Fenomena Skizofrenia dalam Media Sosial

No Comment Yet

Media sosial merupakan tempat dimana kita bisa mendapatkan informasi dengan cepat. Tak jarang informasi tersebut langsung kita terima tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu, sehingga dapat memunculkan perseteruan. Apalagi jika membahas isu yang berkaitan dengan agama. Perbedaan keyakinan dan pandangan terhadap agama yang seharusnya dapat diselesaikan dengan kekeluargaan, nyatanya malah menjadi awal mula suatu pertengkaran yang tak berujung.

Seperti video yang baru-baru ini viral, seorang ibu yang diketahui berinisial SM (52). Ia memasuki masjid dengan marah-marah menanyakan keberadaan suaminya sambil membawa anjing dan masih mengenakan alas kaki. Sontak, kejadian tersebut membuat jemaah di dalam masjid menjadi geram, sehingga pertengkaran tidak dapat terelakkan di antara mereka. Peristiwa tersebut terjadi di Masjid Al-Munawaroh, Bogor pada 30 Juni 2019 lalu.

Dalam video tersebut, terlihat SM mencari suaminya yang ia duga akan melangsungkan akad nikah di Masjid itu. “Suami gue mau nikah lagi disini, suami gue Islam,” katanya dengan nada tinggi. Perkataan SM ditanggapi oleh petugas dewan keamanan masjid (DKM) di sana dengan nada yang sama tingginya, “ngga ada, suami ibu ngga ada!!”

Kemudian ia pun berteriak, mengaku bahwa agamanya Katolik. SM pun melepas anjingnya dan membuat para Jemaah beramai-ramai untuk mengusir anjing itu, karena menganggap anjing adalah najis. Aksi saling dorong pun terjadi antara SM dan DKM di sana. DKM dan Jemaah berhasil mengusir SM keluar dari Masjid akan tetapi SM berkata tidak ingin pulang sampai anjingnya ditemukan. Perkataan SM tersebut ditanggapi oleh masyarakat sekitar dengan beragam reaksi. Ada yang dengan baik-baik menanyakan alasan SM melakukan hal tersebut, ada juga yang membentak, bahkan langsung menghubungi polisi. Akhirnya, dari pernyataan Jemaah setempat, SM berhasil dibawa ke luar lingkungan masjid dan menuju Polres setempat.

Dilansir dari tirto.id, 2 Juli 2019, dari pernyataan Kasubag Humas Polres Bogor, AKP Ita Puspita Lena, SM ditahan dan dijadikan tersangka atas pasal penistaan agama oleh pihak kepolisian.

“Untuk penetapan hukuman, SM akan diperiksa terlebih dahulu kejiwaannya.”

Wakil Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Polri Tingkat I, Kombes Pol. Hariyanto, menyampaikan SM pernah mendapatkan perawatan kejiwaan sejak 2013. Dari hasil pemeriksaan lebih lanjut di Rumah Sakit POLRI Kramat Jati, diketahui bahwa SM mengidap skizofrenia paranoid dan skizoafektif.

Apa itu skizofrenia paranoid dan skizoafektif?

Sebelum membahas skizofrenia paranoid dan skizoafektif, saya ingin menjelaskan mengenai skizofrenia. Skizofrenia sendiri berasal dari bahasa Yunani scistos yang berarti terpecah dan pheren yang berarti otak. Dalam skizofrenia, pemecahan ini lebih diartikan sebagai terpecahnya fungsi otak yang mempengaruhi kognisi, respon-respon perasaan atau afeksi, dan tingkah laku. Contohnya, seseorang yang menderita skizofrenia mungkin tertawa sampai terbahak-bahak ketika membicarakan peristiwa yang menyedihkan, atau tidak menunjukkan emosi yang sesuai dalam menghadapi tragedi. Skizofrenia biasanya dapat diidentifikasi dan semakin berkembang pada masa remaja akhir atau dewasa awal, tepat pada saat orang mulai keluar dari keluarga menuju dunia luar (Cowan & Kandel, 2001; Hartop & Tower, 2001). Orang-orang dengan skizofrenia gagal untuk berfungsi sesuai peran yang diharapkan sebagai pelajar, pekerja, atau pasangan.

Skizofrenia tipe paranoid merupakan tipe yang paling stabil dan terlihat normal dibanding tipe skizofrenia lainnya. Mereka yang mengalami skizofrenia paranoid tidak menunjukkan dengan jelas afeksi datar atau yang tidak sesuai, atau perilaku katatonik (tidak terorganisir). Waham (atau keyakinan tanpa mempertimbangkan kelogisan dan bukti) mereka sering kali mencakup tema-tema kebesaran, persekusi, atau kecemburuan.

Tema kebesaran yang dimaksud ialah keyakinan mereka bahwa mereka memiliki hubungan khusus dengan Tuhan atau orang terkenal lainnya seperti ia mengaku sebagai titisan dewa atau Tuhan. Sedangkan tema persekusi ialah seorang penderita skizofrenia akan merasa mereka diikuti, dikhianati, dimata-matai, diracun atau diberi obat, atau difitnah atau diberi perlakuan salah. Adapun kecemburuan, mereka mungkin meyakini pasangan atau kekasih mereka tidak setia, tanpa peduli akan tiadanya bukti. Mereka juga mungkin sangat gelisah, bingung, dan ketakutan.

Sedangkan skizoafektif merupakan kondisi gabungan dari skizofrenia dan bipolar disorder. Penginap skizoafektif memiliki gejala yang mirip dengan skizofrenia seperti halusinasi atau delusi. Namun, skizoafektif juga memiliki gejala dari bipolar disorder seperti depresi dan perilaku maniak; mereka sering melakukan hal yang membahayakan dirinya, sering merasa gelisah, dan lebih mudah emosi ketika dirinya merasa tertekan atau terancam.

Skizofrenia paranoid dan skizoafektif memiliki persamaan perihal penyebab terjadinya. Kedua hal ini terjadi karena faktor genetik (keturunan), biokimia yaitu aktifitas yang berlebihan dari reseptor dopamine atau yang mempengaruhi emosi, gerakan, sensasi senang dan rasa sakit di otak. Pengidap skizofrenia paranoid dan skizoafektif juga memiliki persamaan dalam struktur otak, salah satu contohnya yaitu tiga hingga empat pasien mengalami pembesaran ventrikel di otak (daerah yang berlubang diotak) sebagai tanda hilangnya jaringan otak. (Sumber: National Alliance on Mental Illness (NAMI) dan Courney, Alford & Sarfajan, 1997).

Skizofrenia dan reaksi netizen terhadap video SM

Hanya berselang sehari, video tersebut menjadi viral dan menimbulkan beragam reaksi dari masyarakat. Hal tersebut terlihat dari komentar dalam salah satu video yang diposting oleh akun Youtube bernama Doel_St Channel, seperti: “siksa aja itu emak-emak, lebih pantasnya lagi dibunuh aja, kan mampus”, “orang seperti itu bagusnya dibunuh aja biar ga buat onar dan adu domba agama”, “cepet-cepet lapor polisi? Kenapa ga dianiaya dulu biar tau rasa itu ibu-ibu sama buat pelajaran orang kafir”, “dimatiin gapapa orang kaya gini, dasar iblis”. Namun, tak banyak juga dari mereka yang berkomentar untuk memaklumi karena kondisi kejiwaan SM.

Walaupun, polisi sudah memeriksa dan memberikan pernyataan terkait kesehatan mental SM, hal tersebut pun tidak semua masyarakat menerimanya. Ada yang berkata SM itu tidak gila hanya karena mampu membawa mobil dan berperilaku layaknya orang normal (memakai baju, menggunakan telepon genggam). Komentar-komentar tersebut sebenarnya dapat dimaklumi karena masyarakat termasuk awam dalam hal ini. Tapi, menolak hasil yang sudah dipastikan dari tes kejiwaan yang dilampirkan kepolisian bukan merupakan hal yang benar.

Dari peristiwa ini, kita dapat melihat bahwa masih banyak masyarakat yang menerima langsung informasi yang didapat. Tidak banyak yang mengkritisi jika mendapat suatu informasi, atau mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Masih banyak masyarakat yang belum bijak dalam menghadapi informasi yang diterima.

Mungkin karena persoalan ini berkaitan dengan agama, terkadang masyarakat terlalu menutup diri tidak mau mendengar pendapat lain dan langsung menyimpulkan yang benar dan salah. Padahal, masih ada yang harus kita perhatikan, dan cari tentang kebenarannya. Komentar-komentar yang berisi makian malah terlihat sebagai pemuas nafsu mereka untuk menjatuhkan seseorang. Padahal sebagai orang yang lebih ‘sadar,’ kita harusnya mempertimbangkan alasan SM melakukannya untuk mengambil kesimpulan.

Peristiwa tentang najis dan Masjid pun pernah ada dalam masa Rasulullah SAW., dalam salah satu hadits riwayat Bukhaari no 221 dan Muslim no. 284:

“Dari Anas bin Malik ra, seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardik orang ini. Namun, Rasulullah SAW melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Rasulullah SAW memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami.”

Dalam peristiwa tersebut Rasulullah SAW menanggapi perilaku tersebut dengan tenang dan memberi nasihat bijak kepada orang Badui tersebut tentang fungsi dan etika memperlakukan masjid. Sebagai orang yang mengaku beragama, seharusnya kita pun dapat menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Reaksi seperti kesal dan kaget pada saat melihat kejadian ini mungkin dapat diwajarkan, tapi jika sampai mengancam dan berharap SM sampai harus disiksa dan dibunuh tentu sudah keterlaluan. Memang kita mungkin tidak bisa persis seperti Rasulullah dalam menyikapi setiap masalah, tapi sebagai umatnya kita diajarkan untuk meniru sikapnya. Akan tetapi, melakukan sunnah satu persatu lebih baik asalkan tetap istiqomah dalam melakukannya daripada memaksakan langsung meniru semua perilaku Rasulullah tapi tidak mendapat pembelajaran yang benar sehingga salah kaprah.

Islam maupun agama lain tentunya mengajarkan untuk saling mengasihi dan menyayangi. Apalagi, SM memiliki gangguan kejiwaan yang seharusnya lebih mendapat perhatian dan lingkungan yang mendukung kesehatan mentalnya. Daripada terus menghakimi SM lalu membuat kesehatan kejiwaannya semakin terganggu, mengapa kita tidak mengintropeksi diri dan mulai mengkritisi suatu informasi yang didapat?

Referensi: Nevid, Jefferey S., Spencer A. Rathus, dan Beverly Greene. 2006. Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga.

Penulis: Tri Sulastri

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *