Membaca dan Menulis Kritis

No Comment Yet

“Menulislah! Karena menulis bagian dari peradaban,” ucap Virdika Rizky Utama dalam lanjutan Pekan Jurnalistik (Pekjur) (26/6). Hari kedua acara tersebut, Virdika berkesempatan mengisi materi teknik penulisan. Berkaitan dengan tema pekjur, ia mengatakan bahwa hoax muncul karena media lebih menekankan pada video ataupun gambar. Akhirnya, teks menjadi minim. 

Seperti halnya Indra Gunawan, Virdika juga menganggap bahwa kecepatan berita berkontribusi dalam maraknya hoaks. Menurutnya, kecepatan berita mengakibatkan tahap verifikasi tidak maksimal. Maka dari itu, Virdika menekankan bahwa kita harus memiliki minat membaca dan memaksakan diri untuk membaca. 

Kampus, menurut Virdika juga kerap dihinggapi hoaks. Menurutnya, itu hadir karena ego intelektual ketika sudah menguasai satu bidang ilmu pengetahuan. Misalnya, orang yang telah menguasai bidang sejarah tidak mau mempelajari bidang yang lain. “Kita harus memiliki banyak perspektif agar lebih kritis dalam menerima berita,” ucap penulis buku Demokrasi dan Toleransi dalam Represi Orde Baru ini. 

Virdika juga mengatakan, sebelum menulis, dianjurkan untuk membaca.  Sebelum menulis, sebetulnya dianjurkan membaca.  Tujuannya, agar memiliki perspektif dan kosa kata yang baru. Ia juga mengingatkan, jangan sampai bacaan yang kit abaca bersifat dogmatis. 

“Makanya, setalah membaca kita harus berpikir,” ucapnya.  Ia menjelaskan, tahapan ini sebagai bentuk refleksi dari kegiatan membaca. Ia mencontohkan, semisal membaca tulisan Soekarno yang ditulis pada 1945. Selaku pembaca harus merefleksikannya dengan konteks saat ini, tentang relevansinya. Tahap berpikir ini juga bertujuan untuk memetakan masalah yang ada di sekitar. 

Tidak ada yang murni netral dalam menulis, terangnya. Penulis harus memiliki keberpihakan. “Misalnya, jurnalis harus mempunyai keberpihakan kepada masyarakat,” ungkapnya.

Setelah mengalami tahap diatas, baru kemudian menulis. Menulis, dalam konteks demokrasi menjadi alat untuk mengontrol. Menurut Virdi, penulis jangan takut salah. Sayangnya, ungkap Virdika, pendidikan pun tidak mengajarkan untuk menghargai kesalahan, “yang terjadi adalah orang salah dicemooh.”

Lelaki yang kini bekerja sebagai periset di Narasi.tv ini mulanjutkan, penulis  harus bisa mengartikulasikan pikirannya (dalam tulisan) semudah mungkin. Sehingga pembaca dapat memahami. Untuk menuju itu, ia mengatakan, penting untuk konsisten. Sebab, kualitas dalam menulis akan muncul apabila konsisten dalam menulis.

Menulis pun harusnya tidak sendirian untuk mengetahui tulisan tersebut dapat diterima pembaca. Agar mengetahui tulisan dapat dipahami pembaca, dibutuhkanya peran editor. Tujuannya untuk mengevaluasi tulisan, baik secara substansi maupun teknik penulisan. Hal itu bisa dilakukan dengan cara menyuruh orang lain untuk membaca tulisan. Jika orang tersebut paham, maka tulisan layak untuk disebarluaskan.

Menjawab tantangan soal menulis yang dianggap sudah tidak relevan. Ia berpendapat bahwa menulis tetaplah penting. Karena, gambar atau videopun merupakan pengejewantahan tulisan dan narasi yang dibagun. “Meskipun porsinya minim,” katanya. 

Penulis : Ahmad Qori

Editor : Muhammad Muhtar

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *