Si Jahil yang Suka Membaca Buku

No Comment Yet
  • Judul                                    : Matilda
  • Penulis                                 : Roald Dahl
  • Penerjemah                       : Maria Lubis
  • Jumlah Halaman               : 278 halaman
  • Penerbit                              : Noura Books
  • Tahun terbit                       : Agustus 2018 (Cetakan ke-1)

Matilda merupakan novel anak yang dibuat oleh Roald Dahl. Dia banyak membuat cerita-cerita anak dalam bentuk novel dan naskah drama. Matilda pertama kali terbit di Inggris pada 1988. Kemudian novel ini diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama pada 1996.

Matilda adalah anak kecil yang maniak dengan buku. Saat usianya masih 3 tahun dia sudah membaca ratusan buku anak-anak dan puluhan buku dewasa. Beberapa buku yang pernah dia baca diantaranya Nicholas Nickleby dan Oliver Twist karya Charles Dickens, Jane Eyre karya Charlotte Bronte, Pride and Prejudice karya Jane Austen, The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway, dan masih banyak lagi.

Setiap hari Matilda melahap satu persatu buku yang ada di rak perpustakaan. Dia adalah anak yang luar biasa.  Selama enam bulan dia bisa membaca 15 buku sastra dewasa. Padahal, masuk ke  sekolah taman kanak-kanak (TK) saja belum.

Kesialan Matilda cuma satu. Dia mempunyai orang tua yang tidak peduli dengan dirinya dan kecerdasannya. Mr. dan Mrs. Wormwood adalah orang tua Matilda yang menyebalkan. Ayahnya adalah seorang penipu yang membuka usaha jual beli mobil bekas. Sedangkan ibunya, Mrs. Woodman adalah ibu rumah tangga yang malas. Aktivitasnya sehari-hari adalah menonton TV sambil makan camilan dan bermain bingo di sore hari.

Selain mempunyai orang tua yang menyebalkan, dia juga memiliki kakak yang bernama Michael. Kakaknya tidak secerdas Matilda, tapi orang tuanya lebih bangga pada kakaknya dibandingkan dia. Menurut mereka, anak laki-lakinya lebih pintar dan rasional.

Matilda sering ditinggal sendirian di rumah. Suatu hari, dia diam-diam ke luar rumah dan menemukan sebuah perpustakaan kecil di dekat rumahnya. Dia masuk ke perpustakaan itu dan bertemu dengan Mrs. Phileps.

Matilda dan Mrs. Phileps jarang sekali berkomunikasi meskipun mereka selalu bertemu. Hingga pada suatu hari, Mrs. Phileps penasaran dengan anak kecil telah lama diam di depan rak buku itu. Akhirnya, dia menemui Matilda  dan menawarkan bantuan.

Mrs. Phileps sempat tak percaya dengan apa yang dikatakan Matilda  saat dia bilang bahwa sudah membaca semua buku anak yang ada di perpustakaan itu dan meminta buku yang lebih padanya. Akhirnya ia menyarankan Matilda  untuk membaca sastra yang biasa dibaca oleh orang dewasa. Dari situlah Matilda  mengenal semua buku yang dia baca dan menjadi maniak.

Setelah mengenal buku, Matilda menjadi tak kesepian lagi di rumah. Ia sering meminjam banyak buku dari perpustakaan untuk dibacanya di kamar. Namun Mr. Wormwood tidak menyukai hobi Matilda. Saat Mr. Wormwood melihat Matilda membaca, langsung dia mengambil buku itu dan merobeknya.

Bagi Mr. Wormwood, membaca merupakan aktivitas tak berguna dan hanya membuang-buang waktu saja. Dibandingkan membaca, dia lebih suka jika anaknya menonton TV. Matilda kesal dengan tingkah ayahnya. Dia ingin memberikan pelajaran pada ayahnya.

Dengan cerdiknya ia membuat kejahilan-kejahilan untuk ayahnya. Mulai dari mengoleskan lem super di topi sampai mencampur penumbuh rambut ayahnya dengan cat rambut berwarna pirang platinum.

Ayahnya tidak bisa hanya berdiam diri di rumah saja, dia harus mengurus usaha jual beli mobil bekasnya. Mr. Wormwood pun terpaksa harus menahan malu dari para pelanggannya yang diam-diam menertawakan keanehannya.

Masih banyak lagi kejahilan yang Matilda lakukan. Meski begitu, cerita mengenai kepintaran Matilda juga tidak dilupakan. Memasuki sekolah dasar, kepintaran Matilda semakin terlihat. Bahkan gurunya menganggap pengetahuan dan kemampuan membaca Matilda setara dengan orang yang sudah menginjak universitas.

Nampaknya, di zaman sekarang sulit menemukan anak-anak seperti Matilda. Punya rasa ingin tahu yang tinggi, cerdik, gemar membaca buku (apalagi sejak usia 3 tahun). Sebaliknya, menemukan orang tua seperti Mr. dan Mrs. Wormwood di zaman sekarang sangat mudah.

Jika dalam buku Matilda hanya memiliki TV sebagai tekhnologi, maka sekarang sudah ada internet yang dapat mengakses apapun, tanpa menghilangkan TV. Mungkin jika Mrs. Wormwood ada di abad 21, dia akan menghabiskan 24/7 waktunya untuk menonton TV, menonton Youtube, dan bermain game. Sebab ia mempunyai handphone dan akses internet. Dan jika Matilda  ada pada abad 21, mungkin dia sudah khatam milyaran buku. Dia cukup mendownload atau membeli e-book untuk dapat membaca buku yang dia mau.

Sayang, mungkin tidak akan ada cerita Matilda dan Mrs. Wormwood seperti apa yang saya bayangkan. Mereka hanya tokoh fiksi yang dibuat oleh pengarang yang sudah meninggal dunia.  Tapi buku Matilda cukup memberikan gambaran bagaimana situasi sosial saat itu. ketika TV mulai banyak digemari ketimbang buku.

Roald Dahl membuat pembaca menikmati cerita-cerita ajaib Matilda dan kejadian-kejadian lucu yang Matilda buat. Bahasa yang digunakan sederhana dan menggelitik. Sehingga cocok untuk dibaca oleh semua umur. Membaca Matilda juga dapat memotivasi untuk lebih banyak lagi membaca buku.

Matilda, dan buku-bukunya yang lain--Charlie and the Chocolate Factory, Fantastic Mr. Fox, James and the Giant Peach, dan The Witches–kiranya penting untuk selalu dicetak ulang. Sehingga, karya-karyanya tak akan mati dan semakin banyak yang membaca.//Yulia Adiningsih

Editor: Annisa Nurul H.S.

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *