Potongan Kisah Teladan yang Hilang

No Comment Yet

Oleh: Luqman Abdul Hakim*

Suasana Ramadan selalu membawa saya kepada kerinduan kisah-kisah teladan Islam yang menyejukkan hati. Namun, kini rasanya kisah-kisah tersebut hanya menjadi bagian dari masa kecil saya sendiri. Ketika masih kecil, saya banyak membaca dan mendengarkan cerita-cerita Islami karena Abi sangat suka mengoleksi buku-buku Islam, dan membelikannya kepada kami. Yang umum dibelikan Abi untuk saya dan adik-adik tentu saja adalah buku kisah 25 Nabi dan Rasul. Namun ada pula buku-buku cerita lain seperti kisah Abu Nawas, dan sahabat-sahabat nabi. Mungkin dari sinilah saya menjadi akrab dengan membaca buku. Umi saya bahkan pernah bercerita bahwa sebelum saya masuk Sekolah Dasar, saya sudah membaca buku berjudul “Dialog Jin dan Manusia”. Sejujurnya saya sendiri tidak mengingatnya.

Selain dari bacaan buku, latar pendidikan semasa kecil juga berpengaruh dan mendekatkan saya pada hal-hal keislaman. Tidak seperti anak umur lima tahun pada umumnya yang merasakan pendidikan pra-sekolah Taman Kanak-Kanak, saya malah dimasukkan ke Taman Pembelajar Quran. Pendidikan pra sekolah yang umum seperti baca-tulis-hitung, saya dapatkan dari Umi dan Abi di rumah. Hingga masuk ke sekolah dasar dan menengah pertama, saya pun mengecap sekolah Islam terpadu.

Kedekatan dengan lingkungan yang Islami inilah yang mengenalkan saya pada kisah-kisah teladan dari tokoh-tokoh Islam, terutama kisah keteladanan Rasullulah, Muhammad SAW. Salah satu yang saya ingat adalah kisah kelapangan dada beliau ketika dihina oleh kaum Quraisy hingga dilempar kotoran unta. Dalam kisah itu, sebenarnya malaikat Jibril tidak terima dengan perlakuan kaum Quraisy terhadap Muhammad. Ia mendatangi Muhammad seraya berbisik: “Hai Muhammad, perlukah aku membalikkan gunung kepada orang-orang ini?” Namun, jawaban Nabi justru menolak apa yang ditawarkan oleh Jibril. Beliau tetap sabar bahkan memaafkan kaum Quraisy yang menghina beliau. Setidaknya saya mendengar kisah ini diceritakan oleh salah seorang guru ngaji saya, meskipun saya sudah lupa kapan tepatnya saya pertama kali mendengar kisah demikian.

Ada lagi kisah yang pernah saya baca di buku tentang Muhammad SAW. yang suatu ketika bertemu dengan seorang Yahudi buta yang sudah tua dan terlihat kelaparan. Beliau sembari menyuapi Yahudi buta tersebut, mendengar cemoohan yang ditujukkan kepadanya. Bahkan si Yahudi mengutuk dan bersumpah-serapah dihadapan Nabi. Hal itu selalu berulang. Namun, Nabi senantiasa datang untuk memberinya makanan dan menyuapinya. Hingga Nabi Muhammad meninggal, Abu Bakar berusaha menggantikan Nabi untuk menyuapi Yahudi tersebut. Namun, Yahudi tersebut merasa berbeda saat disuapi oleh tangan Abu Bakar. Padahal, Abu Bakar telah mencoba untuk meniru Nabi. Si Yahudi kemudian bertanya, kemana lelaki yang biasanya menyuapi ia makanan? Sebab rasanya berbeda. Bahwa yang sebelumnya sangatlah lembut. Abu Bakar pun menangis dan menyampaikan pada Yahudi buta bahwa lelaki itu adalah Muhammad Saw, orang yang selalu ia cemooh dan kutuki ketika Nabi menyuapinya makanan, dan kini ia telah meninggal. Sontak, Yahudi itu pun menangis dan menyesali perbuatannya.

Selain kisah Nabi Muhammad, kisah sahabat nabi pun ada yang membekas di pikiran saya. Sahabat itu adalah Umar bin Khattab, salah satu Khulafaur Rasyidin. Alkisah Umar pada saat itu menjabat sebagai khalifah, menjumpai satu keluarga yang sangat miskin hingga hanya mampu merebus batu demi menenangkan hati anaknya yang menangis karena kelaparan. Ketika berkunjung ke rumah tersebut, keluarga yang tidak menyadari bahwa lelaki itu adalah Umar, malah mengutuki sang khalifah. Umar bukannya marah ketika mendengar kutukan keluarga tersebut. Ia malah sontak berdiri, pulang mengambil sekarung gandum dan beberapa potong daging lalu diberikannya kepada keluarga tersebut. Semenjak itu, hampir setiap malam Umar berkeliling membagikan gandum kepada orang-orang miskin tanpa pernah menunjukkan jati dirinya sebagai seorang khalifah.

Beberapa contoh kisah islami tersebut membekas di pikiran saya, meskipun kini saya tidaklah pantas disebut sebagai muslim yang baik sebab sering meninggalkan kewajiban beribadah. Banyak kisah yang menunjukkan kualitas moral seorang muslim dalam hubungan sesama manusia. Tetapi kini justru kita melihat wajah seorang muslim yang sering kali bertentangan dengan moralitas tersebut.

Bukankah kisah-kisah tersebut menunjukkan keteladanan yang kini hilang di sebagian masyarakat kita yang mayoritas muslim? Mengapa kita kini justru melihat wajah Islam yang keras mengutuki mereka yang punya keyakinan berbeda? Beberapa kali kita hari ini melihat masyarakat kita yang muslim justru merusak rumah ibadah dari pemeluk keyakinan lain. Banyak pemimpin agama juga lebih sering menyampaikan ceramah yang berisi kebencian terhadap mereka yang berbeda keyakinan, membangun narasi yang mencurigai bahwa umat Islam sedang direndahkan atau sedang menjadi korban konspirasi dari kekuasaan agama lain, lalu membiarkan umat menjadi pendendam dan tidak mudah memaafkan kesalahan. Di antara pemimpin muslim pun kini lebih nampak sering meriyakan kedermawanan, bersolek di depan layar kaca pada acara infotainment, atau berada di panggung politik ketimbang hidup bersama dan menyelesaikan masalah umat yang benar-benar mereka rasakan dalam keseharian. Dampaknya yang kita lihat adalah sebentuk masyarakat muslim yang nampak sangat religius dalam hal ibadah dan ritual keagamaan, tetapi tidak saling membantu dan malah menutup diri tatkala di sekitar mereka banyak dhuafa yang menderita kelaparan.

Apakah cerita-cerita ini telah ditinggalkan oleh keluarga-keluarga muslim hari ini? Mengapa orang-orang muslim lebih suka ceramah atau kisah-kisah yang penuh dengan kebencian, amarah, dan dendam? Pertanyaan-pertanyaan ini yang terpicu oleh perilaku sebagian umat Islam yang saya jumpai sehari-hari yang ternyata membangkitkan ingatan saya terhadap kisah-kisah teladan tersebut. Saya sendiri tidak sanggup menjawab apakah kisah-kisah ini sekarang tidak lagi terus diceritakan keluarga-keluarga muslim? Yang kini terjadi justru saya meragukan ingatan saya, apakah benar saya pernah membaca dan mendengarkan kisah ini? Atau ingatan itu sekedar delusi? Wallahualam. []

*Alumni S1 Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta.

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *