Menjahit Kerunyaman Indonesia Melalui Pendekatan Adat

No Comment Yet

Selasa (25/6), Waskita Jawi menyelenggarakan acara diskusi publik dengan tema Dondomono Rumatono Kanggo Sebo Mengko Sore. Acara ini bertempat di Pendapa Kyai Ageng Besari, Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo. Acara ini turut menghadirkan Alto Luger, seorang pemerhati geopolitik Timur Tengah asal Kepulauan Kei, Maluku dan juga Irfan Afifi, penulis buku “Saya, Jawa, dan Islam”.

Gus Muhammad Zuyyilhaq selaku salah satu punggawa Waskita Jawi memberi ‘salam pembuka’ kepada peserta diskusi dengan menjelaskan riwayat Kyai Ageng Muhammad Besari. Menurutnya, Tegalsari merupakan tanah pemberian Pakubuwono II kepada Kyai Ageng Muhammad Besari. “Ini hadiah karena ia menyelamatkan Pakubuwono II dari geger (perlawanan) di daerah asalnya, Kartasura,” ujarnya. Keraton Pakubuwono II, tambahnya, hancur akibat perlawanan tersebut. Kyai Ageng Muhammad Besari kemudian mendirikan Keraton baru untuk Pakubuwono II di Tegalsari.

Setelah itu, Kyai Ageng Muhammad Besari kemudian mendirikan Pesantren Gebang Tinatar pada 1743. Zuyyilhaq menuturkan bahwa banyak tokoh terkenal yang ditempa di Gebang Tinatar, diantaranya Ronggowarsito, seorang pujangga masyhur di tanah Jawa; H.O.S. Tjokroaminoto; dan Kyai Ageng Manan, santri pertama dari Nusantara yang sekolah di Al-Azhar, Mesir. Pesantren ini juga mengilhami pendirian pesantren serupa yang dibina oleh Kyai Ageng Muhammad Besari, yaitu Pondok Termas di Pacitan. “Hasyim Asy’ari ditempa disini (Termas -red),” tambahnya.

Kemudian acara dilanjutkan dengan Gus Lutfi, moderator asal Waskita Jawi yang menjelaskan makna dari tema acara. Dondomono Rumatono Kanggo Sebo Mengko Sore disadur dari sebuah lirik dalam tembang dolanan, Lir Ilir. Lutfi menambahkan bahwa lirik ini relevan dengan kondisi Indonesia pada masa kini yang penuh dengan konflik, yang perlu dondomono (dijahit) dan rumatono (dirawat).

Kondisi ini menurutnya menciptakan tiga pola konflik; ghanimah (konflik dengan motif ekonomi), qabilah (konflik dengan motif suku), dan aqidah (konflik dengan motif agama). Lutfi melanjutkan bahwa ketiga pola ini saling berkaitan. “Dalam konflik, ada yang mengatasnamakan agama demi kepentingan suku dan kepentingan ekonomi,” ujarnya.

Alto Luger menjelaskan perihal dari masalah ini. Menurutnya, nilai-nilai keberagaman di Indonesia cenderung disepelekan sehingga muncul konflik. “Contohnya, konflik Maluku. Maluku yang dulunya dipuja karena keberagamannya, setelah Orde Baru malah ada konflik agama,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa sebenarnya adat menjadi faktor pemersatu, melebihi agama di Nusantara. Faktor pemersatu itu berubah setelah Belanda masuk ke Indonesia. “Mereka ingin menciptakan kesamaan dengan teologi tunggal dan menghapuskan kebudayaan Indonesia,” tegasnya.

Alto juga berkomentar mengenai Indonesia yang plural. Sebagai orang yang berpengalaman hidup di zona konflik, Alto mensyukuri kehidupan di Indonesia. “Sebenarnya Indonesia itu masyarakatnya asimilatif dan geografisnya juga mendukung hal itu,” tambahnya.

Alto menyatakan keheranannya terhadap orang-orang Indonesia yang tergiur dengan ajakan jihad ke daerah konflik di Timur Tengah. “Padahal perang sama sekali nggak enak, lho. Orang-orang pengen aman. Tapi kok ada yang mau tinggal di daerah perang?” Ia juga menambahkan bahwa konflik di Timur Tengah terjadi karena identitas kebudayaan nasionalnya diragukan.

Sementara itu, Irfan Afifi menuturkan bahwa bangsa Indonesia senang menjadi konsumen kebudayaan. Hal itulah yang menurutnya tidak bisa memunculkan jati diri kebudayaan bangsa, sehingga mudah tercipta konflik. “Kita ini sebenarnya jangan-jangan tidak ingin merawat kebudayaan, menempatkannya di seberang agama, dan menjadikannya musuh.”

Agar konflik tidak tercipta, Irfan menyebutkan bahwa laku kebudayaan efektif untuk menekan hal itu. “Kita berpikir bagaimana rosone ngenake ati orang lain,” ujarnya.

Pembentukan laku menurut Irfan terbagi menjadi beberapa proses, diantaranya mendisiplinkan diri, menajamkan cipta, mempunyai jiwa yang berorientasi kepada Tuhan, dan memanusiakan manusia. Mendisiplinkan raga berarti membuat diri menjadi takut terhadap aturan. Menajamkan cipta berarti mengenali kebenaran dan kebaikan, dalam hal ini toleransi terhadap apapun termasuk agama.

Mempunyai jiwa yang berorientasi kepada Tuhan berarti menerapkan sifat dan ‘asma Tuhan dalam segala aspek kehidupan. Irfan menekankan masalah intoleransi kepercayaan dalam argumennya. “Kalau kamu sebagai orang yang berorientasi kepada Tuhan tapi membenci orang-orang yang memilih untuk tidak percaya kepada Tuhan, artinya kamu belum bisa mencerminkan kehendak Tuhan. Islam sederhananya adalah mengikuti kehendak Tuhan,” tegas lulusan Filsafat Universitas Gadjah Mada ini. Terakhir, karsa untuk memanusiakan manusia. Orang-orang yang sudah punya karsa ini menurut Irfan berarti sudah mencapai manunggal dengan kehendak Tuhan.

Irfan juga menyayangkan manusia yang menggunakan dalil agama untuk membid’ahkan tindakan manusia. Menurutnya, dalil agama tidak tercipta untuk menimbulkan konflik. “Dalil kan nggak hanya berhubungan dengan manusia saja, tapi akal juga dalil. Semesta juga dalil,” ujarnya.

Rizky Suryana

Editor : Annisa Nurul

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *