Sebuah Catatan, Bisikan Jiwa

No Comment Yet

HUAH! Sebetulnya, dalam menyoroti sejarah kebudayaan manusia yang penuh dengan segala keinsyafannya, apa betul kejahatan-kejahatan yang selama ini terjadi murni 100% ulah dari bisikan setan? Maksud saya, apa betul setan-setan bersalah sepenuhnya atas tragedi diturunkannya manusia pertama dari surga?

Pertanyaan guyon, jangan dianggap serius sebab saya pun tidak akan memberi jawaban saya sendiri atas segala yang tidak saya dalami, sedalam-dalamnya perasaan saya pada dunia teater—GUOMBAL. Toh, mengingat banyaknya setan berkepala hitam yang muncul di warung-warung makan saban bulan Ramadhan ketika waktu puasa tiba—bagi muslim. Padahal anak kecil yang sedari Taman Kanak-Kanak pun juga tahu, kalau setan-setan itu dibelenggu ketika Ramadhan tiba.

Ketertarikan lema khusus keracunan nafsu dunia pada diri manusia ini sebetulnya sederhana, berangkat dari kejadian-kejadian yang galibnya menjerat batin dan pikiran manusia menuju kebatilan. Perkara harta, tahta dan seks, siapa yang belum pernah merasakan dahsyatnya kesenangan? Kerajaan, kekaisaran, negara, dsb runtuh lantaran korupsi atau semacamnya—keracunan harta. Berebut jabatan sampai kekuasaan, dsb sampai saling membunuh seolah tak ada artinya nilai dari sebuah nyawa—keracunan tahta. Bahkan di ranah skala urusan RT/RW sekalipun, tak jarang dinding rumah tangga hancur lantaran perkara serong—keracunan seks, meski kita sepakat bahwa tidak semua perserongan berpangkal dari urusan badan. Siapa yang menyangkal kalau rupanya tiga hawa nafsu dunia pada diri manusia terus menjadi kemelut dalam sejarah kebudayaan manusia sejak awal hingga kini, bahkan akan terus berjalan sampai manusia betul-betul mau menginsyafi keedanannya sendiri.

Pementasan tanpa dialog ini merupakan sebuah stimulus yang dilakukan oleh Teater Moksa, dalam upaya membikin para penonton sadar akan maksud yang jelas kentara dan ada dalam diri manusia. Dalam sebuah proyektivitas lewat pemaknaan gerak, menjadi sebuah tontonan yang bersifat simbolis, mampu menusuk dalam ranah visual penonton melalui wujud artistik kesenian. Di sisi lain, mengingat dua tahun ke belakang Teater Moksa selalu tampil dengan realismenya, kali ini Teater Moksa mencoba berontak dari kebiasaan yang ada. Bereksplorasi dengan ruang, tata pencahayaan, rasa-tubuh dan semacamnya yang bikin para pemain, “Ah! Aku njelimet Nji main beginian. Tapi asik juga.” Mencoba abstrak dengan teater, tidak serta-merta membuat pementasan kali ini masuk ke dalam absurditasnya sendiri. Sebab kiranya ide realis tentunya masih menjadi pangkal daripada BISIKAN JIWA.

Sebagai catatan kepenulisan dramaturgi BISIKAN JIWA yang ditulis pada 9 s/d 10 Desember 2019 di Rawamangun, di balik kiat saya sebagai penulis dalam mengelabui penonton, tiga hawa nafsu dunia pada diri manusia tadi—harta, tahta dan seks—adalah barang yang nyata bagi saya untuk mengambinghitamkan pertanyaan-pertanyaan yang semestinya direnungi oleh manusia itu sendiri namun tak pernah dipertanyakan dalam perenungan di dalam jiwa. Tembak saja, dalam keseharian kita tidak pernah mempertanyakan pada diri sendiri apa itu manusia? Bagaimana caranya menjadi manusia? Untuk apa setelah menjadi manusia? Atau jangan-jangan, kita luput dalam mengenal diri kita sendiri? CILAKA! Kita terombang-ambing dalam jiwa yang seolah-olah sadar. Kerna berbagai alasan politis dan kepentingan praktis, manusia memilih alpa pada persoalan-persoalan diri yang menyangkut realitas hidup di dalam masyarakat.

Mengingat kenyataan apresiasi pada ladang kesenian secara umum dan teater secara khusus yang condong kesenangan belaka, mungkin saja tontonan kali ini hanya akan menyakitkan mata dan telinga. Tapi semoga dari tontonan ini, kami bisa mengetuk pikiran dan hati para penonton agar senantiasa berpikir dan merenung lewat pementasan teater, dalam sebuah upaya munculnya gerakan dari dalam jiwa. Tabik.

“Manusia mampu mengalahkan segala macam musuhnya,

kalau manusia mampu mengalahkan dirinya sendiri.” – PG

Buaran, 14 Januari 2020

*Pementasan berlangsung pada tanggal 23 Februari 2020 di Balai Warga Buaran II (20.00 s/d 21.30 WIB) dan pada tanggal 15 Maret 2020 di Teater Utan Kayu (15.00 s/d 16.30 WIB dan 20.00 s/d 21.30 WIB).

*Sutradara: Panji Gozali. Pemain: Wawa (Lelaki), Riska Handayani (Wanita), MJ (OG), Rafika Septiani (Suster Ngepot), Bagas (Geger Uwow), Rendi Sumbari (Pucung), Ibnu Yusca (Kuntulanang) dan Adi Ferian (Tuyndrong).

============

Penulis: Panji Gozali (Punggawa Teater MOKSA)

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *