Jurnalis dan Tanggung Jawab Kemanusiaan

No Comment Yet

Judul : A Private War

Rilis : 7 September 2018

Negara : Amerika Serikat

Durasi : 1 Jam 50 Menit

A Private War, satu film yang menceritakan kisah perjalanan hidup seorang wartawan perang, yaitu Marie Colvin yang diperankan oleh Rosamund Pike. Ia menjadi wartawan The Sunday Times, dengan fokus meliput di daerah peperangan. Film yang disutradarai oleh Matthew Heineman ini pertama kali rilis di Amerika Serikat, tepatnya pada 7 September 2018.

Pada menit-menit awal, film ini sudah menggambarkan suasana perang di Sri Lanka tahun 2001, yaitu antara pasukan tentara pemerintah dengan pemberontak ‘Macan Tamil’. Colvin saat itu mengambil keputusan yang sangat berani. Ia memasuki kawasan yang dilarang pemerintah selama 6 tahun. Disana, Colvin menuliskan suasana warga sipil yang banyak terserang penyakit akibat dari pemblokiran bantuan makanan dan obat-obatan.

Colvin pun mengalami nasib yang kurang baik di sana. Ia kehilangan penglihatan di mata kirinya akibat terkena serangan dari pihak tentara pemerintah. Saat itu, Colvin hendak melewati perbatasan antara wilayah yang dikuasai pemberontak dengan wilayah pemerintah.

Kejadian tersebut tidak membuat Colvin kapok, malah ia tetap melanjutkan pekerjaannya di wilayah-wilayah perang. Alasannya, Colvin tidak bisa melihat orang lain menderita karena peperangan yang terjadi. Colvin terus menulis, tujuannya adalah agar dunia mengetahui bahwa ada kemanusiaan yang terenggut di dalam peperangan.

Selain menceritakan tentang pekerjaan Colvin, film ini juga menggambarkan kehidupan pribadinya. Colvin, dalam film terlihat sebagai orang yang sering meminum minuman keras dan perokok aktif. Hal itu dia lakoni untuk menghilangkan depresinya. Depresi itu muncul, karena ia tak kuasa menahan ingatannya tentang peperangan yang terjadi. Selalu terbayang olehnya ribuan warga sipil yang mati di wilayah perang. Mimpi dan pikiran seperti itu yang sulit sekali ia lupakan. 

Sampai akhirnya, ia meninggal di Homs, Suriah pada 2012. Ia bersama Paul Conroy, seorang fotografer yang selamat. Disana, ia memasuki kawasan persembunyian warga sipil yang diserang oleh pihak pemerintah. Pemerintah menganggap bahwa kawasan itu dikuasai oleh teroris yang hendak menguasai Suriah. Tetapi, Colvin menemukan fakta yang berbeda dari versi pemerintah. Nyatanya, disana terdapat 28.000 warga sipil yang terjebak. Selain itu, Colvin juga menyoroti banyaknya korban dari kalangan anak-anak dan perempuan.

Pada detik-detik sebelum kematiannya, ia sempat melakukan laporan via telepon satelit kepada beberapa media. Menurut Colvin, situasi di Homs, Suriah adalah yang paling buruk daripada yang pernah ia lihat. Setelah itu, Colvin berusaha melarikan diri bersama Paul Conroy, tetapi nahas, Ia tertembak oleh pasukan pemerintah dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Peresensi menganggap bahwa hal inilah yang harus dilakukan seorang wartawan. Dalam hal apapun, baik peperangan ataupun hal lain, seperti perampasan tanah. Wartawan harus selalu berpihak pada masyarakat. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam 9 Elemen Jurnalisme juga mengatakan bahwa keberpihakan jurnalis itu kepada masyarakat. Terlebih lagi, dalam konteks media di Indonesia yang dikuasai oleh oligarki. Pemilik media tentu memiliki kepentingannya sendiri, baik dalam segi bisnis maupun politik elektoral.

Hal di atas kerap kali memengaruhi keberpihakan jurnalis dalam pemberitaan. Sebab, jurnalis hanya mengikuti keinginan dan kepentingan pemilik media. Maka dari itu, perlu ditekankan kembali bahwa loyalitas jurnalis harus berpihak kepada masyarakat.

Selain berbicara tentang keberpihakan wartawan, film ini juga menggambarkan betapa minimnya perlindungan dalam pekerjaan ini. Nyawa selalu menjadi ancaman. Kerap kali, intimidasi dari berbagai pihak selalu ada, terutama dari pihak penguasa. Seperti yang dialami oleh Marie Colvin, ketika sedang melakukan proses peliputan, bahkan hidupnya harus berakhir ketika ia sedang meliput perang Suriah. Keadaan seperti itu sebenarnya juga terjadi di Indonesia. Para wartawan kerap kali menjadi sasaran intimidasi, baik teror maupun kekerasan ketika melakukan peliputan. Pada 2018, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers mencatat 71 kekerasan terhadap jurnalis di 22 Provinsi.

Film ini secara apik menggambarkan pekerjaan Marie Colvin sebagai jurnalis yang fokus meliput perang-perang di wilayah timur tengah. Pembahasannya tidak lepas dari tragedi kemanusiaan yang selalu dihasilkan dari perang. Menurutnya, siapapun yang terlibat dalam perang, selalu saja masyarakat sipil yang dirugikan.  Tetapi, film ini tidak membahas secara mendalam polemik tentang sebab dan pemicu peperangan yang diliput oleh Colvin.

Penulis: Ahmad Qori H.

Editor: M. Muhtar

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *