Koperasi Penghidup Harapan Desa

No Comment Yet

Pagi itu, udara dingin begitu terasa khas daerah dataran tinggi. Dengan adanya kabut tipis yang menutupi pemandangan sekitar. Seperti biasa, para penghuni desa Cibulao mulai beranjak meninggalkan rumah. Ada yang pergi untuk bekerja di perkebunan teh. Dan beberapa pergi untuk mengurus perkebunan kopi, salah satunya Mas Jumpong.

Mas Jumpong merupakan salah satu warga asli desa Cibulao yang berkebun kopi. Selain itu, Mas Jumpong juga anggota koperasi IKA (Ikatan Konservasi Alam) yang didirikan pada 2017. Koperasi ini berada dibawah naungan pihak Perhutani dan bertujuan untuk mengelola lahan yang diberikan oleh pemerintah seluas 600 ha.

Lahan tersebut menjadi tanggung jawab masyarakat dengan cara membaginya ke dalam empat kelompok yang masing-masing menggelola 100 ha lahan tersebut. Sedangkan dalam segi pelestarian ekosistem dan wisata alam mendapatkan pemanfaatan lahan sebesar 200 ha.  

Tidak hanya itu, koperasi IKA juga turut mengedukasi perihal pengelolaan lahan yang baik. Contohnya, cara mengelola perkebunan kopi yang menjadi komoditas utama di desa Cibulao ini. Sebelumnya, kata Mas Jumpong, koperasi IKA lebih fokus untuk menanam pohon untuk diambil kayunya. Namun, hal itu dapat merusak ekosistem di desa Cibulao.

Kopi yang ditanam di lahan tersebut merupakan jenis kopi Robusta dan Arabika. Untuk Arabika sendiri terdapat dua jenis kopi, yaitu sigararutang linis dan lanong sari. Bibit kopi yang ditanam didapatkan dari bantuan pihak Pusatkopa dan juga berasal dari urun-urunan warga.

Koperasi IKA juga mulai fokus dalam mengedukasi masyarakat. Sebab, pada 2017 terjadi gagal panen dan hanya memperoleh 8 persen dari hasil pertanian. Kegagalan tersebut dikarenakan adanya curah hujan yang tinggi. Menurut Mas Jumpong, selain curah hujan, pengetahuan serta ketekunan petani dalam mengelola lahan juga menjadi faktor keberhasilan panen kopi.

Panen kopi memiliki siklus yang berlangsung selama 6 bulan setiap tahunnya. Dimulai dari 3 bulan pertama kopi jenis Arabica setelah itu 3 bulan selanjutnya dilanjutkan dengan panen kopi jenis Robusta. Setelah masa panen untuk 6 bulan selanjutnya dimulai lagi proses perawatan dan pemupukkan. Menurut Mas Jumpong, jika terjadi gagal panen kembali maka yang dirugikan adalah petani sendiri karena tidak mendapatkan hasil apapun.

Untuk saat ini hasil panen yang didapatkan didistribusikan ke berbagai kafe di daerah puncak dan dalam jangka waktu panjang diharapkan hasil panen dapat didistribusikan lebih luas. Melihat antusias warga saat ini Mas Jupong optimis ke depannya warga bisa mandiri dan terlepas dari ketergantungan terhadap perkebunan teh.  

Hal diatas sejalan dengan harapan Mas Hendi, salah satu warga dan juga pengurus koperasi. Kehadiran koperasi diharapkan masyarakat mempunyai pilihan lain selain bekerja di perkebunan teh. Lahan yang dibagikan sekarang bisa memberikan manfaat jangka panjang karena HGU lahan tersebut berlaku selama 35 tahun.

Kedepannya, koperasi akan terus menggenjot kualitas produksi agar dapat bersaing di dunia Internasional. Serta, dalam waktu dekat akan membangun cafe dan museum kopi di daerah tersebut.

Di luar itu semua, Hendi ingin masyarakat sadar dengan keadaan yang ada. “Karena, pekerjaan mereka sebagai buruh tani di perkebunan teh tidak memberi perbaikan, bahkan lebih mengeksploitasi manusia,” ujar Hendi.  

Selain bantuan dari pemerintah, koperasi juga mendapatkan bantuan dari Dirjen Perkebunan, IPB, ITB. Mas Hendi mengatakan, bantuan dari berbagai pihak sangat membantu. “Seperti bantuan pupuk yang meringankan pengeluaran petani,” katanya. Selain itu, adanya bantuan dari IPB dan ITB dalam hal edukasi dan pengembangan teknologi pertanian.

Targetnya, terang Hendi, 4-5 tahun kedepan hasil panen pertahun menyentuh angka 400-500 ton. Jika hasil itu bisa dicapai akan memberikan peningkatan yang besar dari sisi pendapatan ekonomi para petani, sehingga petani menjadi masyarakat mandiri dan terlepas dari ketergantungan ke perkebunan teh. Dengan itu masyarakat pun akhirnya lebiih memilih bertani daripada bekerja di perkebunan teh. Karena saat ini masyarakat masih menjadikan kegiatan bertani sebagai pekerjaan sampingan.

Penulis/Reporter: Sultan Bayu dan Mukhtar Abdullah

Editor: Ahmad Qori H.

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *