Menuntut Keadilan di Masa Pandemi

No Comment Yet

Senin (20/7) Gerakan Aksi Keresahan Mahasiswa (GERAM) UNJ menggelar aksi lanjutan merespon kebijakan SPU dan UKT Semester 113 di Plaza UNJ. Beberapa spanduk yang mengkritik kebijakan ini sudah dipasang, bertuliskan “Relaksasi UKT Semester 113,” “Selamat Datang Putra-Putri Terkaya Bangsa,” dan “Revolusi Pendidikan.”

Ramli, selaku koordinator lapangan menegaskan, aksi ini merupakan prakondisi untuk aksi besar lanjutan yang akan dilaksanakan pada Kamis, (23/7). Ia mengungkapkan bahwa  mahasiswa UNJ yang tergabung dalam aliansi GERAM UNJ ini, adalah mereka yang resah akan situasi kampus yang tidak mendengarkan aspirasi mahasiswa.

Banyaknya mahasiswa yang terdampak pandemi secara finansial, tidak menghalangi kampus untuk tetap menginstruksikan pembayaran uang kuliah secara penuh. Belum lagi, Sumbangan Pengembangan Universitas (SPU) yang sudah sejak tiga tahun lalu diberlakukan oleh UNJ hingga kini (masa pandemi -red) tetap diterapkan. Padahal, sejak awal penetapan SPU tersebut banyak mahasiswa yang menolak. “Hal itu mendorong GERAM UNJ melaksanakan aksi ini,” ucap Ramli.

Data hasil kajian GERAM UNJ mengenai instrumen KHL (Kajian Hidup Layak) UNJ, sebanyak 679 mahasiswa terdampak pandemi. Bahkan, 75,9% mahasiswa menyatakan kesulitan untuk membayar UKT di semester 113 karena berbagai hal.

Dampak pandemi tersebut dari berbagai faktor. Mulai dari orang tua atau dirinya sendiri yang terkena PHK, pemotongan gaji, dirumahkan tanpa gaji, tidak bisa bekerja freelance akibat pandemi, dan pendapatan menurun sehingga berdampak pada ekonomi keluarga.

Selain itu, GERAM UNJ juga mencatat bahwa 709 mahasiswa UNJ mengatakan perkuliahan jarak jauh tidak sesuai penerapannya. Alasannya, pendistribusian kuota yang belum merata, orientasi tugas yang banyak dan memberatkan, maupun penundaan bimbingan maupun seminar proposal oleh dosen. Hal ini menjadi dasar bagi pemotongan UKT karena penerapan kuliah yang tidak sesuai dengan besaran UKT.

Aksi ini diawali sejak pagi. Dimulai dengan mural. Kemudian, menjelang tengah hari, massa aksi pindah ke depan Plaza UNJ. Namun, menjelang Shalat Ashar, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Abdul Sukur mendatangi mahasiswa UNJ dan membuat aksi sejenak tertunda.

Abdul Sukur menyangsikan, bahwa tindakan memasang spanduk membawa image yang kurang baik bagi UNJ. “Lebih baik jika ingin menuntut kebijakan bertemu kepada kami selaku birokrat UNJ,” ujarnya di depan mahasiswa yang sedang berkerumun.

Ia mengatakan dalam kondisi normal (sebelum pandemi Covid-19), usaha untuk pemotongan UKT terus ada. “Kami terus menerima laporan mahasiswa yang golongannya ingin diturunkan, namun kita tidak bisa merespon. Jika mahasiswa harus mengajukan penurunan secara berurutan dari tingkat Prodi,” pungkasnya

Ia juga menyatakan bahwa aksi tidak perlu dilaksanakan, karena birokrat UNJ sudah merespon tuntutan mahasiswa. “Masalahnya kami  berkomunikasi dan menerima perwakilan dari kalian (BEM -red) . Tolong kalau ada apa-apa dengan kampus diforumkan,” tegasnya.

Remy Hastian, Ketua BEM UNJ kemudian meluruskan perihal aksi yang dituduh tidak tertib. “Kita melakukan aksi karena pimpinan deadlock soal SK (Pemotongan UKT dan Pembebasan SPU -red), jadi GERAM UNJ berusaha membawa keresahan mahasiswa disini.” tuturnya.

Ramli pun menanggapi bahwa perwakilan mahasiswa yang disebutkan Wakil Rektor III  tidak representatif. “Masalahnya pembicaraan mengenai SK sebelumnya tidak melibatkan kami sebagai massa aksi GERAM UNJ. Hanya melibatkan satu-dua perwakilan mahasiswa. Ini membuktikan bahwa kampus berusaha menutup diri dari aspirasi mahasiswa secara umum,” tambahnya.

Ramli menambahkan, aksi tidak akan berhenti hingga tuntutan mahasiswa diterima dan kampus melaksanakannya.”Aksi ini, akan terus berupaya untuk menuntut kampus melaksanakan kewajibannya,” tegasnya.

Penulis/Reporter : Rizky Suryana

Editor : Muhamad Muhtar

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *