Involusi Sistem Sosial dan Frustasi Diri

No Comment Yet

Judul Buku: The Catcher in Rye

Penulis: J.D. Sallinger

Tahun Terbit: 2017

Penerbit: Banana

Tebal Buku: 296 halaman

Mengapa buku ini disukai para pembunuh? Begitu kalimat yang tertulis di sampul belakang buku ini. Menarik memang, walaupun sudah banyak yang menganalisis juga, kenapa sebuah novel –yang sering dilihat “hanya” sebuah cerita belaka– bisa menjadi motivasi orang unuk membunuh. Sebetulnya, studi kasus tentang pembunuh yang mengatasnamakan buku ini, bukan jenis pembunuhan berantai atau massal. Pembunuhan ini lebih pada pembunuhan terhadap satu orang atau tokoh (tunggal tidak massal).

Misalnya John Lennon dibunuh oleh David Chapman yang menggemparkan itu. Atau aktris Rebecca Schaeffer dibunuh oleh Robert Bardo. Sisanya tidak sampai dibunuh, hanya percobaan membunuh atau melakukan tindak kekerasan terhadap tokoh. Seperti pencobaan pembunuhan terhadap presiden Roneld Reagan. Namun, bukan berlebihan kalimat di paragraf awal itu ada dibelakang buku. Sebab, beberapa hitungan untuk sebuah nyawa secara emosional, tetaplah tragis. Walaupun secara statistik tidak ada apa-apanya. Tapi boleh saja  itu menjadi  teknik pemasaran yang efektif.

***

Menariknya, justru ketika sebuah fiksi kebanyakan berbicara tentang tragedi pembunuhan, pembantaian, penjajahan dan semacamnya untuk dapat memberikan kesan tragis dan dramatis. Justru buku ini “hanya” dibangun dari konflik yang sebetulnya sederhana dan tidak begitu tragis –andaikan terjadi di sekitar kita paling-paling hanya mendapat tanggapan “belaka.” Sebab, hanya mengisahkan anak remaja sekitaran enam belas tahun yang dikeluarkan dari sekolah.

Meskipun begitu, tentunya buku ini tetap diwarnai banyak tanggapan juga kritik. Lantaran pembahasaannya sangat sederhana, populer, bahkan banyak berisi umpatan. Tidak seperti sastra-sastra dalam budaya tinggi –yang menjadi ciri khas sastra pada masa lampau– yang dinikmati karena bahasanya indah, puitis, dan melangit. Hiperbolanya, boleh saja buku ini digambarkan dengan kata “bukan main.”

Menjelaskan sedikit kisahnya,dimana Holden Caulfild, si tokoh utama dalam buku ini, terus menerus menggerutu dan membenci keadaan lewat pikirannya. Hingga rasanya kisah itu bernuansa kelabu dan emosional. Itu semua diawali, seperti sudah dijelaskan di atas, ketika ia dikeluarkan untuk kesekian kalinya dari sekolah. Sekolahnya yang terakhir ini, Pencey namanya, digambarkan sebagai sekolah yang lumayan elit, dan terkenal dengan lulusanya yang berhasil menjadi orang-orang berpengaruh. Salah satunya diceritakan, pebisnis besar pemakaman. Maka, mudah saja bagi sekolah itu untuk mengeluarkan anak-anak setipe Holden yang masa bodo.

Selain itu, dramanya berlanjut ketika diketahui ternyata wanita yang disukainya, Jane Gallagher, kencan dengan temannya yang menurutnya brengsek, Stradlater. Temannya itu dikenal sebagai lelaki yang pandai merayu dan memanfaatkan wanita. “Tekniknya maut. Yang ia lakukan adalah ia mulai merayu-rayu teman kencannya dengan suara yang begitu tenang dan tulus. Seolah-olah ia bukan saja laki-laki paling tampan di atas muka bumi ini melainkan baik serta tulus pula…Gadisnya terus berkata, “Tidak — aku mohon. Tolonglah jangan. Tolonglah””. (hlm. 63)

Ia semakin terpuruk. Belum lagi, ketika memikirkan nasib orang tuanya nanti ketika tahu ia dikeluarkan untuk kesekian kalinya. Sebagai tekanan moral sebagai anak yang tidak bisa membuat orang tuanya senang, selalu merepotkan, dan membuat orang tuanya sedih. Holden sebetulnya frustasi bahkan depresi. Rasa frustrasinya berujung pada ceracau di kepala Holden terasa gelap yang sering memandang orang secara negatif. Munafik misal, dan sebagainya.

“… kalian tahulah. Cerita cerita tentang seorang pria berdagu licin bernama David, serta gadis berotak udang bernama Linda atau Marcia yang selalu siap sedia menyalakan pipa rokok si David sialan itu.” (hlm.74)

Atau “Si Ernie sialan itu kemudian berbalik dari bangkunya dan dengan penuh basa-basi ia membungkuk ke arah penonton dengan rendah hati. Seolah selain seorang pemain piano paling piawai di muka bumi ini, ialah pria paling rendah hati yang ada di jagat raya ini.” (hlm.117)

Kurang lebih, itulah yang akhirnya menjadi isi buku ini. Andaikan diganti judul menjadi “anak putus sekolah yang mengeluh” rasanya tidak terlalu salah pula. Dalam perspektif psikoanalisa, keluhan Holden adalah cara pertahanan diri. Keinginan-keinginan dan tekanan moral yang semakin kuat, menciptakan efek depresi.

Kisah yang konflik pembangunnya hanya lewat dikeluarkan dari sekolah ini, kiranya memang sepadan. Dalam jurnal terbitan fakta psikologi Universitas Gajah Mada, berjudul Perfeksionisme, Harga Diri , Dan Kecenderungan Depresi Pada Remaja Akhir, menjelaskan bahwa kehilangan status sosial membawa dampak pada depresi. Apalagi, konteks kehidupan Holden saat itu. Dalam dunia setelah perangnya yang ke-2, Holden adalah anak yang mengalami pergeserannya –barangkali  J. D Salinger sebagai penulis yang ingin merangkum perasaannya dalam dunia yang justru semakin menyebalkan.

Status sosial semakin rumit, karena dunia mulai mengalami perubahan status dan paradigma baru setelah perang dunia kedua usai. Paradigma persaingan dalam tataran global misalnya –utamanya antara Rusia dan Amerika– yang sebelumnya lebih bersifat kontak fisik, berubah menjadi gengsi adu senjata belaka. Setelah itu, kepercayaan akan status di masyarakat, terus berkembang dan semakin rumit. Perang hanya menciptakan ketakutan yang hampir merata, misalnya yang terjadi di Jerman, beberapa penelitian menyajikan data yang hampir sama tentang ketakutan dalam perang.

Namun setelah perang, ketakutan itu menjadi semakin rumit. Tercipta dengan kondisi yang berbeda-beda dalam perspektif tiap individu. Misalnya berada dalam status sosial yang paling rendah, yang sebetulnya slotnya hanya cukup untuk dialami beberapa orang, dengan tidak pasti siapa yang akan mengalami. Muncullah insecuritas akan status rendah yang dipercaya masyarakat secara tidak langsung dalam bentuk yang baru. Tergambarkan ketika ketakutannya akan nasib Ibunya yang sudah sakit-sakitan setelah ditinggal anak keduanya. Yang nantinya entah apa jadinya jika mendengar kabar buruk dikeluarkannya Holden dari sekolah.

Agak mengada-ada memang. Tapi kurang lebih mirip dengan fenomena sosial yang mulai berkembang dalam latar cerita itu. Kaum Hippies misalnya. Mereka diidentifikasi sebagai anak-anak setelah perang yang merasa dunia setelah perang. Permasalahan hampir tidak ada bedanya, terutama dalam tataran psikologis. Kemunculan sistem sosial ini, akibat konsekuensi yang terpaksa diterima masyarakat. Melalui perkembangan dunia yang semakin tersistem. Gambaran sistem itu, dalam cerita ini, adalah menghasilkan cara kerja yang makin terstruktur, seperti rutinitas dan lainnya. Kaum Hippies, kemudian menjadi kelompok yang menolak kekangan sistem itu.

Melalui cerita dalam buku ini pun, digambarkan manusia dipaksa mengikuti alur-alur sistem kehidupan itu. Seperti anak kecil harus sekolah, kemudian setelah itu, bekerja lalu dipercaya bisa hidup bahagia. Sementara orang tua harus memaksa anaknya hidup dalam alur tersebut sebagai tuntutan dari sistem yang sama. Hingga nantinya akan dianggap sebagai orang tua yang baik. Layaknya Holden,  yang sebetulnya terpaksa mengikuti alur tersebut. Harus sekolah karena keinginan orang tuanya, padahal batinya tidak begitu menyukainya. Sementara, ia harus menjaga perasaan orang tuanya, dan mau tidak mau tetap bersekolah dan akhirnya harus dikeluarkan pula.

Apa Asyiknya Membaca Buku tentang Orang Mengeluh?

Kalimat di atas bukan sub judul belaka. Karena saat saya membaca buku itu, ada yang bertanya persis seperti kalimat demikian. Karena memang hampir secara keseluruhan menjadi isi cerita dalam buku itu, sekaligus menjadi tantangan untuk dijawab. Hanya saja, bagaimana menjawabnya, agak sulit.

Kita percaya tidak ada yang objektif. Namun, jawaban yang kelewat subjektif beresiko kehilangan rasionalitas. Mungkin saja, kalau memiliki empati terhadap kisah Holden, mungkin dapat merasakan emosinya. Bisa saja, J. D Salinger memang tepat dalam meracik narasi menjadi cerita yang menarik. Atau memang pembaca memiliki kesamaan rasa. Layaknya yang dirasakan psikologis manusia dalam suatu bangsa, menurut definisinya Otto Bauer sebagai kesamaan nasib, yang bisa kita sederhanakan dengan kesamaan rasa atau emosi.

Ini sekaligus bisa menjadi jawaban singkat bagi pertanyaan kalimat pembuka dalam tulisan ini. Pembunuhan itu, lantaran perasaan senasib secara emosional (mengalami depresi yang sama). Namun, masih menyimpan pertanyaan mengapa menciptakan tindakan yang berujung pada pembunuhan. Padahal, dalam novel tidak ada sama sekali disinggung tentang bunuh membunuh. Tidak ada jawaban pasti. Barangkali dia ingin menjadi Holden revisionis atau post Holden. Analogikan dengan aliran-aliran pembaharu pemikiran Marxis yang masih mempercayai pemikiran Marx namun, mempunyai gaya tersendiri untuk beberapa hal. Maka, apa yang terjadi dengan Chapman dan lainnya hampir sama. Mengambil tindakan yang tidak dilakukan Holden, walaupun alasanya dengan mengambil Intisari yang sama dari Holden.

Penulis: Muhamad Muhtar

Editor: Hastomo

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *