Sepi di Alam, Burung Kicau Ramai di Kandang

No Comment Yet

Komunitas Pengamat Burung Nycticorax Universitas Negeri Jakarta (KPB Nycticorax UNJ) menggelar Seminar Burung, Sabtu (22/12). Seminar yang dilangsungkan di Aula Maftuchah Yusuf tersebut, mengusung tema “Nyanyian Sunyi Burung Kicau di Hutan: Peraturan Menteri dan Konservasi“.

Hendry Pramono, salah satu pemateri, mengawali materinya dengan memaparkan dasar tentang burung kicau (passeriformes). Mulai dari ciri-cirinya, klasifikasinya, sampai anatominya yang unik. “Burung kicau memiliki syrinx yang mirip seperti pita suara namun mampu menciptakan suara atau kicauan yang cantik dan elok,” ujar pria yang akrab disapa Mono tersebut. Namun, Mono meyayangkan dalam kurun waktu enam tahun terakhir, burung kicau kian marak diperjualbelikan. Selain untuk dijadikan koleksi, juga untuk dilombakan kicauannya agar mengangkat popularitas si pemilik dan mendapat rupiah.

Maraknya perdagangan burung kicau, masih menurut Mono, dilatarbelakangi oleh budaya memelihara burung yang kebablasan. Selain itu, minimnya kesadaran masyarakat terhadap recovery satwa, dan lemahnya implementasi penegakan hukum menyebabkan kelangkaan burung kicau di alam. “Di warung-warung, di pasar, kalau menurut saya sih gampang, saya bisa temukan itu (burung-burung), tapi tidak di alam,” ujarnya.

Data dari Wildlife Conservation Society (WCS) mencatat jumlah penyelundupan, perburuan, dan online trading burung kicau di Indonesia  ada 2.025 jenis burung kicau berhasil ditangkap oleh petugas pada tahun 2016. Lalu meningkat menjadi 10.150 jenis pada tahun 2017, dan 6.993 jenis sampai pada pertengahan tahun 2018, baik dalam kondisi masih hidup maupun sudah mati. Selain itu, kompilasi data dari aplikasi Burungnesia menyatakan, bahwa burung cucak rawa yang ditemukan di alam hanya ada 5 ekor dan burung murai batu 12 ekor.

Data tersebut telah diberikan kepada pemerintah sebagai bentuk penolakan perubahan PP No. 20/2018 ke PP No. 92/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.  Karena, dalam peraturan yang baru, mengeluarkan burung kucica hutan, cucak rawa, dan jalak suren dari daftar Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL).

Selain itu, perubahan PP tersebut bertentangan dengan kriteria satwa dilindungi menurut PP No. 7/1999 pasal 5 ayat 1 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa, salah satunya adalah satwa tersebut mempunyai populasi yang kecil.

Mono menambahkan, perubahan PP tersebut dijadikan pembenaran oleh para pegiat burung, untuk tetap menangkarkan burung kicau dengan alasan ‘menyelamatkan’ satwa yang hampir punah.

Penangkaran hanya digunakan untuk mengumpulkan satwa-satwa yang dianggap layak jual dan diklaim bahwa satwa tersebut adalah hasil dari penangkaran. “Burung kicau belum punah. Tetapi masih ada di kandang-kandang para kicau mania (pegiat burung),” ujar Mono menambahkan.

Mono pun menegaskan, bahwa sudah menjadi tanggung jawab bagi generasi mendatang untuk ikut berpartisipasi dalam pelestarian tumbuhan dan satwa liar di lingkungan sekitar. “Tidak hanya pemerintah atau bagian kehutanan saja, tetapi kita semua diberi amanah untuk menjaganya,” tegasnya.

Seminar yang rutin diadakan setiap tahun ini menghadirkan juga Paskal Sukandar, ornitologis (ahli ilmu burung) dan pendiri KPB Nycticorax UNJ, serta Desi Ayu Triana birdwatcher (pengamat burung) dan konservasi TSL sebagai pembicara.//Anisa Putri Septiana

 

Editor: Muhamad Muhtar

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *