Standar Cantik yang Mengancam

No Comment Yet

Kita tahu betul bahwa budaya patriarki telah mengakar di dunia, khususnya Indonesia. Dominasi peran oleh laki-laki terhadap perempuan sudah menjadi hal yang biasa di masyarakat dalam aspek kehidupan manapun. Dominasi dalam semua lini kehidupan mulai dari kelas sosial, pekerjaan, dan pola pikir rasanya sudah menjadi budaya dalam masyarakat. Paham patriarki ini pun tidak jarang membuat gerak perempuan tidak bebas dan tidak memanusiakan manusia.

Teori male gaze yang dikonsepkan oleh Laura Mulvey, berisi penggambaran perempuan atau keperempuanan sebagai daya tarik dalam perspektif visual laki-laki heteroseksual. Dalam aspek visual, male gaze mempunyai tiga perspektif yaitu di belakang kamera, di dalam kamera, dan penikmat.

Contoh yang paling dekat dengan kita di lingkungan kampus adalah maraknya akun pemasang foto mahasiswi cantik, seperti @unj.cantik. Akun ini merupakan buah produk patriarki yang dibungkus dengan komersil berbentuk paid promote. Pemilik akun Instagram @unj.cantik sebagai orang di belakang kamera, mahasiswi yang fotonya dikirim ulang sebagai di dalam, dan ketertarikan laki-laki heteroseksual sebagai penikmat.

Akun @unj.cantik pun kerap kali tidak meminta izin untuk mengirim ulang foto para mahasiswi dengan mencantumkan identitas mereka seperti nama, fakultas, dan angkatan. Hal ini membuat ketidaknyamanan pemilik foto secara langsung maupun di dunia maya. Di sisi lain, tidak dapat ditampik bahwa beberapa mahasiswi yang dikirim ulang fotonya, merasa tidak keberatan. Ada juga mahasiswi yang berpikir bahwa hal ini merupakan penghargaan atas dirinya sebagai bentuk pengakuan dari orang lain.

Hal ini menjadi peluang bagi pemilik akun @unj.cantik untuk membuka jasa paid promote melihat banyaknya jumlah pengikut akun yang lebih dari 19.500 (31/1). Akun tersebut mematok harga sesuka hati kepada siapa saja yang ingin memasang iklan di berandanya. Namun, para mahasiswi yang dipasang fotonya tidak bisa menikmati hasil yang didapat. Karena foto mahasiswi yang dipasang hanya sebatas daya tarik untuk menambah pengikut, khususnya laki-laki yang menjadi penikmat produk male gaze. Hal yang didapat oleh mahasiswi malah komentar seksis dan bernada tidak sopan.

Asumsi bahwa foto yang diunggah ke media sosial merupakan konsumsi publik, nyatanya foto sebatas selfie pun termasuk properti pribadi dan data elektronik. Properti pribadi ini diatur dalam pasal 25 UU ITE nomor 11/2008. Dalam hal penggunaan informasi yang berkaitan dengan data pribadi harus melalui persetujuan orang yang bersangkutan juga diatur dalam pasal 26 (1) UU nomor 11/2008. Pasal tersebut diamendemen oleh UU nomor 19/2016 tentang informasi dan transaksi elektronik. Kerugian yang diterima orang tersebut dalam pasal 26 (1) UU nomor 11/2008 dapat diajukan gugatan perdata (vide pasal 26 (2) UU ITE).

Selain gugatan perdata, adapun ancaman pidana yang dapat dikenakan pada pemilik akun @unj.cantik atas perbuatannya mengomersialkan data elektronik berupa foto tanpa persetujuan pemilik foto sebagaimana diatur dalam pasal 115 UU nomor 28/2014 tentang hak cipta:

“Setiap orang yang tanpa persetujuan dari orang yang dipotret atau ahli warisnya melakukan penggunaan secara komersial, penggandaan, pengumuman, pendistribusian, atau komunikasi atas potret sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 untuk kepentingan reklame atau periklanan untuk penggunaan secara komersial baik dalam media elektronik maupun non elektronik, dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)”

Kecantikan yang disorot pun merupakan konstruksi sosial yang dibuat oleh media. Anggapan bahwa standar kecantikan perempuan didasarkan pada beberapa kriteria. Umumnya warna kulit dan bagian tubuh tertentu sebagai indikator perempuan yang memenuhi standar. Akibatnya, perempuan menstandarkan kecantikan berdasarkan apa yang ditampilkan media. Standar ini memicu maraknya produk yang mendukung standar kecantikan seperti pemutih kulit, operasi plastik, operasi sedot lemak, dan lainnya. Perempuan menjadi haus akan pengakuan hingga menjadi korban gaya hidup demi diterima di lingkungannya.

Pada dasarnya, perempuan ingin menjadi manusia sesungguhnya yang dapat menentukan pilihannya sendiri. Objektifikasi seksual perempuan datang sebagai hasil dari norma sosial dan budaya kita, peran media yang membentuk male gaze, serta lingkungan yang membiasakan dan meremehkan kekerasan seksual terhadap perempuan. Objektifikasi bukan datang dari diri perempuan itu sendiri, namun cara pandang pihak lainnya yang melihat perempuan sebagai objek.

Penulis: Nadzma Izdhihar N.

Editor: M. Rizky Suryana

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *