Krisis Identitas di tengah Euforia Zaman: Pragmatisme Anak Muda dari yang Apolitis Sampai Kepada yang Amoral

No Comment Yet

Oleh: Raihan Ghillman Muttaqin*

Sebelum melangkah lebih jauh, izinkan penulis dalam kesempatan ini mengutip salah satu ungkapan dari seorang penulis besar, yang barangkali juga mengilhami penulis dalam menuangkan keresahan  atas berbagai realitas kekinian dalam konteks kepemudaan saat ini. Pram berucap, “Sejarah dunia adalah sejarah orang muda, bila angkatan muda mati rasa, maka matilah sebuah bangsa.” Untaian ini kemudian menjadi momok bagi keadaan anak muda saat ini dan sekaligus menjadi otokritik bagi penulis sendiri sebagai golongan yang termasuk di dalamnya.

Bagaimana tidak? Derasnya arus globalisasi dan dengan demikian memunculkan beragam mode-mode kultur yang menjadi label identitas, melekat pada banyak anak-anak muda yang didaulat sebagai penerus tongkat estafet bangsa. Di sisi lain, kita beranggapan bahwa kemajuan-kemajuan dalam bidang teknologi tersebut tak ayal menjadi alat bantu yang signifikan dalam aktivitas keseharian. Namun, kecenderungan lain menggambarkan bagaimana konsekuensi logis dari maraknya penggunaan teknologi disertai dengan gelombang globalisasi, memunculkan ekses terhadap kegiatan-kegiatan tersebut.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, kemunculan beragam mode-mode kultur yang berkenaan dengan aktivitas anak muda, menggambarkan kondisi reflektif atas zaman dimana ia berada. Mode-mode tersebut berlangsung dalam wacana kesehariannya. Kalau boleh penulis uraikan mengenai bentuk-bentuk mode tersebut -sebagaimana lazimnya orang mempersepsikan anak muda- yakni: gaya selengean dari mulai berpakaian sampai dengan tindak laku, mencerminkan bagaimana anak muda coba mengekspresikan dirinya sesuai interpretasi atas diri dan lingkungan dimana ia berada, dan dengan siapa ia berinteraksi (lebih jauh, lihat analisis interaksi simbolik); minatnya terhadap gagasan-gagasan trendy, yang kebanyakan anak muda memberikan atensi besar terhadap produk-produk baru yang dinilai sedang ramai dikalangannya; terakhir adalah selera humor yang kadangkala mengundang gelak tawa, dan di lain sisi merasa jengkel dengannya (seperti halnya gurauan-gurauan yang kadangkala tidak sesuai konteks dan akhirnya menimbulkan keresahan). 

Sebagai pengguna media sosial kadangkala penulis jumpai beberapa kejadian (khususnya pada bencana dan kecelakaan) yang terekam dan diberitakan di media sosial kemudian menjadi bahan olok-olok bagi mereka, konten menjadi motif utama seseorang dalam melakukan tindakan ini. Perilaku-perliaku ini yang akhirnya menimbulkan predikat amoral terhadap tindakan mereka –entah dengan dalih bercanda, bergurau, atau sekedar berekspresi yang pada akhirnya berhubungan dengan pihak berwajib dan menyampaikan permohonan maaf.

Keberadaan zaman dan semangat atasnya memberikan suasana glamor dan euphoria yang menjadi motif pendorong bagi anak muda untuk ikut terjun di dalamnya. Pada akhirnya, ia menjadi tempat bagi berkerumunnya inspirasi-inspirasi yang dimotori oleh kebanyakan anak muda. Fakta demikian dapat ditelusuri melalui rekam jejak digital yang merupakan andalan saat ini bagi generasi-generasi yang kadangkala dicap sebagai generasi ‘milenial.’ Berkaca pada kondisi ini, keberadaan media sosial sebagai medium virtual banyak digunakan oleh kalangan muda untuk berbagai alasan. Satu hal yang sangat mencuat bagi penulis adalah mengenai bagaimana media sosial sangat menentukan eksistensi dari seorang penggunanya.

Kecurigaan penulis tertuju pada kondisi demikian yang mengindikasikan adanya konstruksi identitas dari proses-proses yang terbangun pada dimensi tersebut. Berkaitan dengan ini, Tim Jordan (dalam, Nasrullah, 2017) menjelaskan tiga tahap prinsip virtualitas di internet: identitiy fluidity, yakni suatu proses pembentukan identitas secara online yang tidak harus sama dengan dunia riil; renovated hierarchies, dimana proses ini merujuk pada urutan sosial yang terjadi di dunia nyata kemudian di reposisikan kedalam dunia virtual yang kadangkala justru bersifat anti-hierarki; informational space, informasi yang hanya berlaku di dunia virtual. Di tahap inilah kemudian seseorang memainkan perannya -yang telah terbentuk pada proses awal hipotesis Jordan-  dalam dunia virtual.

Gagasan di atas cukup memberi sedikit keterangan mengenai proses pembentukan identitas yang terjadi di dalam dunia virtual. Secara faktual, ternyata konsep-konsep diri yang terbangun pada dunia virtual tersebut mendapat kontekstualisasi ke dalam dunia riil pada tataran tertentu. Dengan membawa identitas sebagai wajah atas dirinya, seseorang kemudian melakukan interaksi kepada yang lain dengan merefleksikan dirinya dalam dunia virtual yang telah membangun identitasnya secara sosial. Kondisi-kondisi ini akhirnya menunjukan adanya hubungan yang terbangun secara dialektis antara dunia riil dengan dunia virtual.

Persoalan mengenai eksistensi, ini merupakan sekelumit persoalan yang pada gilirannya penulis tempatkan pada kategori problem pada kalangan muda. Upaya-upaya eksistensial ini merebak dalam tiga bentuk yang penulis ajukan sebelumnya. Dengan kata lain, tindakan-tindakan yang agaknya pretensius ini menjadi kegemaran tersendiri bagi kalangan muda dalam merespon situasi yang terjadi di sekitarnya. Pada titik ini, sampailah penulis pada asumsi bahwa berbagai kecenderungan tersebut mengantarkan mereka pada situasi krisis akan identitasnya sebagai seorang muda. Dari hal ini akhirnya mendorong mereka pada tindakan-tindakan kontra-produktif dan secara radikal membentuk dirinya sebagai subjek yang apolitis

Fakta menarik disamping fenomena yang berlangsung saat ini adalah mengenai pengucapan-pengucapan ‘milenial’ yang kerap disematkan pada angkatan muda. Penyematan ini biasanya seringkali diucapkan oleh golongan elit yang kebanyakan adalah orang-orang tua di lingkaran kekuasaan. Secara historis, bila kita sejenak menengok kembali pada saat rezim otoriter Orde Baru, istilah ‘pemuda’ menjadi kian dihindari dalam mengidentifikasi anak-anak muda saat itu. Rezim Orba cenderung memilih pengucapan ‘remaja’ untuk mengidentifikasi golongan muda. Bila pada saat Orde Baru golongan muda disebutnya sebagai remaja atau abg, maka saat ini anak muda dilabeli dengan sebutan milenial.

Tindakan-tindakan semacam ini bukan sebatas prasangka yang tak berarah. Penggunaan suatu terminologi yang akhirnya sedemikian dipolitisasi oleh kekuasaan, menyingkirkan aspek-aspek esensial yang sejatinya hadir pada diri seorang muda. Wikana, Aidit, Njoto, dan barisan angkatan muda ‘45 lainnya; Soe Hok Gie yang mewakili generasi muda tahun ‘66 yang menggulingkan rezim diktator Orde Lama; Budiman Sudjatmiko, Adian Napitupulu –yang kemudian semakin birokratis, dan pemuda lain saat itu yang berhasil menumbangkan tiga puluh dua tahun kekuasaan orde baru. Apakah mereka dengan bangganya menggunakan media sosial untuk saling unjuk eksistensinya pada publik? –sekalipun media saat itu hanya berupa koran, majalah, dan siaran radio- Apakah dengan gengsi mudanya mereka menggunakan sepatu, pakaian, dan produk fashion ala-ala hypebeast pada saat rapat-rapat dan aksi turun kejalan dilakukan? Dan ketika peristiwa Rengasdengklok, apakah Wikana menggunakan ponsel mewah untuk saling berkoordinasi dengan pemuda lain? Tentu tidak. Dengan hanya mengandalkan kemampuan intelektual dan semangat mudanya, mereka mampu memobilisasi seluruh rangkaian peristiwa demi peristiwa yang terjadi.

Berkaca pada peristiwa-peristiwa lampau, baik yang terjadi di dalam negeri atau di belahan dunia lain secara global, agaknya sejarah membuktikan bahwa peranan seorang muda sangat menjadi motor penggerak bagi perubahan. Bilamana pada periode awal kemerdekaan pemuda sangat menggebu-gebu untuk menyuarakan pembebasan, dan pada periode Orde Baru ketika negara dikuasai ‘rambut cepak’ lalu kaum mudanya berambut gondrong, maka era saat ini ketika orang-orang tua berdasi berambisi menguasai seluruh aset negara dan memperkaya diri, maka kaum mudanya ikut berkamuflase sebagai orang-orang tua di lingkar kekuasaan –kasus pada staf khusus milenial presiden- dan terus dijejali dengan produk a la hypebeast dan berkompetisi di jejaring media sosial guna mendongkrak eksistensinya sebagai seorang muda yang milenialis.. Inilah kenyataanya.

*Penulis adalah mahasiswa aktif dari program studi sosiologi Universitas Negeri Jakarta  

Kepustakaan:

Nasrullah, Rulli. 2017. Etnografi Virtual Riset Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi di Internet. Bandung: simbiosa Rekatama Media

––––––

Catatan Redaksi: Opini ini menjadi tanggung jawab dari Raihan Ghillman Muttaqin sebagai penulis. Bila ada kritik maupun sanggahan terhadap opini ini, kami menyediakan hak jawab yang bisa dikirimkan ke email kami (lpmdidaktikaunj[at.]gmail.com) atau berkomunikasi dengan penulis opini ini.

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *