Kedai Kopi Biasa Saja

No Comment Yet

Ruang kerja dan setumpuk tanggung jawab yang terhitung dimulai sejak pukul delapan pagi bukanlah sebuah hal yang dapat diremehkan. Sumpah, semua ini melelahkan. Apalagi saya adalah seorang wanita. Bukan bermaksud untuk memposisikan wanita mesti-lah menerima takdir bahwasanya dirinya ternyata lebih lemah dari para pria dalam urusan ketahanan fisik, tapi memang iya. Ini fakta dan saya merasakannya. Tapi tetap, saya tidak terima jika para wanita harus rela dianggap lebih lemah daripada para pria.

“ Gengsi dong!” Yang selalu saya pahami selama ini.

Tinggi semampai, wajah menawan, karier cemerlang, dan selalu hidup mandiri adalah diri saya. Perkantoran tempat saya bekerja terletak pada sebuah kawasan bisnis elit di salah satu daerah di Jakarta Selatan. Sehari – hari ‘dinas’ dengan pakaian formal, sepatu hak sedang, rok ketat sedikit diatas lutut serta balutan kemeja eksklusif sebagai atasan. Wajah rutin perawatan, juga rambut yang tak pernah lupa untuk keluar masuk salon atas nama tampilan menawan yang harus menemani saya di dalam keseharian.

Sebentar lagi matahari akan terbenam, perkantoran baru saja menyelesaikan kegiatan seperti biasanya, para pekerja berbondong – bondong membubarkan diri untuk kembali, entah ke rumah ataupun melangkahkan kaki ke persinggahan masing – masing. Selamat datang di Jakarta, biasakan diri mengenal langit sore yang berkawan erat dengan riuh ramai kemacetan jalan di tiap – tiap harinya.

Seperti kebanyakan pekerja lain yang terkadang senang bersinggah sebentar untuk sekedar melepas lelah, saya-pun memutuskan untuk melakukannya sore ini. Sebenarnya kalau boleh jujur bukan sekedar kelelahan. Belum lama, mungkin kemarin atau beberapa hari yang lalu saya baru mendapat rekomendasi dari teman untuk sejenak menikmati segelas kopi dengan segala keunikan yang akan disajikan oleh salah satu kedai kopi di kawasan Kemang. Ia bilang kedai itu sangat cocok untuk saya, entah mengapa dia menyarankan hal tersebut secara tiba – tiba kepada saya setelah cukup lama memperdebatkan soal bagaimana bisa saya mengatakan,

“Maaf saya sudah habis.”

Tapi memang benar maaf saya telah habis, saya enggan untuk kembali mengabulkan permintaan maaf. Bahkan mungkin saya juga telah muak dengan segala permintaan maaf. Maaf terasa begitu mudah untuk dilontarkan entah di jalan, di rumah, di kantor bahkan dimanapun. Saya telah muak mendengarnya dan kini berusaha untuk mengabaikan segala jenis permohonan ‘minta maaf’ dari siapapun orangnya. Maaf dalam diri saya kini telah tiada, sejak dulu saya nampaknya memang terlalu murah untuk memberikan sebuah kata maaf. Hingga kini pada akhirnya tersadar, saya harus merelakan bahwasanya…

“Maaf yang saya miliki telah habis, jangan pernah coba untuk meminta lagi.” 

Ia memperdebatkan argumentasi saya, ia menganggap bahwa maaf bukanlah sebuah komoditas yang dapat habis jumlahnya. Ia ada, dalam jiwa dan tak terbatas oleh angka ataupun hal – hal lainnya. Tapi tetap, itu tidak berlaku bagi saya pribadi. Saya tetap meyakini, selama dua puluh enam tahun usia saya beranjak, banyaknya permintaan maaf yang dimohon sejak kecil memanglah membuat kini stok maaf yang berada dalam diri saya telah habis terkuras tidak tersisa. Ini sulit, idealisme memang dipertahankan tetapi jujur saja membuat saya begitu kebingungan. Apa esok tidak ada yang akan membuat sebuah kesalahan kepada diri saya? Lalu akan bagaimana saya menanggapinya?

Ah sudahlah, taksi online pesanan saya telah tiba. Cukup lama tadi saya berdiri di beranda kantor sambil merenungi permasalahan maaf tadi. “Nah itu dia!” Kata saya menggumam dalam hati ketika melihat nomor seri taksi online yang saya pesan telah tiba di hadapan. Saya melangkah kearahnya, membuka pintu tengah sebelah kanan, masuk, duduk lalu menutup kembali pintu tersebut.

Sambil mulai menjalankan kendaraanya sang supir berkata, “Mohon maaf tadi agak sedikit lama menunggu ya neng…”

“Hah? Maaf? Apa yang harus saya lakukan? Maaf saya telah habis.”

Situasi menjadi hening sejenak, sang supir terlihat memandang saya dari kaca spion tengah, matanya menusuk kearah saya seolah menunggu respon jawaban atas permintaan maafnya.

“Tapi bagaimana? Saya tidak bisa berkata apa – apa.” Akhirnya saya memilih untuk bungkam.

Entah menjadi segan atau bagaimana, sepanjang perjalanan menuju kedai kopi yang ingin saya singgahi situasi  menjadi begitu beku. Padahal jujur saya tidak bermaksud untuk membuatnya seperti ini, saya bisa saja mengabulkan maaf yang ia minta, tapi sumpah sekali lagi. Maaf saya sudah habis, jadi diam adalah pilihan terbaik untuk dilakukan.

Empat puluh lima menit berlalu, kemacetan sore hari di Jakarta membuat perjalanan jadi sedikit lama dan membosankan. Tapi akhirnya saya tiba di kedai kopi tersebut, saya membayarkan ongkos perjalanan kepada sang supir dan lekas turun dari mobil. Mobil yang saya tumpangi kian berlalu, saya hadapkan badan ke kiri dan memandang sejenak kedai tersebut, di atas pintu masuk saya melihat papan bertuliskan,

-Kedai Kopi Biasa Saja-

Hah, Itukah namanya? Kedai kopi biasa saja? Berarti biasa saja, tapi kenapa teman saya menyarankan agar saya mencoba sesekali singgah ke tempat ini. Apa unikya? Kan biasa saja, tapi ah sudahlah kadung sudah sampai disini masa iya saya harus kembali hanya karena namanya yang “Biasa Saja” toh nama yang biasa saja tersebut memanglah justru membuat tempat ini agaknya unik untuk di singgahi, ya paling tidak membuat siapa yang melihatnya menjadi penasaran akan apa yang akan didapati di dalamnya bukan?

Saya membuka pintu dan mulai masuk kedalam, saya melihat sekeliling, ornamen etnik yang didominasi oleh furnitur kayu dan bermacam barang berwarna coklat begitu kental terasa. Tapi ah, biasa saja, layaknya banyak kedai kopi lainnya yang menerapkan layout  ruangan seperti ini. Biar agak klasik – klasik gitu mungkin.

Kedai ini tidak terlalu ramai pada sore hari seperti sekarang. Tapi, ah ini mungkin uniknya. Saya melihat mereka yang sedang menikmati kopi adalah para wanita. Kenapa ya? Saya bertanya – tanya dalam hati. Perlahan saya langkahkan kaki menuju meja pemesanan, kebetulan memang tidak ada antrian. Ya sudah langsung saja…

Saya duduk pada kursi di hadapan meja pemesanan

Ada meja dengan deretan toples berisi biji kopi yang bermacam jenisnya, etalase kayu dengan gelas – gelas serta beragam alat proses untuk menjadikan biji kopi sebagai minuman yang siap disajikan.

Pelayan menyambut saya dengan senyuman…

“Selamat sore, mau pesan apa.?”

“Hmm, boleh lihat menunya? Kebetulan saya baru pertamakali kesini.” Kata saya.

“Oh baru ya, sebentar saya ambilkan.” Pelayan menjawab saya.

Ia memberikan daftar menu yang juga berwarna coklat kepada saya.

Saya menerimanya dan melihat – lihat menu yang ada.

“Silahkan dilihat, kita menyediakan berbagai jenis minuman kopi. Berbagai juga yang tidak kopi, ada sedikit camilan untuk teman minum kopi jika ingin…” Pelayan mencoba menjelaskan kepada saya.

            Saya terus melihat menu tersebut, mencoba memilih menu mana yang akan saya pesan.

            Kopi, kopi susu, kopi italia, kopi vietnam, kopi cokelat, kopi minahasa, kopi bir. Ah dan banyak kopi – kopi lainnya, menu non kopi juga banyak. Tapi memang niat saya kesini untuk menyicipi kopi dengan segala keunikannya seperti kata teman saya. Tapi ah, sebentar mata saya tertuju kepada salah satu pilihan menu yang terletak pada bagian paling bawah, menyendiri dan tidak memilki keterangan harga. Apa ini?

-Menu Spesial-

Kopi,Maaf

            “Menu spesial ini, maksudnya apa ya?” Saya bertanya kepada pelayan…

            “Oh ini menu spesial yang kami sediakan”

            “Spesialnya bagaimana?” Saya kembali bertanya

            “Saya bisa jelaskan jikalau anda memang, berminat untuk memesannya.” Pelayan menerangkan kepada saya.

            “Tapi bagaimana saya berminat? Saya tidak tahu ini apa.”

            “Ada syarat untuk berminat.” Tersenyum sambil menatap tenang mata saya.

            “Apa syaratnya?”

            “Anda harus bermasalah lebih dulu.”

            “Hah!?” Saya terkaget mendengarnya, menu macam apa ini? Masa iya jikalau ingin memesan harus punya masalah terlebih dahulu?

            “Ya anda harus lebih dulu bermasalah dengan….” Pelayan menimpali kebingungan saya.

            “Dengan apa?” Saya memotong pemicaraan

            “Dengan… Maaf.” Pelayan meneruskan pembicaraan

Saya hanya menatap bingung, ia mengucap kata maaf. Saya harus bagaimana?

“Ehm, maksud saya anda harus memiliki masalah dengan perkara memberi ataupun meminta maaf.” Pelayan seolah menjelaskan kebingungan saya

Saya sedikit termenung dengan jawaban pelayan tersebut, rekomendasi teman saya nampaknya bukan lain adalah untuk memberi tahu perkara menu spesial ini, tebak saya. Tapi hal ini justru membuat saya semakin penasaran dan ingin terus mencari tahu tentang hal tersebut.

“Iya lalu, jika saya bermasalah dengan maaf bagaimana?”

 “Ya anda boleh saja memesannya.”

“Tunggu, bermasalah dengan maaf ini yang seperti apa? Kan banyak.” Tanya saya kembali.

“Ya memang banyak, bermacam – macam. Coba Anda tanyakan saja kepada mereka semua.” Kata pelayan seolah mengarahkan pandangannya kepada para pengunjung yang kebanyakan memang wanita .

            “Mereka semua bermasalah dengan maaf?”

            “Yap.” Jawab pelayan singkat

            Cukup lama saya bicara dengan pelayan tersebut, khawatir saya sudah ada yang menunggu untuk masuk ke antrian pemesanan. Saya pun menoleh dan beruntung, tidak ada antrian sama sekali. Saya pun melanjutkan pembicaraan dengan pelayan tersebut,

            “Kenapa tempat ini seperti tenang – tenang saja? Tidak seperti kedai kopi kebanyakan yang ramai dikunjungi konsumen saat jam lelah seperti sekarang?” Pandang saya menunggu jawaban dari sang pelayan

            “Ya memang, kebanyakan yang mampir disini hanya mereka yang tau dan mau.”

            “Saya kan tidak tahu dan belum menyatakan mau, hanya ingin tahu.” Jawab saya mengelak.

            “Anda tahu dari orang kan?” ia kembali bertanya.

            “Iya dari teman saya.”

            “Kenapa teman anda merekomendasikannya?” Pelayan bertanya seperti penasaran.

            “Tidak tahu.” Saya menggelengkan kepala.

            “Pasti ada alasannya.” Dengan sedikit tersenyum.

            “Ya memang tapi saya belum tahu.”

            “Kalau anda mau memesan menu spesial ini, mungkin Anda akan tahu. Sebab sebentar saya berbicara dengan Anda saja nampaknya saya telah mengetahui alasan teman yang bersangkutan untuk meminta Anda singgah sejenak di kedai kami.”

            “Hah!” Saya agak terkejut mendengar penjelasannya

            Mengapa pelayan ini seperti cenayang, seolah mengetahui kejadian yang ia sendiri pada kenyataanya tidak mengetahuinya. Bahkan lebih dari itu, ini menyangkut isi kepala orang lain. Ya, tentang alasan mengapa teman saya meminta saya untuk singgah di tempat ini. Kan tidak logis ya! Masa ada orang lain bisa membaca pikiran orang lain, seperti di televisi saja…

            “Lalu jika saya ingin memesannya bagaimana?” Saya melanjutkan pembicaraan.

            “Ya boleh saja, asal anda harus memiliki masalah tersebut.”

            “Lalu, ini tidak ada keterangan harga. Bagaimana?” Saya berusaha menunjukan daftar menu kepada si pelayan.

            “Oh ini dia yang harus saya jelaskan, tunggu dulu sebentar…”

            “Kenapa harus tunggu sebentar?”

            “Kopi, maaf… ini sangat mahal harganya. Maka dari itu harganya tidak kami cantumkan.” Sedikit mendekat berbisik kepada diri saya.

            “Seberapa mahal?”

            “Ya sangat mahal, untuk itu kami menyediakan dulu layanan konsultasi bagi siapapun yang ingin memesannya. Untuk meyakinkan tiap mereka yang berniat untuk memesannya.”Dengan santai pelayan menjelaskannya kepada saya.

            Ini mengejutkan, baru kali ini saya menemukan hal seperti ini. Di kedai manapun, restoran manapun mana ada sebuah layanan konsultasi untuk sekedar meyakinkan konsumen untuk memesan sebuah menu. Entah bagaimana spesialnya menu tersebut! Mau pesan ya pesan saja…

            Tapi tak mengapa, kadung terlalu banyak bertanya.Ya saya ikuti saja permainnanya.

            “Mahal bukan masalah bagi saya…” Kata saya berusaha meyakinkan.

            “Sungguh?” Pelayan seolah meminta saya untuk kembali meyakinkannya

            “Ya, saya ingin kopi, maaf tersebut.”

            “Soal masalah telah saya jelaskan, soal harga juga sudah. Oke, jika Anda benar – benar yakin, saya akan proses.”

            Kemudian lincah jarinya menari pada papan ketik yang berada tepat di bawah monitor kasirnya, beberapa saat kemudian ia selesai dan meminta saya untuk mengikutinya. Ia keluar dari pintu pembatas antara ruang kedai dan bilik pemesanan, saya mengikutinya dari belakang kearah sisi kedai dan menemui pintu sebuah ruangan.

            “Tunggu sebentar disini ya.” Ia memberhentikan langkah saya dan masuk kedalam ruangan tersebut.

            Tidak lama berselang ia keluar dan tersenyum mempersilahkan saya masuk.

            Ia berlalu, saya membuka pintu tersebut dan masuk kedalam ruangan.

            “Selamat sore nona!” Saya dikagetkan dengan ucapan tersebut.

            Terlihat ia seorang pria yang sedang duduk dibalik meja kerja, berpakaian rapih, berdasi. posisinya persis berhadapan dengan pintu ruangan tersebut. Ruangan ini kecil, berbentuk persegi panjang. Masih kental dengan ornamen coklat khas ruangan kedai di depan. Entah mengapa, situasi jadi terasa agak beku…

            Saya merasa seperti akan di interview

            “Sore…” Jawab saya

            “Silahkan duduk,” katanya.

            Saya menarik kursi tersebut dan mulai duduk.

            “Apa kabar?” Kata pria tersebut.

            “Baik.” Jawab saya singkat.

            “Anda begitu yakin masuk ke ruangan ini?” Tanya pria tersebut meragukan saya.

            “Ya memang, pelayan meminta saya untuk berkonsultasi kepada anda,” jawab saya.

            “Hebat betul…”

            Saya hanya diam menatap sayu wajahnya

            “Mengapa anda perlu berkonsultasi? Menu spesial yang membuat anda harus masuk keruangan ini benar – benar sangat mahal…” Kata dia terlihat berusaha mengurungkan niat saya.

            “Ya namun saya tidak masalah dengan hal tersebut.”

            “Anda yakin?”

            “Ya…” Jawab saya sambil mengangguk

            “Kopi, maaf ini sangatlah mahal dan kebanyakan hanya untuk seorang pecundang”

            “Pecundang bagaimana?”

            “Ya pecundang saja…”

            “Anda pasti punya alasan bukan?” Kata saya meminta penjelasan dari pria tersebut.

            “Ya, sebegitu pecundangkah Anda, jika rela membayar mahal sebuah hal yang sebenarnya anda bisa miliki dengan cuma – cuma?” Kata dia seolah meremehkan saya.

            “Hah bagaimana?” Saya agak heran dengan jawabannya.

            “Bagaimana? Apa masalah Anda?”

            “Saya kehabisan maaf.”

            “Bagaimana sebuah maaf bisa habis?” Tanya ia kepada saya.

            “Tidak tahu.” Jawab saya acuh.

            “Masa tidak tahu? Tapi Anda ingin memaafkan orang lain?” Tanyanya lagi.

            “Ya ingin sebenarnya.”

            “Saya bisa membatu jika Anda mau, agar Anda tidaklah harus membayar mahal.” Ia memberi jawaban yang seolah – olah seperti harapan.

            “Bagaimana caranya?”

            “Saya ingin meminta maaf pada Anda.”

            Saya bingung kenapa ia tiba – tiba meminta maaf? Lagipula maaf saya sudah habis. Saya tidak bisa menanggapinya.          

            “Kenapa Anda diam?” Tanya dia…

            “Maaf saya sudah habis…”

“Oke, anggaplah seperti ini. Lawan kata habis adalah, tersedia. Lawan kata memberi?”

            “Meminta?” Jawab saya meneruskan kalimatnya.

“Tepat, Anda tidak bisa memberi karena maaf Anda telah habis bukan?”

            “……….”

 Saya terdiam sejenak.

“Lawan kata memberi adalah jawaban dari segala permasalahan Anda, tanpa perlu membayar mahal.”

“Maksudnya?” Saya kebingungan dengan jawabannya.

“Ya meminta, Anda akan memiliki maaf kembali. Tanpa perlu membayar mahal, jika anda mau meminta.”

“Tidak bisa.” Saya menggelengkan kepala.

”Tidak ingin memilikinya lagi, secara cuma – cuma?” Ia seolah – olah ingin menggugurkan keyakinan saya.

“Ingin.”

“Lekaslah mulai meminta maaf” Ia seperti memaksa.

“Tidak” Saya acuh menjawab pertanyaan tersebut.

“Loh kok tidak? Katanya mau…”

“Gengsi.” Saya masih acuh.

“Mau sampai kapan?” Tanyanya kembali.

“Tidak tahu”.

“Bagaimana cara terus hidup tanpa pernah meminta dan memberi maaf kepada orang lain?”

“Ya seperti ini.”

“Anda harus meminta maaf untuk menyelesaikan ini semua…” Ia terus berusaha menggoyahkan keyakinan saya.

“Tidak bisa.”

“Anda tidak akan mampu membayar kopi, maaf tersebut kalau begitu.” Ia terlihat meremehkan saya.

“Saya punya banyak uang.” Jawab saya setengah sombong.

“Tidak akan pernah cukup.

“Hah!?” Saya kaget, memangnya seberapa mahal menu spesial tersebut?

“Bayaran mahal kopi tersebut adalah…”

Saya hanya diam menunggu ucapan berlanjut dari pria tersebut….

“Perdamaian antara Anda dan kata maaf, jika tidak silahkan Anda bergabung dengan kehampaan mereka semua yang sedang berada di depan sana,” ia menunjuk ruang kedai di balik pintu tersebut.

Saya hanya diam dan suasana menjadi beku…

Ia hanya menatap menunggu jawaban dari saya.

“Kepala saya pusing!”

Bekasi, 17 Januari 2019

Penulis: Apis Jiung

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *