Amal Hari Jum’at

No Comment Yet

Hari ini adalah jum’at. Hari yang menakutkan bagi Mirah, siswi SD Dusun Tegalang. Bukan tanpa sebab ia takut dengan jum’at. Nyatanya, diam-diam dia memendam luka yang terakumulasi tiap minggunya selama hampir tiga tahun. Luka itu berpusat dari salah satu gurunya.

Bu Aisyah. Begitulah panggilan normatif murid-murid SD Waruga kepada guru agama Islam. Sekilas nama yang bagus. Bagaimana tidak? Aisyah merupakan nama istri Nabi Muhammad SAW.

***

“Teng teng teng teng teng..” suara bell sekolah berbunyi. Tanda seluruh siswa harus memasuki ruang kelas. SD waruga memang masih tradisional sekali. Mungkin juga karena letaknya yang jauh dari kota—sehingga masih menggunakan kentongan sebagai bel sekolah.

Mirah duduk di shaf ketiga baris kedua dari pintu. Mirah paham ia harus menerima kepahitannya. Ia menunduk, muram. Ia tahu bahwa hari ini ia tidak akan makan atau minum di sekolah. Siswi kelas tiga SD itu diam saja, menunggu pelajaran pertama dimulai.

“Assalamu’alaikum..” terdengar suara lembut Bu Nuri.

“Wa’alaikumussalaam,” ujar murid-murid menyambut kedatangan Bu Nuri. Mirah tersenyum simpul. Ia suka belajar Bahasa Indonesia dengan Bu Nuri. Suaranya yang lembut, cara mengajarnya yang mengayomi bak seorang ibu kandung, membuat semua murid menyematkannya dengan gelar ‘guru favorit’.

Di tengah fokusnya belajar dengan Bu Nuri, terdengar ketukan pintu cukup keras, juga dengan tempo cepat. Mirah deg-degan. Selalu seperti itu tiap jum’atnya. Tangannya gemetar, matanya melirik ke kanan-kiri diiringi tengokan kepalanya. Mirah panik.

“Assalamualaikum!”

“Wa’alaikumussalam,” jawab semua murid dan tak luput, Bu Nuri.

Suasana kelas yang hening seketika berubah menjadi gaduh, semua murid seolah panik bagaikan ada bencana alam.

“Bu Aisyah, eh, Bu Aisyah!” ucap Rini, teman sebangku Mirah.

Mampus lu, kena cubit lagi!,” terdengar suara Tono berbicara pada Romi.

“Ayo, anak-anak, jangan lupa beramal ya hari jum’at,” ucap Bu Nuri dengan senyuman, namun Mirah paham ada ekspresi tidak mengenakkan dari Bu Nuri.

Bu Aisyah yang tadi sibuk mempersiapkan kantong plastik, kini mulai melakukan aksinya. Ia berkeliling dari siswa ke siswa—dimulai dari Kartika, teman Mirah yang duduk dekat pintu.

“Ah, gimana sih Dodo. Amal kok gopek doang!,” ujar Bu Aisyah sambil mencubit pipi Dodo.

Bukan pemandangan aneh di SD Waruga, ketika jum’at murid-murid berpipi merah. Tak bukan dan tak lain adalah karena cubitan maut Ibu Aisyah, guru agama.

Dodo memang bukanlah orang kaya, namun Bu Aisyah seperti tak menghiraukannya. Baginya, murid-murid haruslah beramal banyak. Bukan gopek, atau seribu rupiah.

“Minimal amal tuh dua rebu lah. Gimana sih?!” ucap Bu Aisyah sambil mencubit pipi Centini. Bu Aisyah memang tidak mendiskriminasi gender dalam hal ini.

Kini langkah Bu Aisyah semakin dekat ke arah Mirah. Hanya tinggal melewati Rudi, Intan, Tono dan Syahri. Empat nama ini pun tak luput dari cubitan maut bu Aisyah.

Mirah semakin deg-degan.

Ia mengepal erat-erat uang di tangannya.

Sesampainya Bu Aisyah di depannya, ia menarik napas. Dengan gemetar ia memberikan uang amal itu.

“Gopek lagi, gopek lagi! Kebiasaan si Mirah dari kelas satu segini-segini aja,” ucap Bu Aisyah.

Mirah tahu akan ada apa setelah ocehan ini. Yap, benar. Mirah dicubit lagi. Matanya berkaca-kaca. Ia ingin sekali berteriak, ingin sekali mengoceh juga. Dalam hati, ia hancur. Ia merasa ini tidak benar, tetapi ia tak bisa melakukan apa pun. Ia hanya menunduk, termangu.

Pertanyaannya masih sama tiap jum’atnya,

“Apakah yang dimaksud dengan ikhlas beramal? Apakah yang dimaksud dengan beramal baik? Mengapa amal harus memiliki kata ‘minimal’?”

Mirah benar-benar diam tanpa suara, namun riuh dalam hatinya.

“Nak, tolong ya. Kalian kalau hari jum’at tuh bilang sama orangtua. Minta uang buat amal. Ntar juga dikasih, masa iya orangtua ngga ngasih? kan gamungkin. Amal tuh jangan gopek, jangan seribu…”

Mirah tahu betul lanjutan kata-kata setelah ini,

“Minimal dua ribu lah,” ujar Mirah dalam hati, berbarengan dengan bu Aisyah yang mengoceh di depan kelas.

Bu Aisyah pun pamit dan melangkah pergi, bersamaan dengan uang jajan Mirah yang pergi juga—dalam kantong plastik bu Aisyah.

Annisa Nurul H.S.

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *