Pengaturan Skor dalam Sepak Bola Indonesia

No Comment Yet

Isu pengaturan skor dalam sepak bola Indonesia saat ini merebak secara luas. Acara Mata Najwa bertajuk “PSSI Bisa Apa?” pada 28 November 2018 mengangkat isu tersebut. Terbukti, kesaksian manajer Madura FC, Januar Herwanto yang mengaku pernah ditawari melakukan pengaturan skor. Ia menyebutkan anggota Komite Khusus PSSI, Hidayat sebagai orang yang menawarinya.[1]

Pada babak penyisihan Liga 2, Madura FC diminta mengalah saat bermain melawan PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Namun, Januar menolak ajakan tersebut. Dalam pertandingan yang digelar pada tanggal 2 Mei 2018 tersebut, Madura FC pun akhirnya menang dengan skor 1-2.

Madura FC beberapa kali mendapatkan tawaran seperti itu. Namun, tawaran untuk melakukan pengaturan skor datang saat berhadapan dengan PSS Sleman serta melibatkan anggota PSSI. Januar menyampaikan kekecewaannya ke publik setelah digoda untuk melakukan tindakan curang itu.

Klub lainnya, PS Ngada yang bermain di Liga 3 juga digoda oleh runner supaya bisa memuluskan langkah ke babak selanjutnya. Kesaksian dari Kletus Gabhe, pelatih PS Ngada bahwa klubnya dimintai mahar senilai Rp200 juta supaya lolos ke fase 16 besar babak nasional. Ia menyebutkan Bambang Suryo, manajer klub Persekam Metro FC sebagai orang yang mencoba menawarinya untuk melakukan pengaturan skor.[2]

Tidak hanya PS Ngada saja, OTP37 FC Mamuju dan Persibara Banjarnegara juga ditawari untuk melakukan tindakan serupa.

OTP37 FC Mamuju melalui kaptennya Michael Aditya Wijaya mengakui sempat ditawari oleh runner untuk mencari lima sampai enam pemain yang bisa diajak “bermain kotor”. Tujuannya agar mau mengalah saat melawan PSBK Blitar pada fase grup babak nasional.[3] Bila menyanggupi, masing-masing pemain itu nantinya akan mendapat bayaran Rp5 juta. Persibara juga mengakui sempat ditawari tiket promosi ke Liga 2 2019, asalkan mau membayar Rp100 juta per pertandingan.

Sepak bola Indonesia, menurut seorang runner atau pelaku dalam pengaturan skor, Bambang Suryo rentan terhadap praktik curang ini. Industri sepakbola yang tidak sehat secara finansial menjadi sasaran empuk bagi para bandar judi. Perjudian menjadi jalan pintas bagi tim yang kesulitan secara finansial.[4]

Jan Saragih, manajer Bogor FC, tim lainnya yang berkompetisi di Liga 3 menyatakan bahwa timnya untuk menghargai profesi sebagai pesepak bola. ”Setan dan iblis pengaturan skor bisa ada di mana saja. Namun jika pemain mampu menghargai sepak bola sebagai jalan hidupnya, pasti dapat menghindar dari masalah pengaturan skor,” tutur Jan dilansir dari Koran TopSkor.

Dalam sejarah, pengaturan skor ini mewarnai sepak bola di dunia, khususnya di Indonesia. Tim nasional negeri ini juga pernah melakukan pengaturan skor. Mengulang apa yang dikatakan oleh Jan, iblis pengaturan skor bisa muncul di mana saja, terutama hadir di kala kondisi tim sedang sulit secara finansial.

 

Mengenal Pengaturan Skor

Pengaturan skor adalah tindakan yang memengaruhi atau mengubah jalannya pertandingan atau kompetisi sepak bola dengan cara apapun untuk mendapatkan keuntungan secara finansial, keuntungan dalam olahraga, atau untuk tujuan lainnya yang berlawanan dengan etik keolahragaan dan asas sportivitas (Pasal 29 Kode Etik FIFA/Pasal 72 Kode Disiplin PSSI).[5]

Kode Etik FIFA juga mengatur kelompok yang bisa terlibat dalam pengaturan skor ini, yaitu:

  • Official, termasuk di dalamnya wasit, pelatih, asosiasi, liga, tim, dan lain sebagainya;
  • Player, semua pemain sepakbola yang mendapatkan lisensi dari asosiasi;
  • Match Agent, perseorangan atau badan hukum yang mendapatkan lisensi dari FIFA untuk menyelenggarakan pertandingan, sesuai dengan regulasi FIFA;
  • Intermediary, mewakili pemain atau klub dalam hal negosiasi kontrak kerja atau mewakili klub untuk kesepakatan transfer pemain.[6]

Sportradar, perusahaan yang bekerja sama dengan berbagai federasi sepak bola dunia untuk mendeteksi anomali dalam bursa taruhan, menuturkan bahwa setiap akhir pekan mereka akan mengamati sekitar 800 pertandingan yang berlangsung di Eropa.[7] Klub-klub yang bertanding dalam laga yang diindikasi telah diatur, akan memiliki odds atau peluang menang yang aneh.

Biasanya sebuah kesebelasan yang bertandang ke markas lawan memiliki peluang menang 30 persen, namun ada beberapa pertandingan yang peluangnya melonjak hingga 85 persen,” tutur Darren Small dari Sportradar, dilansir dari wawancara dengan BBC pada 2010.

Penuturan selanjutnya dari Small yaitu tentang pertandingan di Eropa Timur. Ia melihat klub yang bermain away memiliki odds yang sangat tinggi. Namun, ketika klub yang bermain home unggul terlebih dahulu, tak ada perubahan berarti dalam odds klub away menang. Hal ini menjadi indikasi para penjudi tidak akan berbalik mendukung tim home.[8]

Profesor David Forrest dari Salford University juga menuturkan bahwa laga-laga yang paling sering diatur skornya adalah laga akhir musim, ketika kedua kesebelasan sama-sama tak memiliki sesuatu yang diperjuangkan.[9]

Menyuap wasit bisa memberikan Anda lebih banyak kendali pada pertandingan, ketimbang menyuap dua atau tiga pemain – yang memang sulit dilakukan,” tegas Forrest, ekonom yang punya spesialisasi untuk menganalisa pasar judi dan olahraga ini.

PSSI sebenarnya dapat memberikan sanksi terhadap pihak yang terlibat dalam pengaturan skor yang terdapat dalam Pasal 72 Kode Disiplin PSSI. Variasi denda yang diberikan mulai dari Rp250 juta – Rp500 juta, dilansir dari situs hukumonline.com. Namun, saat ini PSSI malah pasif dalam mengusut kasus pengaturan skor ini, bahkan cenderung menunggu laporan saja seperti yang dikatakan oleh Gusti Randa, anggota Komite Khusus PSSI dalam acara Mata Najwa pada 28 November 2018.

 

Tim Nasional Indonesia dan Pengaturan Skor yang Menyertainya

Sebenarnya Tim Nasional Indonesia (Timnas) memang sudah ada kasus pengaturan skor yang menyertainya sejak awal berdirinya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 19 April 1930. Namun, ada dua kasus pengaturan skor yang merebak secara global dan meruntuhkan martabat Timnas itu sendiri, yaitu Skandal Senayan dan Sepak Bola Gajah di Piala Tiger 1998.

Skandal Senayan, sebuah kasus pengaturan skor yang meruntuhkan kukuhnya fondasi Timnas asuhan Tony Pogacnik asal Yugoslavia.[10] Saat itu, Timnas adalah salah satu kandidat juara di cabang olahraga sepak bola pada Asian Games 1962. Kedalaman skuad Timnas benar-benar menakutkan bagi tim negara lainnya yang berkompetisi pada event serupa. Di level dunia, Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara Eropa Timur yang tangguh dan sempat juga merepotkan Uni Soviet dengan kiper legendarisnya Lev Yashin di event Olimpiade Melbourne 1956.

Menjelang Asian Games 1962, sebagian besar anggota Timnas asuhan Pogacnik ternyata terlibat dalam pengauran skor. Menurut Tempo dalam tajuk “Skandal Senayan di Mata Wowo; 7 April 1984, ada 18 pemain Timnas yang terlibat dan mayoritas merupakan Timnas Garuda, skuad inti yang bertanding di event kompetitif seperti Asian Games. Pogacnik memang membagi Timnas menjadi dua, Garuda dan Banteng yang merupakan skuad cadangan.

Terbongkarnya kasus itu bermula saat pemain Timnas Maulwi Saelan melaporkan kepada Soedirgo, manajer Timnas saat itu, bahwa ada yang tidak beres dengan rekan-rekannya pada 1961 lalu. PSSI lantas membentuk tim pemeriksa dan langsung bergerak ke tempat penginapan para pemain Timnas, Mereka menemukan uang sebesar Rp25.000 yang baru saja diterima pemain timnas dari bandar judi.[11]

Wowo Sunaryo dari Persib menuturkan kepada Tempo bahwa para pemain hanya mendapatkan uang saku sebesar Rp25, jumlah yang benar-benar kecil untuk pemain yang sudah berkeluarga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Uang yang ditawarkan oleh bandar judi saat itu bisa menyelesaikan masalah finansial yang dialami oleh para pemain Timnas.

Karena kasus tersebut, Pogacnik berlinang air mata dan mengganti dengan pemain yang masih muda dan minim pengalaman. Timnas Indonesia gagal total di Asian Games 1962, hanya sampai di fase grup. Seandainya tidak ada Skandal Senayan, menurut Pogacnik Timnas bisa meraih titel di Asian Games 1962 dan meraih tiket Piala Dunia 1966 di Inggris, mencapai standar internasionalnya.

Sepak Bola Gajah Piala Tiger 1998, kasus ini mengarah kepada Mursyid Effendi, pemain Persebaya Surabaya yang sengaja mencetak gol ke gawang timnya sendiri pada 1998, menyebabkan Indonesia kalah dari Thailand dengan skor 2-3 di fase grup. Mursyid melakukan hal itu supaya Timnas tidak bertemu dengan Vietnam di babak semi-final. Vietnam saat itu merupakan tim yang memiliki kedalaman skuad yang kuat serta paling diunggulkan untuk meraih titel Piala Tiger.

Kedua tim, saat itu sudah dipastikan lolos ke semi-final, tetapi hasil imbang saja sudah cukup bagi Thailand untuk menempati posisi runner-up dan terhindar dari pertandingan melawan Vietnam. Ketidakseriuasan memuncak usai jeda di babak kedua. Indonesia memimpin dua gol lewat Miro Baldo Bento di menit ’52 dan Aji Santoso di menit ’82, sebelum disamakan Thailand lewat Kritsada ’62 dan Therdsak ’86. Namun, pada menit ’90, Mursyid sengaja membawa bola ke area timnya sendiri, lalu mencetak gol ke gawang sendiri yang dikawal oleh Hendro Kartiko. Thailand menang 3-2, dan berhadapan dengan Vietnam di semi-final.[12]

Peristiwa tersebut membuat gempar tidak hanya di region Asia Tenggara, namun juga merebak ke Asia dan mengglobal. Ketua Umum PSSI, Azwar Anas menyatakan pengunduran diri akibat insiden memalukan tersebut. Mursyid juga mendapat sanksi larangan bermain untuk Timnas seumur hidup oleh FIFA. Rusdy Bahalwan sebagai pelatih Timnas juga dihukum karena membiarkan tindakan “gajah” itu terjadi. Tidak jelas siapa yang menyuruh Mursyid untuk mengambil jalur haram tersebut, karena Mursyid memilih bungkam atas pengaturan skor yang dilakukan oleh dirinya.

Akmal Marhali, ketua gerakan Save Our Soccer yang tekun dalam mengawal kejanggalan-kejanggalan dalam sepak bola di negeri ini berkata bahwa pemain hanya sebagai wayang untuk memuluskan para mafia yang ingin mendapat untung dari sebuah pertandingan sepak bola. “Bahkan, federasi juga menjadi dalang dari pengaturan skor ini,” tuturnya dilansir dari Acara Mata Najwa yang membahas Sepak Bola Gajah PSIS Semarang vs PSS Sleman pada 2014. Mursyid hanyalah sebagai wayang saja, demi ambisi meraih titel sebagai “Raja Sepak Bola” di Asia Tenggara oleh para pemegang kuasa di negeri ini.

 

Liga Busuk yang ‘Kami’ Cintai

Pengaturan skor juga menyusup ke dalam kompetisi sepak bola Indonesia dalam scoop periode 1980-an sampai dengan 1990-an. Galatama yang digelar pertama kali pada 17 Maret 1979 adalah pionir kompetisi profesional di Indonesia. Para pengusaha yang gila bola memasukkan klubnya ke dalam kompetisi tersebut. Nama-nama klub seperti Jayakarta, Warna Agung, Arseto, Indonesia Muda, NIAC Mitra, Pardedetex, dan lainnya lekang di kalangan pencinta sepak bola senior.

Namun, baru memasuki pekan kesembilan, Perkesa ’78 yang bermarkas di Bogor terlibat dalam pengaturan skor. Jafet Sibi, kapten Perkesa ’78 asal Papua yang berposisi sebagai stopper dinyatakan kena suap oleh bandar judi bernama Jeffrey Suganda Gunawan (JSG). Tidak hanya Jafet, pemain lainnya juga terkena kasus serupa.[13]

Acub Zaenal, pemilik klub marah dan membubarkan klub ini. Acub mengetahui Jafet membagi-bagikan uang kepada pemain lainnya sebesar Rp500 ribu agar Perkesa ’78 ditahan imbang oleh Cahaya Kita. Jafet juga mendapatkan Rp750 ribu dari runner setelah klubnya dikalahkan oleh Tunas Inti dengan skor 0-1.[14]

Perkesa ’78 memang tidak bermarkas di Bogor setelah Ali Sadikin, Ketua Umum PSSI saat itu menyatakan pembubaran klub tersebut. Namun, pada musim selanjutnya klub ini masih berkompetisi dengan bermarkas di Sidoarjo, lalu pindah ke Yogyakarta dan berganti nama menjadi Mataram Putra. Mataram Putra tetap bertahan di Galatama sampai nantinya Azwar Anas, Ketua Umum PSSI meleburkan Perserikatan dan kompetisi tersebut menjadi satu wadah bernama Liga Indonesia pada 1994.

Meskipun Galatama berusaha menampilkan wajah sebagai kompetisi yang profesional, namun kasus pengaturan skor sepertinya tidak bisa dibendung lagi. Cahaya Kita dari Jakarta terlibat dalam pengaturan skor. Kaslan Rosidi, sang pemilik kemudian memberi skors kepada 10 pemainnya yang terlibat kasus pengaturan skor setelah melawan Caprina dari Denpasar.[15]

Warna Agung, klub legendaris asal Tanjung Priok, Jakarta juga digoda untuk melakukan pengaturan skor.[16] Endang Tirtana dan Marsey Tambayong, dua pemain Warna Agung, dijanjikan uang senilai Rp2,5 juta rupiah oleh JSG untuk mengatur skor saat melawan NIAC Mitra. Karena hal tersebut, Benny Muyono, bos Warna Agung membubarkan klubnya.

Galatama juga mencoba untuk membuat Tim Anti-suap yang dikomandoi oleh Acub Zaenal. Namun, tim ini tidak cukup membendung pengaturan skor yang masif pada kompetisi ini. Hasilnya, para runner leluasa dalam mengatur skor dan banyak klub Galatama yang tidak cukup uang untuk mengikuti kompetisi dan akhirnya bubar.

Liga Indonesia edisi pertama, atau Liga Dunhill 1994-1995 juga diwarnai kasus pengaturan skor. Salam Sadimin, pelatih Arseto Solo melihat banyak kejanggalan ketika bertanding melawan Pelita Jaya di Lebak Bulus, Jakarta. Arseto dikalahkan oleh Pelita Jaya dengan skor 2-1.

Pertandingan tersebut dipimpin oleh Zulkifli Chaniago, wasit berlisensi FIFA pada saat itu. Ia menilai dua gol Pelita sangat kontroversial, karena pemain Pelita dalam posisi off-side dan Zulkifli tetap mengesahkan gol tersebut. “Saya akan laporkan kepemimpinan wasit Zulkifli ke PSSI melalui Ketua Liga Dunhill. Ini jelas ada mafia,” geram Salam dilansir dari Majalah Forum Keadilan No. 22 pada 16 Februari 1995.

Salam yang juga merupakan mantan wasit menyatakan tuan rumah sangat diuntungkan oleh wasit, sesuai statement dari Sportradar mengenai pengaturan skor. Menurut Salam, pengurus wasit pada era Liga Dunhill hanya main comot dan kualitasnya diragukan untuk memimpin.[17] Bahkan, final yang mempertemukan Persib Bandung dan Petrokimia Putra menghadirkan wasit yang kontroversial.[18]

Saat ini, pengaturan skor di Liga 1 dan kompetisi dibawahnya berhembus kuat. Muncul juga isu gelar juara yang diraih oleh Persija Jakarta “dibantu” oleh wasit[19], serta sanksi yang diberikan oleh Komisi Disiplin PSSI memberatkan beberapa klub. Akun-akun media sosial yang “tahu banyak” soal pengaturan skor ini menguatkan sekaligus mengarahkan banyak pencinta sepakbola untuk berpikir bahwa sepak bola di negeri ini sudah busuk.

Bahkan akun-akun media sosial yang menyertakan kiriman tentang pengaturan skor dipanggil oleh PSSI untuk dimintai keterangan, pada Sabtu (29/12) dan Minggu (30/12). Sebuah bentuk resistensi dari PSSI atas perilakunya yang namanya dicatut dalam kiriman tentang pengaturan skor.

Mengutip perkataan Rochi Putiray, mantan pesepak bola yang dahulu bermain di Arseto Solo dan Persija Jakarta pada channel YouTube Asumsi pada 2 Desmber 2018 bahwa untuk memberantas pengaturan skor, seharusnya kompetisi sepak bola di Indonesia tidak perlu untuk ditonton dan didukung. Para runner dan bandar judi akan mati perlahan, tidak melihat lagi Indonesia sebagai pasar yang menguntungkan untuk berjudi. Namun, apa yang dikatakan oleh Rochi hampir mustahil dilakukan, karena sepak bola sudah membudaya bagi masyarakat Indonesia, sebusuk apapun liganya./M. Rizky Suryana

 

Editor: Yulia Adiningsih

 

Catatan Kaki:

[1] Setiawan, Renalto, Pengaturan Skor, Bandar Judi, dan Lagu Lama Sepakbola Indonesia, tirto.id. 2 Desember 2018 (diakses pada 6 Desember 2018).

[2] Wawo, Ricko, Ini Kronologi Dugaan Ajakan Pengaturan Skor! Dibeberkan Pelatih PSN Ngada, kupang.tribunnews.com. 4 Desember 2018 (diakses pada 6 Desember 2018).

[3] Nugroho, Sri, Mencium Bau Mafia, Harian TopSkor. 15-16 Desember 2018.

[4] Setiawan, Renalto, op. cit.

[5] Tim FIFA, FIFA Code of Ethics, 2018: Zurich, Switzerland.

[6] Ibid.

[7] Mansel, Tim, Football match-fixing: How betting gives the game away, bbc.com. 19 November 2010 (diakses pada 6 Desember 2018)

[8] Ibid.

[9] Vetriciawizach, Cara Mengenali Pertandingan yang Telah Diatur Skornya, cnnindonesia.com. 8 April 2015 (diakses pada 7 Desember 2018).

[10] Setiawan, Renalto, op. cit.

[11] Ibid.

[12] Harsya, Agung, Kilas Balik Piala AFF 1998, goal.com. 17 November 2012 (diakses pada 7 Desember 2018).

[13] Wirayudha, Randy, Perkesa ’78, Kisah Klub Sepakbola Orang Papua, historia.id. 5 Juli 2017 (diakses pada 7 Desember 2018).

[14] Ibid.

[15] Setiawan, Renalto, op.cit.

[16] Setiawan, Renalto, Warna Agung: Juara Pertama Galatama yang Dihancurkan Suap, fourfourtwo.com. 22 Oktober 2017 (diakses 7 Desember 2018)

[17] Armada, Wina, dkk., Akibat Honor dan Bonus Wasit dari Tuan Rumah, Majalah Forum Keadilan No. 2. 11 Mei 1995.

[18] Maulana, Alief, Mengingat Kembali Petrokimia Putra: Juara Tanpa Mahkota Ligina Pertama, fandom.id. 24 Oktober 2016 (diakses pada 14 Desember 2018).

[19] Harahap, Zulfirdaus, Ketua PP The Jakmania Menjawab Tudingan Miring Gelar Juara Persija, bola.com. 15 Desember 2018 (diakses pada 16 Desember 2018).

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *