Fasilitas Difabel Harus Jadi Fokus Kampus

No Comment Yet

Kurangnya fasilitas difabel, menunjukan bahwa pihak kampus tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang kewajiban memenuhi hak penyandang difabel.

Mahasiswa berkebutuhan khusus atau difabel di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyebutkan bahwa kampus belum memenuhi hak mereka atas fasilitas. Hal tersebut juga dirasakan oleh mahasiswa reguler, dosen, dan wakil rektor.

Padahal, berdasarkan Permenristekdikti Nomor 46 Tahun 2017 Pasal 5, perguruan tinggi harus menyediakan sarana dan prasarana sesuai dengan kebutuhan mahasiswa berkebutuhan khusus. Meliputi pemenuhan prinsip kemudahan, keamanan, dan kenyamanan. Namun, faktanya pemenuhan hak aksesibilitas belum optimal di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Aulia, salah seorang mahasiswa penyandang tuna daksa di Pendidikan Luar Biasa (PLB) 2018 mengatakan fasilitas di UNJ masih belum ramah terhadap difabel. Penilaian tersebut berangkat dari pengalamannya. Ia harus mengikuti mata kuliah di lantai tiga dengan menggunakan tangga karena tidak tersedianya lift di gedung Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP).

Komentar lain diberikan oleh Aisyah, mahasiswa PLB 2015. Ia mengkritik fasilitas di UNJ masih belum mendukung untuk penyandang difabel, seperti braile yang masih kurang, toilet khusus difabel yang hanya ada di gedung baru, tidak ada guiding block, dan ramp (tangga landai).  “Fasilitas khusus untuk penyandang difabel harus jadi fokus kampus,” tegasnya.

Aisyah, Ketua Relawan Disabilitas (REDIS) UNJ menambahkan komentar melalui hasil penelitian tim REDIS, mengenai fasilitas difabel di UNJ. Ia menemukan toilet khusus difabel selalu dikunci atau hanya digunakan oleh dosen dan perpustakaan yang tidak ramah difabel.

Baca juga: Ironi Fasilitas Difabel

Memang, beberapa gedung baru di UNJ seperti Gedung Dewi Sartika dan Gedung Raden Ajeng Kartini sudah menyediakan fasilitas khusus difabel; lift, toilet khusus, braile dan ramp. Namun, jika berkaca dengan Perguruan Tinggi Negeri lain seperti Universitas Brawijaya (UB) yang telah memfokuskan untuk menjadi kampus yang ramah difabel, dari mulai guiding block di seluruh lingkungan kampus, ramp (tangga landai), hingga toilet khusus secara keseluruhan sudah optimal, UNJ dinilai tertinggal.

“Sudah 90% fasilitas di UB ramah untuk mahasiswa difabel,” kata Anjas Pramono Sukamto, mahasiswa UB penyandang tunadaksa yang juga aktif dalam isu disabilitas.

Laman Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dalam “Kemdikbud Siapkan Permen Tentang Pendidikan Inklusi di Perguruan Tinggi “ (14/03/2014) menyebutkan di tahun 2013, UNJ dan UB oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui Ditjen Pendidikan Tinggi sudah difasilitasi untuk membuka pusat layanan disabilitas. Kemdikbud juga memberikan dana hibah kepada UNJ dan UB untuk membangun pusat layanan disabilitas.

Akan tetapi, gerakan pemenuhan hak mahasiswa difabel oleh pihak kampus UNJ belum semasif di UB. Ketertinggalan tersebut disampaikan oleh Ketua Prodi PLB, Indina Tarjiah.  Ia juga mengatakan bahwa pihak kampus harus terus diawasi dan diingatkan agar tidak kembali acuh.

Senada dengan Indina, Asep Supena, Ketua Koordinator Pelayanan Akademik dan Layanan Disabilitas, mengatakan kurangnya fasilitas difabel, menunjukan bahwa pihak kampus tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang kewajiban memenuhi hak penyandang difabel.

Ia juga menambahkan pihak kampus nyaris tidak pernah melibatkan pihak layanan disabillitas dalam perancangan pembangunan fasilitas.

Selain itu, Asep juga menyoroti fasilitas trotoar yang berantakan sehingga tidak memenuhi syarat. Menurutnya hal tersebut juga menjadi hambatan pembuatan guiding block untuk mahasiswa tuna netra. “Gimana mau di buat guiding block, trotoar pun masih seperti ini. Tidak rata, terhalang pohon dan rambu. Seharusnya ya trotoar bebas hambatan baru bisa dibuat guiding block,” katanya.

Masih dari Asep, ia khawatir rencana pemenuhan fasilitas khusus difabel yang dijanjikan kampus tahun ini kembali menjadi wacana belaka, “Kita tunggu saja, semoga bisa benar terlaksana,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Komarudin, Wakil Rektor 2, mengatakan bahwa ia baru akan membangun guiding block di lingkungan kampus tahun ini.

Ia juga mengakui bahwa UNJ belum sepenuhnya ramah difabel, dan masih banyak yang harus dibenahi. “Kami sudah merencanakan pembangunan guiding block untuk mahasiswa tuna netra, tetapi belum dikoordinasikan kembali,” pungkasnya.

Penulis: Evan Favian K. dan Vamellia Bella

Editor: Uly Mega Septiani

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *