Belajar dari Masa Lalu untuk Memandang Masa Depan

No Comment Yet

Sabtu (3/8) Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi (BEMP) Pendidikan Sejarah menggelar Diskusi Publik bertajuk “Refleksi 74 Tahun Pasca Kemerdekaan Indonesia.” Diskusi yang merupakan momentum menuju peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-74 itu menghadirkan Anhar Gonggong, Pengajar Sejarah Kontemporer UNJ, dan juga tenaga professional Lembaga Pertahanan Nasional RI dalam diskusi tersebut. Selain Anhar, diskusi pun diisi oleh JJ Rizal, Budayawan Jakarta dan juga pemilik penerbit Komunitas Bambu.

Anhar Gonggong, melalui pemaparannya mengatakan bahwa yang mendirikan republik Indonesia adalah orang-orang yang terdidik dan tercerahkan. Bagi Anhar para pendiri republik seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir dan lainnya adalah gambaran orang-orang yang terdidik dan tercerahkan. Mereka terdidik bukan untuk dirinya sendiri. Kepentingan mereka dikebelakangkan untuk mendahulukan kepentingan bangsanya.

Ia menyebut kepribadian yang dimiliki tokoh-tokoh itulah yang bisa melambangkan istilah generasi emas. Ia membantah anggapan yang mengatakan bahwa Indonesia tidak pernah melahirkan generasi emas. Namun, masa ini memang dirasanya sedang krisis akan ketokohan generasi emas layaknya generasi Soekarno dan pendiri bangsa lainya.

Cita-cita membangun generasi emas, lanjut Anhar, di seratus tahun kemerdekaan RI tidak akan terwujud apabila pendidikan dan pemimpin yang gagal. “Jika pendidikan gagal dan hanya mencetak sarjana tidak mungkin Indonesia dapat mencetak generasi emas,” ucapnya.

Bagi Anhar pendidikan yang sedang kita jalankan harus ada kemauan melakukan evaluasi terhadap sistem yang sedang berjalan, seperti kurikulum, metode pengajarannya ataupun sistem akreditasi.

Hari ini, sudah jarang ditemui orang yang berwatak pemimpin yaitu orang yang membela kepentingan rakyat, bagi Anhar, hari ini yang ada hanyalah pejabat yang hanya mengurusi perut masing-masing. “Seharusnya lembaga pendidikan bisa menjadi sumber lahirnya pemimpin,” katanya.

Senada dengan Anhar, JJ Rizal juga menyampaikan bahwa Indonesia pernah melahirkan generasi emas. Namun ia memandang pesimis akan lahirnya generasi emas di seratus tahun kemerdekaan Indonesia. Seandanya pencerdasan tidak dilakukan semestinya. Baginya hal yang paling mencolok adalah sulitnya akses terhadap buku yang mengakibatkan minat baca menjadi rendah.

Generasi emas, di masa Soekarno, katanya, adalah para tokoh bangsa yang sangat gemar membaca buku. Ia mencontohkan, sosok bung Hatta yang gemar membaca buku. Perpustakaan pribadinya terdapat ribuan buku. Bahkan ia tidak merasa kesulitan ketika dipenjara, asalkan bersama buku. Contoh lainya, sosok pejuang wanita seperti Kartini, senang membaca buku. “Kartini itu suka main seperti kebanyakan remaja putri. Tapi dia sangat suka membaca buku,” katanya.

JJ Rizal pun mengkritisi bagaimana peran pemerintah yang tidak memberikan akses terhadap buku, seperti kertas khusus buku bacaan yang kerap disebut Book Paper tidak di produksi di Indonesia. Maka, penerbit buku harus impor dari Jepang dan negara lainnya. Itulah salah satu bentuk pembodohan yang hari ini sengaja dilanggengkan. Penerbit buku, disamping ditekan dengan berbagai macam pajak, makin dipersulit dengan akses terhadap yang harus impor. Sementara minat baca rendah, penerbit buku yang merupakan penyedia akses untuk bahan bacaan terpaksa merugi dan berkurang. Baginya pemerintah lalai dalam kewajibannya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Penulis: Aditya Septiawan

Editor: Muhamad Muhtar

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *