Pemecatan Reporter SUARA USU, Menggerakkan Mahasiswa

No Comment Yet

Pada 12 Maret Pers Mahasiswa Suara USU mengunggah cerpen berjudul ‘Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya’ di laman web suarausu.co.  Satu minggu kemudian, cerpen tersebut baru dipromosikan di akun Instagram suara USU. Sekitar enam jam setelah cerpen tersebut di promosikan di Instagram, beberapa komentar berdatangan yang isinya mempermasalahkan Suara Usu. Tudinganya mengarah pada ungkapan Suara Usu sebagai media pembela LGBT.

Hari berikutnya, Yael Stefani Sinaga selaku Pemimpin Redaksi Pers Mahasiswa Suara USU dipanggil oleh Wakil Rektorat (WR) 1. Mereka meminta SUARA USU menurunkan cepren tersebut karena sudah meresahkan dan sudah viral dikalangan seluruh civitas akademik Universitas Suara Utara (USU). “Ada ancaman dari rektorat kalau suara usu akan dibubarkan kalau tidak menarik cerpen tersebut,” kata Yael.  SUARA USU pun, akhirnya menghapus postingan cerpen di instagram.

Keesokan paginya web Suara Usu di suspended karena belum menghapus cerpen tersebut dari website. Setelah memblokir laman suarausu.co. Rektor USU, melalui Kepala Subbagian (Kasubag) Kesejahteraan Mahasiswa, Effendi Manurung bersama Staf Ahli Rektor dan Edi Siswanto Kasubag Ketertiban dan Keamanan datang dengan membawa Surat Keputusan (SK) Rektor Nomor 1319/UN5.1.R/SK/KMS/2019 yang ditetapkan pada tanggal 25 Maret 2019 tentang :

1. Perubahan Pertama Surat Keputusan Rektor Nomor 1026/UN5.1.R/SK/KMS/2019, sepanjang menyangkut Unit Kegiatan Mahasiswa Pers Suara USU.

2.  Memberhentikan Pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa Pers Suara USU sebagaimana dalam lampiran Surat Keputusan ini.

3. Menugaskan kepada Unit Jurnalistik yang berada di bawah Biro Kemahasiswaan dan Kealumnian USU untuk melakukan seleksi awal berjumlah 36 (tiga puluh enam) orang calon kepengurusan UKM Pers Suara USU.

4. Menyerahkan hasil seleksi awal kepengurusan UKM Pers Suara USU kepada Rektor USU untuk menetapkan kepengurusan yang baru UKM Pers Suara USU tersebut paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal Surat Keputusan.

5. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan keputusan segala sesuatunya akan diperbaiki sebagaimana mestinya apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan penetapan keputusan ini.

Padahal, di hari yang sama saat SK tersebut diberikan, Pers Mahasiswa SUARA USU akan menggelar diskusi bertema ‘Analisis Cerpen & Kebebasan Berekspresi Pers Mahasiswa’ di Sekretariat Pers Mahasiswa SUARA USU.

Solidaritas Membela SUARA USU

Rektor melarang diskusi yang akan diadakan dengan alasan kepengurusan SUARA USU telah dicabut. Semua hal yang diatasnamakan SUARA USU tidak boleh dilakukan. SUARA USU sempat mencari alternatif tempat yang lain. Namun, mahasiswa bersikukuh tetap melakukan diskusi di sekretariat SUARA USU.

Saat diskusi berlangsung, Effendi Manurung bersama staf ahli rektor dan kepala keamanan Edi Siswanto beserta satpam lainnya mendatangi Sekretariat SUARA USU untuk membubarkan diskusi. Setelah beberapa jam berargumen dengan mahasiswa dan peserta diskusi lainnya yang berada di luar sekretariat, rektorat akhirnya meninggalkan sekretariat. Namun keamanan tetap berjaga di depan.

Selesai diskusi, dilanjutkan dengan pembentukan Aliansi Solidaritas Mahasiswa Bersuara (Somber) atas usulan mahasiswa dengan dua tuntutan; Mencabut SK pemberhentian pengurus SUARA USU 2019. Dan memberikan dan menjamin ruang kebebasan berekspresi mahasiswa.

Kamis, (28/3) pukul 10.00 WIB rektorat datang membawa tim keamanan sekitar 20-30 orang untuk mengosongkan Sekretariat SUARA USU, ke 18 anggota yang dipecat bersama Somber mengeluarkan barang-barang. Namun, tidak berselang lama mahasiswa kembali memasukkan barang ke dalam sekretariat sebagai pernyataan sikap tidak terima.

Selanjutnya, dilakukan aksi bersama Somber bergerak dari fakultas ke fakultas, menuju Gedung Biro Rektor. Ditutup dengan mengadalan Panggung Sastra di depan Sekretariat SUARA USU.

Di Jakarta, Koalisi Bela Literasi (KOBEL), bersama dengan Aksi Kamisan di Taman Aspirasi Monas menyuarakan keberatan terhadap SK yang dikeluarkan oleh Rektor USU.

Faisal Bachri, koordinator Forum Pers Mahasiswa Jakarta (FPMJ) mengatakan aksi ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas atas matinya demokrasi dan kebebasan berpikir di USU. “Rektor sudah megggangu atmosfer kampus,” tuturnya.

Senada dengan Bachri, Nadya Karima Melati salah satu peserta aksi juga mengatakan bahwasannya rektor USU telah menggerus proses kebebasan berpikir mahasiswanya. Ia juga mengatakan, “itu kan cuma cerpen, fiksi, masa sama cerpen aja takut.”

Adapun tuntutan Kobel kepada Rektor USU, Runtung Sitepu, yakni; Menolak pembubaran/pembekuan/pencabutan SK Rektor USU terhadap Suara USU karena tidak sesuai dengan UU No 12 tahun 2012 tentang perguruan tinggi dan UU No 21 tahun 2000 tentang berserikat.

Juga mendesak Rektor USU agar tidak mengintervensi setiap kegiatan jurnalistik Pers Mahasiswa. Dan mengembalikan supremasi Mahasiswa: setiap keputusan harus diambil setelah ada keputusan bersama dan tidak diambil secara sepihak.

Meminta Rektor USU turun dari jabatan karena tidak sepantasnya Profesor bergelar sarjana Humaniora tidak memiliki sikap intelektual dan kemanusiaan dengan mendiskriminasi minoritas dan membubarkan PERSMA.

Reporter: Uly Mega S.

Editor: Muhtar

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *