Pelanggengan Dehumanisasi Melalui Sistem Pendidikan

No Comment Yet

Judul Buku  : Pendidikan Kaum Tertindas

Penlulis        : Paulo Freire

Penerbit      : Pustaka LP3ES Indonesia

 Cetakan      : Ketujuh

Halaman      : 215

Buku Pendidikan Kaum Tertindas adalah salah satu karya Paulo Freire yang sangat fenomenal. Buku ini  ditulis berdasarkan pengalaman dan pengamatan Freire selama hidupnya di Brazil. Paulo Freire lahir pada tahun 1921 di Recife, sebuah kota pelabuhan di Brazil bagian timur laut, wilayah kemiskinan dan terbelakang. Di usia yang masih sangat belia, Freire telah dihadapkan pada situasi kelaparan akibat krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1929. Keluarga Freire yang dikategorikan sebagai keluarga kelas menengah mengalami kebangkrutan. Kemudian mereka memutuskan untuk hijrah ke Jabatao dan ayahnya meninggal di sana.

Selama perjalanan hidupnya, Freire mengabdikannya untuk memajukan pendidikan. Ia mengkritik para cendikiawan yang dinilainya terlalu memandang melalui kacamata Eropa atau Amerika. Hal tersebut membuat Freire harus mendekam di penjara selama 70 hari. Namu tidak berhenti sampai di situ, Freire tetap mengeluarkan karya-karya di bidang pendidikan. Buku pertamanya adalah Education as the Practice of Freedom (1967) dan disusul karya-karyanya yang lain, seperti: Pedagogy of the City (1993), I (1995), Pedagogy of Heart (1997), dan Pedagogy of Freedom (1998).

2 Mei 1997, Paulo Freire meninggal dunia di Rumah Sakit Albert Einstein, Sao Paulo. Di samping meninggalkan karya dan buah pikiran yang fenomenal, Freire juga mewariskan keteladanan hidup sebagai pribadi yang terbuka, jujur, lugas, kreatif, dan penuh perjuangan.

Pendidikan Inti Kebebasan

Berangkat dari masalah humanisasi dan dehumanisasi, masalah yang sebetulnya selalu melekat pada diri seseorang. Freire mengatakan bahwa sesungguhnya humanisasi adalah fitrah bagi manusia. Namun dalam realitasnya, adanya pemolaan yang dibuat oleh kaum penindas, membuat humanisasi makin diingkari. Pemolaan yang menjadikan kaum tertindas sebagai “objek” yang dipaksa tunduk pada struktur yang telah dibuat. Entah dengan perampasan hak, penindasaan, ataupun bentuk kekejaman lainnya. Pengingkaran inilah yang disebut dengan dehumanisasi.

Dehumanisasi, yang menandai bukan hanya mereka yang telah dirampas kemanusiaannya, tetapi juga (biarpun dalam cara yang berbeda) mereka yang telah merampasnya….” (hlm.11)

Menurut Freire, dehumanisasi makin dilanggengkan dengan adanya konsep pendidikan yang dikenal dengan “pendidikan gaya bank”. Konsep pendidikan gaya bank, secara terstruktur mengupayakan matinya daya kritis dari murid-murid. Hal ini tidak lain untuk kepentingan si penindas. Semakin terkuburnya daya kritis murid, maka akan semakin mudah penindas mewujudkan tatanan kehidupan yang mereka inginkan. Sebisa mungkin konsep ini menggiring muridnya menuju pembungkaman realita dan antidialog.

Freire menjelaskan, pendidikan gaya bank menjadikan guru sebagai subjek yang bercerita kepada objek (murid) yang patuh mendengarkan. Guru hanya sekadar menyampaikan tanpa memberikan pemahaman tentang realitas yang terjadi. Dalam hal ini, Freire menyebut murid-murid sebagai bejana kosong yang siap diisi. Kecenderungan menerima tanpa pemahaman membuat murid-murid dipaksa mengiyakan segala yang disampaikan. Karena yang terpenting adalah bejana terisi penuh oleh cerita-cerita yang disampaikan.

Penindas membuat batasan dengan menjauhkan kaum tertindas dari realita dunia. Para penindas inilah yang akan memanipulasi keadaan agar kaum tertindas merasa nyaman di dunia yang sebetulnya tipuan. Dengan cara memberikan pandangan terbatas terhadap realitas, pemahaman statis terhadap dunia, serta pembebanan suatu pandangan dunia terhadap yang lain.

Sebagai upaya pembebasan dari dehumanisasi, Freire menawarkan gaya pendidikan hadap-masalah. Dalam pendidikan hadap-masalah, tidak ada lagi istilah guru-nya murid dan murid-nya-guru. Karena langkah awal yang dilakukan adalah memecah kontradiksi antara guru dan murid. Mereka sama-sama belajar dan berdialog untuk menemukan jalan keluar dari suatu masalah. Guru bisa menjadi guru sekaligus murid dalam satu waktu. Begitu pun sebaliknya.

Pendidikan hadap-masalah menegaskan jika manusia adalah makhluk yang selalu berproses untuk menjadi. Pendidikan hadap-masalah menekankan bahwa manusia harus  bisa melampaui diri mereka sendiri. Mereka dituntut untuk mewujudkan suatu pembebasan dengan membaca realitas yang ada. Pembebasan yang hanya bisa dilakukan melalui praksis (refleksi dan tindakan).

Dalam pendidikan hadap-masalah, manusia mengembangkan kemampuannya untuk memahami secara kritis cara mereka mengada dalam dunia dengan mana dan dalam mana mereka menemukan diri sendiri. Mereka akan memandang dunia buka sebagai realitas yang statis, tetapi sebagai realitas yang berada dalam proses”. (hlm.69)

Dialog menjadi salah satu syarat menyelenggarakan pendidikan hadap-masalah. Melalui dialog, guru dan murid (tanpa dikotomi antar keduanya) akan bersama meneliti realitas dan menciptakan “dunia baru” yang memungkinkan adanya perubahan tatanan kehidupan yang mengukuhkan kebebasan. Dialog menuntut adanya keikutsertaan kaum tertindas dan kerja sama dengan pemimpin revolusioner. Hal ini bertujuan untuk menyadarkan kaum tertindas dari realitasnya sebagai objek penindasan. Karena bagaimana pun juga, pembebasan hanya bisa dicapai jika kesadaran akan ketidakadilan telah tertanam dalam jiwa kaum tertindas. Selanjutnya, sintesis kebudayaan akan terjadi sebagai bentuk perlawanan kepada pola kebudayaan si penindas.

Hakikatnya, pembebasan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang tertindas. Apabila proses pembebasan dilakukan oleh kaum penindas, maka hal tersebut, menurut Freire, hanyalah “kemurahan hati palsu” untuk melanggengkan kekuasaan.

Akan tetapi dalam perjalanannya, Freire mengungkapkan bahwa rintangan terbesar dari pembebasan adalah ketidakberdayaan kaum tertindas untuk menyuarakan hak-haknya. Mereka sudah jauh tenggelam dalam tatanan yang dibuat oleh para penindas. Sehingga pola pikir yang tertanam adalah ketakutan akan adanya penindasan yang lebih kejam jika mereka bangkit untuk upaya pembebasan.

Konteks Pendidikan di Indonesia

Buku ini cocok sekali dibaca oleh seseorang yang menginginkan adanya revolusi dalam pendidikan, khususnya di Indonesia. Pendidikan gaya bank yang dijelaskan Freire tidak hanya terjadi pada zaman-nya saja, namun terjadi juga di Indonesia masa sekarang. Sistem pendidikan yang menggiring muridnya untuk patuh terhadap apa yang guru sampaikan menjadi indikasi adanya konsep pendidikan gaya bank. Misal saja penggunaan metode ceramah yang populer di sekolah-sekolah. Murid tidak memiliki akses untuk menapatkan ilmu lebih dalam karena guru mengambil alih seisi kelas. Tugas guru yang “transfer of knowledge” hanya sebatas istilah itu saja. Yang terpenting adalah murid dapat menyelesaikan soal saat ujian, mendapat nilai bagus, dan lulus dengan hasil yang sempurna.

Adanya masalah-masalah dalam pendidikan di Indonesia sebetulnya adalah buah dari kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Adanya pengharapan akan terselenggaranya pendidikan yang baik dan sehat membuat lembaga terkait berusaha meningkatkan kualitas pendidikan dengan berbagai cara. Sebut saja pembaharuan kurikulum yang berbasis Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sampai kurikulum 2013.

Dua pembaharuan di atas diharapkan membuat suasana dalam kelas yang dialogis. Murid dituntut aktif dengan cara memaparkan materi yang telah guru berikan sebelumya dan terlibat diskusi dengan sesamanya. Namun dalam perjalananya, pembaharuan yang dilakukan salah kaprah serta belum cukup untuk mengubah gaya pendidikan yang hanya menabungkan pengetahuan kepada murid. Guru yang berpatokan kepada kurikulum yang dibuat oleh pemerintah tidak bisa berbuat banyak. Sekadar menyampaikan materi, kemudian menjadi alat pembenar dari diskusi murid tanpa adanya penjelasan yang mendalam. Dalam hal ini, jelas terlihat bahwa tidak hanya murid yang “tertindas” oleh sistem tetapi guru pun demikian.

Maka dari itu perlu adanya pemimpin revolusioner yang dimaksudkan dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas. Seseorang yang mampu menciptakan sistem pendidikan agar sesuai dengan hakikat pendidikan yang memanusiakan manusia. Pendidikan yang berorientasi kepada murid-murid dan bukan untuk kepentingan pemerintah. Menjadikan pendidikan sebagai alat untuk mencapai suatu kebebasan.

Penulis: Siti Qoiriyah

Editor: Ahmad Qori Hadiansyah

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *