Lapak Baca di tengah Maraknya Razia

No Comment Yet

Maraknya razia buku di Indonesia, menjadi sorotan. Terhitung dalam waktu satu minggu saja, terjadi dua kali razia buku. Razia itu dilakukan oleh yang dilakukan oleh organisasi masyarakat (ormas) dan kepolisian. Di Probolinggo, pada Sabtu, (27/7/2019) razia dilakukan pihak kepolisian terhadap komunitas Vespa Literasi. Sedikitnya empat buku diamankan Polisi antara lain, Dua Wajah Dipa Nusantara, Menempuh Jalan Rakjat, Sukarno, Marxisme & Leninisme, serta D.N. Aidit: Sebuah Biografi Ringkas.

Satu minggu kemudian di Makassar, Sulawesi Selatan, ormas Brigade Muslim Indonesia (BMI) melakukan razia di Gramedia Trans Mall Makassar. Beberapa buku yang ikut kena sikat ormas ini, yakni Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme dan Dalam Bayang-Bayang Lenin: Enam Pemikiran Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka. Kedua buku itu ditulis Franz Magnis-Suseno yang merupakan rohaniawan katolik, penulis, dan guru besar dalam bidang filsafat.

Razia dengan dalih mengamankan buku yang dianggap berisi paham-paham radikal menjadi ironi. Ketika pemahaman akan paham radikal dilihat secara serampangan. Hal itu tergambarkan setelah dirazianya buku berjudul Pemikiran Karl Marx: dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Sebab, dalam wawancara yang dilakukan tirto.id, diakui penulis buku menjelaskan bahawa tujuanya menulis untuk mengkritik komunisme yang kini dikenal sebagai salah satu paham yang dianggap berbahaya di Indonesia.

Solidaritas komunitas literasi

Merespon maraknya razia terhadap buku, beberapa pelapak di dalam wadah komunitas Kolektif Baca yang tersebar di seluruh Indonesia menggelar lapak baca serentak. Di dalamnya terdapat 106 komunitas yang sepakat menggelar lapak baca pada Sabtu (10/8/2019).

“Lapak baca serentak ini dibangun atas dasar keresahan bersama mengenai maraknya razia buku yang dilakukan setelah selesai pemilu,” ujar Aditya Pratama seorang aktivis dari Pustaka Literaksi Bogor ditengah aktivitas menggelar lapakan di Taman Ekspresi, Sempur, Bogor.

Aditya menjelaskan, bahwa razia buku saat ini sudah tidak relevan setelah tahun 2010 dicabutnya Undang-Undang Nomor 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum. Saat ini, untuk bisa menarik peredaran  buku harus melalui mekanisme hukum yang jelas. Pertama harus ada yang melapor, itupun harus dengan pembuktian yang kuat. Setelah itu, baru bisa sampai tahapan proses peradilan.

Atas dasar kurangnya minat baca dan minimnya literasi di masyarakat, lapak baca ini pun lahir. “Perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah Iqra yaitu membaca. Membaca itu bisa apa saja, termasuk wacana alternatif kiri. Jadi, kita sebenarnya sudah diberikan kebebasan dalam membaca,” lanjutnya. Seperti yang dilakukan komunitas literasi pada umumnya, tidak dikenai biaya sepeser pun alias gratis.

Di tengah berlangsungnya lapak baca serentak tersebut, di Makassar kembali terjadi insiden. Kolektif Literasi Makassar (KLM) yang menggelar lapak baca di area Pantai Losari, terpaksa mengemasi buku lebih cepat. Setelah Satuan Polisi Pamong-Praja (Satpol PP) membubarkan lapak baca tersebut. Semula lapak baca buku ini berjalan seperti biasanya, namun pada agenda pembacaan puisi oleh salah satu anggota KLM, ia mendapat perlakuan kurang terpuji oleh Satpol PP dengan mengambil secara paksa TOA saat pembaca puisi. Akhirnya pihak kepolisian membubarkan lapak baca dengan dalih akan adanya ormas reaksioner yang sedang konvoi. KLM pun pada akhirnya mengemasi buku-buku dan membubarkan diri terang Parle, salah satu penggagas lapak baca KLM melalui press release.

Penulis: Evan K.

Reporter: Evan K.

Editor: M. Muhtar

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *