Membangun Kualitas Penyiaran Sepak Bola

No Comment Yet

Rabu (21/8), Indonesia Sport Expo and Forum (ISEF) kembali digelar oleh Expotama Sinergi. Bekerja sama dengan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), mereka menyelenggarakan diskusi mengenai penyiaran dan jurnalisme sepak bola di era modern. Diskusi ini menghadirkan Paul Dempsey (Presenter Premier League di BT Sports), Hadi ‘Bung Ahay’ Gunawan (Produser Olahraga MNC), dan Rais Adnan (Deputy Chief Editor Goal.com).

Paul Dempsey membuka diskusi ini. Ia membawa tajuk dinamika penyiaran sepak bola di Inggris. Menurut Dempsey, terdapat revolusi besar dalam sepak bola Inggris ketika memasuki awal dekade 1990-an. Revolusi itu terjadi karena masyarakat Inggris ingin mengubah persepsi sepak bola yang tadinya menghadirkan kekerasan fisik dan tragedi yang dialami oleh suporter, menjadi sepak bola industri melalui penyiaran.

“Tragedi Heysel kemudian mereformasi bentuk stadion di Inggris, dan juga di Eropa,” ujar presenter sepak bola yang sudah bekerja lebih dari 30 tahun ini. Tragedi Heysel merupakan tragedi yang dialami suporter Liverpool asal Inggris dan Juventus asal Italia di Stadion Heysel, Belgia pada 1985. Liverpool dan Juventus bertemu pada gelaran Final Piala Champions. Ia juga menambahkan bahwa bentuk stadion yang tribunnya dibuat tinggi memperbaiki tayangan sepak bola di Inggris.

Dempsey juga menambahkan bahwa pemilik Sky, Rupert Murdoch berupaya membangun standar yang baik untuk penyiaran sepak bola mulai awal dekade 1990-an. Ia menganggap pemain sepak bola asal Inggris begitu bahagia hidupnya karena klub yang tercukupi dari nilai hak siar. “Di Inggris, terdapat keadilan dalam pembagian hak siar. Bahkan klub dengan posisi terbawah mendapat hak siar per musim,” tambahnya.

Perhitungan kontribusi hak siar terhadap tiap klub di Premier League ditentukan dari pendapatan penyiaran di dalam negeri dan di luar negeri. Untuk penyiaran dalam negeri, 50% merupakan equally shared (pembagian hak siar secara merata), sisanya masing-masing 25% merupakan merit payments (pembagian berdasarkan klasemen akhir) dan facility fees (pembagian berdasarkan seberapa sering klub tayang di televisi). Pembagian hak siar secara merata juga didapatkan oleh klub ketika tayangannya bersifat internasional.

Sebagai contoh, kontribusi hak siar dalam negeri atau facility fees terbesar pada musim Premier League 2018-2019 diraih oleh Liverpool (29 kali siaran langsung) sebagai peringkat kedua musim lalu sebesar 33,5 juta poundsterling. Terendah diraih oleh Huddersfield Town, AFC Bournemouth, Watford, dan Southampton (masing-masing 10 kali siaran langsung) sebesar 12,1 juta poundsterling.

Sementara itu, international broadcaster dibagi rata per klub Premier League sebesar 43,2 juta poundsterling pada musim 2018-19. Total yang digelontorkan sebesar 863,7 juta poundsterling.

Hadi melanjutkan pembahasan mengenai penyiaran sepak bola. Ia berkata bahwa Liga Indonesia tertinggal jauh perkembangan penyiarannya dibandingkan dengan Inggris. “Inggris sudah berlari sejak 1938, kita baru memulai pada 1994,” ucap pria yang akrab disapa dengan Bung Ahay ini.

Hadi menjelaskan maksud ucapannya. Ia berkata bahwa sejarah penyiaran sepak bola Indonesia dimulai sejak Asian Games 1962 di Jakarta. Kemudian berlanjut ke dekade 1970-an dan 1980-an yang didominasi oleh siaran pandangan mata via radio. Rais Adnan menimpali pernyataan Hadi, bahwa TVRI hanya menyiarkan big match klub Perserikatan atau pertandingan Tim Nasional (Timnas) Indonesia pada dekade tersebut. “Kebanyakan masyarakat Indonesia memilih langsung datang ke stadion,” tambahnya.

Memasuki era Liga Indonesia, siaran langsung mulai dilakukan oleh televisi nasional. Menurut Rais, hak siar Liga Indonesia sulit dijual kepada televisi karena nilai kompetisinya yang rendah. “PSSI malah membeli slot ke pihak televisi,” kata Rais. Stasiun televisi yang menyediakan slot untuk PSSI pada era tersebut adalah ANTV dan RCTI.

Nilai hak siar Liga Indonesia menurut Rais meningkat setelah Indonesia terbebas oleh sanksi FIFA pada 2016. Nilai hak siar Liga Indonesia saat ini berada di kisaran angka 300 milyar rupiah per musim kompetisi. Jauh berbeda ketika dipegang ANTV pada waktu Liga Indonesia, hanya sekitar 10 milyar rupiah per musim kompetisi.

Kendala lainnya dalam penyiaran juga dirasakan oleh Hadi. Ia menyebutkan bahwa dahulu saat Liga Bank Mandiri 2000 siaran tidak bisa menjangkau luar Jawa karena biayanya yang mahal. Malah, Hadi pernah merasakan stasiun televisinya mengalami kerugian luar biasa ketika ingin menyiarkan pertandingan.

“Waktu itu, kita sudah keluar biaya produksi 800 juta untuk match di Papua. Ehh malah dibatalkan pertandingannya. Atasan marah besar saat itu,” ujarnya. Pembatalan pertandingan menurut Hadi terjadi pada masa dualisme organisasi dan liga, antara tahun 2010-2013.

Selain itu, Hadi menyebutkan bahwa kualitas penyiaran di Indonesia begitu terlambat. Ia mencontohkan beberapa standar alat-alat penyiaran seperti kamera. “Kamera untuk siaran Liga Indonesia harusnya menggunakan lensa berukuran minimal 80 seperti luar negeri. Liga Indonesia malah maksimal ukuran lensanya 80,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa penyiaran dalam sepak bola harus dimengerti oleh setiap bidang kerjanya. “Contohnya kameramen, ia harus mengerti aturan-aturan dalam sepak bola dan menyajikan untuk pemirsa. Ia tidak boleh kerja dengan menuruti ego dirinya,” ucapnya.

Penulis: M. Rizky Suryana

Reporter: M. Rizky Suryana

Editor: M. Muhtar

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *