang merebut hidup orang lain, ia melakukan perlawanan menggunakan kata-kata dan inteketualitas.

 

Melawan penguasaan terhadap ingatan kolektif

Bumi Manusia pertama kali terbit di Indonesia pada 1980 setahun setelah penulis dilepaskan dari Pulau Buru. Tulisan-tulisannya yang jadi bahan bacaan bagi aktivis-aktivis dan mahasiswa.

Masa rezim Suharto menguasai Indoenesia sejak tahun 1966 setelah kejadian 1965. Suharto sebagai aktor yang membunuh kekuatan revolusioner dari Sukarno menggunakan kekuatan militer juga dibantu dengan dorongan mahasiswa dan figur intelektual 1966 yang memanfaatkan keresahan di bawah era demokrasi terpimpin Sukarno.

Max Lane, peneliti Indonesia asal Australia, menggambarkan kekuasaan Suharto sebagai masa “Kontra Revolusioner” dengan hilangnya kekuatan kiri, kemudian dilanjutkan dengan hegemoni terhadap ingatan kolektif yang melakukan pengiblisan terhadap gerakan-gerakan kiri. Salah satu bentuk nyata dari upaya ini adalah pemutaran film pemberontakan G30S yang diwajibkan bagi siswa selama masa orde baru tiap tahunnya, kemudian bahan ajar sejarah resmi di sekolah-sekolah hanya dengan perspektif orde baru (orba).

Dalam bukunya, Unfinished Nation, Lane menggambarkan situasi nasional di bawah rezim orba dan upaya-upaya melakukan counter-hegemoni. Dalam bagian ke-4, berjudul “ingatan”, Lane menghubungkan keadaan tahun 1979 dengan kembalinya gagasan yang beredar sebelum tahun 1965.

Revolusi Iran yang pecah pada tahun 1978 sampai tahun 1979 adalah salah satu penyebab krisis energi yang menyebabkan embargo minyak terhadap barat dan menyebabkan meningkatnya harga minyak Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) yaitu, organisasi yang mewadahi negara-negara eksportir minyak dunia. Bagi Indonesia, yakni meningkatnya pemasukan dari sektor itu.

Program-program politik orde baru bisa menguat dengan adanya keuntungan tambahan dalam bidang ekonomi : uang minyak (petrodollar). Harga minyak secara dramatis meningkat pada 1973. Dana ekstra digunakan untuk pembangunan infrastruktur, untuk subsidi kredit murah dan usaha kecil dan menengah (hlm. 152)

Atmosfir politik indonesia yang lebih tenang, dan politik masa mengambang orba mendorong pemerintah untuk melepas tahanan politik Pulau Buru. Dengan harapan bahwa tahanan politik tersebut tidak akan ikut serta dalam aksi politik ditambah karena disorientasi para aktivis politik tersebut.

Namun, bagi Max Lane, kebijakan tersebut yang menjadi langkah awal perlawanan terhadap hegemoni ingatan masyarakat secara kolektif. Tiga orang mantan tahanan pulau buru Hasyim Rachman, Joesoef Isak, dan Pramoedya Ananta Toer kemudian membentuk Hastra Mitra, dan pertama kali menerbitkan karya Pram, yang ia tulis selama masa penjaranya di Pulau Buru.

Karya Pram yang menyajikan sejarah memiliki peran signifikan untuk membangkitkan ingatan dalam melihat sejarah. Aktivis yang terlibat dalam pergerakan dapat belajar dari karakter Tirto yang terlibat dalam sejarah Indonesia sebagai penggerak, bagaimana cara melakukan pemogokan, penyebaran sampai mobilisasi massa.

Perkembangan kesadaran terhadap ingatan ini juga berperan dalam pembangunan wacana publik yang melek akan sejarah.

Lalu munculnya kelompok inteleketual yang salah satunya memiliki peran signigikan adalah Infight. Ia memprotes kebijakan pemerintah untuk melakukan eksekusi mati kepada tahanan PKI. Anggota Infight juga turut ikut serta dalam upaya mobilisasi massa terbesar di jaman orde baru pada 1989 – 1990, yang melibatkan lebih dari 10.000 petani dalam rangka menolak pembangunan komersil  yang merugikan mereka.

Selain itu pula, Yayasan Maju Bersama (YMB) yang merupakan kumpulan mahasiswa dengan ketertarikan terhadap sejarah pergerakan sebelum kemerdekaan. Dilengkapi dengan hasil tulisan Pram, mereka juga menyelenggarakan pendidikan Marxis disertai kajian sejarah dengan tujuan membangkitkan wacanayang sempat terkubur sejak kejadian 1965.

Jaringan Kerja Budaya (JKB) yang merupakan bentukan beberapa anggota YMB, menjadi titik utama perkembangan intektual kiri dalam tatanan akademis. Kelompok ini pula yang menjadi cikal bakal pembentukan Partai Rakyat Demoktratis (PRD).

Periode 1990-an adalah masa radikalisasi terbentuk lalu tertuang dalam rantaian protes aksi massa yang dibawahi oleh kelompok Persatuan Rakyat Demokratis (PRD) yang kemudian menjadi Partai Rakyat Demokratis.

Dalam Unfinished Nation, Max Lane memasukan contoh aksi massa besar yang teroganisir. Mahasiswa beserta buruh pabrik pakaian Great River Industries. 23 tahun lalu pada 15 Juli 1995, aksi dimulai pagi hari dengan kedatangan buruh dan mahasiswa di pabrik Great River, bogor. Aksi damai ini diganggu dengan kehadiran tentara yang melakukan tindak kekerasan kepada peserta aksi dan pengangkapan terhadap peserta aksi terjadi.

 

Hegemoni ingatan kolektif

Buku-buku Pramudya hadir sebagai alternatif untuk melihat sejarah, bahkan mampu menghadirkan sejarah tandingan yang kemudian mampu menyalakan semangat perjuangan. Pembaca buku boleh bercermin pada sosok Tirto Adi Suryo yang menjadi tonggak perjuangan bangsa.

Seperti yang dijabarkan oleh Max Lane, kehadiran karya Pram sebagai bentuk perlawanan terhadap monopoli ingatan yang membentuk keadaan sosial. Lalu, terbentuklah wujud nyata cinta orang-orang yang sadar keadaan lalu mencoba memperbaiki keadaan melalui pertentangan melawan ketidakadilan.

Hegemoni budaya yang terjadi selama masa kekuasaan orba bisa dilawan dengan upaya membangun usaha-usaha membentuk counter hegemoni. Lalu yang menjadi penggerak perubahan tersebut adalah keberadaan intektual-inteketual.

Namun, pada akhirnya gerakan kolektif menuju perubahan sebaik apapun, bahkan seutopis apapun tidak lebih dari tarik-menarik kekuatan antara dua kubu besar yang secara historis memiliki kepentingan berbeda tanpa ada hubungannya dengan penilaian moral. Lebih dari adu argumen rasional antar masing-masing kekuatan tersebut hanya ada hasrat manusia yang mudah berubah karena diberi kekuasaan.

Maka ingatlah: “Terpelajar itu sudah harus adil semenjak dalam pikiran”.

 

 

Penulis: Faisal Bahri

Editor: Uly Mega

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *