Apakah Anarko Tergolong Virus? Mungkin, Hanya Tuhan dan Polisi yang Tahu

No Comment Yet

Kapolda sebut Anarko akan melakukan vandalisme besar-besaran pada 18 April mendatang. Tujuannya, menggiring masyarakat melakukan penjarahan. Padahal, Polisi sendiri belum menyelidiki lebih dalam isu ini.

Belum lama, publik dibuat gondok dengan statement ngaco Luhut Binsar Panjaitan yang mengatakan virus Corona tak tahan cuaca Indonesia. Seakan menganggap remeh wabah ini, akhirnya malah kita sendiri yang tak tahan dengan tingkahnya. Jadi, cara terbaik adalah melupakannya. Lanjut, staf khusus milenial bentukan Jokowi yang digaji 50an juta perbulan, juga tengah dihujani kritik karena dinilai tak berguna dan buang-buang duit negara. Kini, giliran Kepolisian yang berulah. Kapolda mengabarkan akan ada aksi vandalisme besar-besaran se-Pulau Jawa oleh kelompok Anarko pada 18 April mendatang.

Kabarnya, polisi telah meringkus lima pemuda yang dicap ‘Anarko’ Kamis (9/4/2020) lalu. Hal ini dilakukan setelah tiga dari lima pemuda tersebut melakukan ‘vandalisme’ dengan kata-kata yang dinilai provokatif di sekitar Tangerang Kota. Dalam rilis kasus ini, Sabtu (11/4/2020) kemarin, Kapolda mengatakan bahwa aksi vandalisme ini dilandasi ketidakpuasan pelaku terhadap kebijakan pemerintah dalam menangani wabah Covid-19. Setelah polisi menyelidiki grup Whatsapp dan Telegram pelaku, disinyalir akan ada aksi vandalisme secara bersama-sama di beberapa kota besar. Tujuannya untuk memanfaatkan situasi yang sedang resah, membuat masyarakat lebih resah lagi, mengajak untuk membuat keonaran, membakar, dan kemudian menjarah. Di tengah pandemi ini, kita jadi tau sisi lain Kepolisian selain brutal, yakni melucu.

Gimana gak lucu? Mendengar pernyataan Kapolda ini, Haji Misbach mungkin ternganga di atas sana. Buat apa dirinya susah payah membuat vergadering kesana kemari jika propaganda lewat coret-coret dinding saja, bisa mengagitasi rakyat dengan mudah? Memang sih, PKI punya taring besar saat Haji Misbach aktif melakukan pengorganisiran kala itu. Lah ini Anarko, di Indonesia pula. Jangankan taring, gigi susu pun belum muncul.

Atau, tak perlu menunggu tahun ’98 jika menjatuhkan Soeharto bisa dilakukan sejak 1974 lewat peristiwa Malari. Toh, tahun segitu sudah ada cat dan pylox untuk mengajak rakyat dalam gerakan, kok. Kecuali jika kedua benda itu dilarang pemerintah, ’98 memang momen yang pas untuk menggulingkan Soeharto.

Lantas, apakah propaganda lewat coretan dinding efektif dalam mendorong khalayak melakukan suatu penjarahan besar, menghancurkan negara dan institusinya seperti yang Anarkisme idamkan? Terlebih lagi, 18 April sudah dalam hitungan jari. Hmm.. efektif atau tidaknya, hanya Tuhan dan polisi yang tahu.

Kalau zaman Soeharto sih, pemerintah menciptakan mitos, yakni komunisme sebagai musuh tak terlihat. Meskipun belum lepas sepenuhnya, hari ini pun komunisme masih dianggap common enemy oleh pemerintah, aparat, dan golongan konservatif. Tapi, hantu Komunisme kadang jadi blunder tersendiri jika dipakai saat yang kurang tepat. Nah, Anarko lahir di Indonesia sebagai hantu baru yang lebih efektif digoreng saat kepercayaan publik terhadap pemerintah mulai turun. Selaras dengan apa yang dikatakan Roland Barthes, mitos digunakan oleh kelas penguasa demi melanggengkan kekuasaannya. Maka, tak heran jika saat seperti ini, Anarko jadi bulan-bulanan aparat.

Berhasilnya polisi meringkus Anarko kemarin, membuat mereka tampil layaknya ‘pahlawan’ di tengah ketakutan masyarakat akan krisis. Terbukti, publik turut menghunjam para pelaku atas dasar aksi vandalisme yang dinilai amoral. Kali ini, polisi sukses menggiring domba masuk ke kandang, dengan bantuan serigala boongan ciptaannya. Bravo deh, say~

Jika vandalisme, menurut KBBI, adalah perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas, apa yang dilakukan korporasi industri mungkin tak se-vandal lima pemuda yang diciduk polisi kemarin. Mungkin mengeruk gunung demi emas oleh PT. Bumi Suksesindo (PT BSI) di Tumpang Pitu, Banyuwangi, atau menghancurkan beberapa ladang pertanian demi pabrik semen oleh PT. Semen Indonesia (PT SI) di pegunungan Rembang, tak se-vandal lima pemuda yang mencoret tembok seukuran kertas HVS. Karena kenyataannya, polisi tak menciduk direktur PT BSI dan PT SI karena aksi vandalisme yang mereka lakukan. Entahlah, mungkin vandalisme menurut Kepolisian adalah mencoret-coret tembok. Apalagi, yang melakukannya adalah Anarko.

Menarasikan tanpa menyelidiki lebih dalam sepertinya telah menjadi ritus aparat Indonesia, baik kepolisian ataupun militer. Dalam kasus ini, polisi langsung menyimpulkan apa yang dibicarakan di grup Whatsapp para pelaku vandal. Seperti yang dilihat, Kepolisian membuat kepanikan tanpa menyelidiki kebenarannya terlebih dahulu. Ahhhh… Kebiasaan nih, mas-nya.

Dimana ada asap, disitu ada api. Baik pemerintah, aparat, dan masyarakat, tak ada salahnya melihat akar masalah penyebab lima pemuda ini melakukan vandalisme. Sudah semestinya masyarakat melihat substansi aksi mereka, tidak secara naif, reaksioner, hingga terburu-buru percaya kabar penjarahan pada 18 April mendatang.

Jika memang krisis itu datang, saya rasa tak perlu ada aksi vandalisme untuk menyerukan penjarahan. Toh, manusia punya naluri bertahan hidup, kok. Jika satu-satunya akses makanan hanya menjarah, manusia tak punya pilhan lain: menjarah atau mati kelaparan. Maka, disinilah kebecusan pemerintah dalam mencegah krisis dipertanyakan. Jika krisis tak terjadi, penjarahan tak akan terjadi, kok. Yaa.. meskipun masih akan tetap ada orang-orang kelaparan di luar sana, dan pemerintah akan tetap menutup matanya. Aku sih yakin, hehehe~

Dari kasus ini juga, kita melihat wabah Covid-19 telah membuat pusing tujuh keliling lembaga negara termasuk Kepolisian. Pasalnya, setelah Kepolisian menyemprot desinfektan dengan water cannon di beberapa jalan seperti di Jakarta, Jember, Aceh, Gorontalo, dan Sukabumi, angka positif Covid-19 masih terus melonjak tiap harinya. Pusing melawan virus, kini Kepolisian mengganti musuhnya, Anarko. Meski tak mempan disemprot desinfektan, represif adalah taktik polisi melawan musuh barunya ini. Walaupun menyemprot desinfektan juga bisa disebut represif terhadap virus, sih. Tapi, Corona bukanlah manusia yang memiliki hak kemerdekaan pikiran. Atau mungkin, Anarko juga termasuk virus? Aku jamin, peneliti mikroorganisme manapun tak akan mampu mengklasifikasikan hal ini. Lagi-lagi, hanya Tuhan dan polisi yang tahu.

Hufftt.. melihat kasus ini, aku jadi ingat pepatah lama, “mencegah lebih baik daripada mengobati.” Iya.. mencegah kemarahan rakyat akibat ketidakseriusan pemerintah, lebih baik bagi kepolisian daripada mengobati kewarasannya sendiri.

Penulis: Hastomo

Editor: Ahmad Qori

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *