Rear Window (1954): Melihat Film adalah Melihat Ideologi

No Comment Yet

Sutradara: Alfred Hitchcock

Spoiler alert.

Pada akhirnya, Lars Thorwald mendatangi rumah tetangganya yang ternyata telah memata-matainya. Tanpa salam, Thorwald langsung masuk ke pintu apartemen tetangganya tersebut. Ia menemukan tetangganya yang berada di atas kursi roda. Selanjutnya Thorwald melangkah mendekat ke tetangga dengan niat mencelakainya.

Selanjutnya, terjadi pertarungan antara Thorwald dengan tetangganya. Hasilnya ia berhasil melempar tetangganya keluar jendela. Beruntung polisi sudah berada di sana. Kejadian tersebut terjadi di dalam ruangan studio, lengkap dengan kamera yang merekam kejadian tersebut.

Kejadian itu adalah salah satu adegan klimaks dalam film Rear Window, karya Alfred Hicthcock, yang tepat 66 tahun lalu rilis di Amerika.  Menurut website IMDB, film Rear Window merupakan salah satu top rated movies dengan menempati posisi 52 dari 250 film.

Tentunya kejadian yang diceritakan diatas tidak langsung terjadi. Cerita ini diawali si tetangga, Jeffries yang merupakan tokoh utama, memiliki hobi baru yakni memperhatikan para tetangganya dari jendelanya.

Dengan kata lain, Jeff yang terjebak di kursi roda karena kecelakaan kerja memata-matai tetangganya. Sekilas terdengar seperti sebuah tindak kejahatan, namun narasi film mengantarkan Jeff untuk menyadari bahwa Lars Thorwald, salah seorang tetangga yang dia mata-matai, telah membunuh istrinya.

Dengan praduga tersebut, kita mengikuti durasi film yang memberikan pembenaran bagi Jeff untuk tindakannya. Jeff sebenarnya tidak memiliki motivasi khusus untuk melakukan hal tersebut. Bahkan saat salah satu polisi, yang juga kawannya, bersikeras bahwa tidak ada kasus kejahatan yang terjadi selain mengintipi tetangga.

Meskipun begitu, pada akhirnya, narasi tersebut dalam film Rear Window justru memberikan penghargaan pada tindakan tersebut. Sehingga hal ini patut dipertimbangkan sebagai upaya sutradara untuk memberi penekanan pada tindakan ini. Maka setidaknya penonton harus mempertimbangkan untuk mengawasi tetangga sebelah. Barangkali di antara para bapak ibu tersebut ada yang melakukan pembunuhan. Maka kita dapat berjasa menangkap seorang pembunuh.

Sayangnya, tulisan ini bukanlah membahas metodelogi mengintipi tetangga atau semacamnya. Begitupun sekiranya yang coba dilakukan oleh Hitchcock. Melainkan sebagai meta-commentary terhadap medium film sekaligus menyentil keberadaan penonton. Hal ini dapat dilihat dari gerak kamera yang amat terbatas pada Jeff, tokoh utama yang lumpuh tidak bisa gerak. Objek di luar ruangannya hanya dapat muncul apabila Jeff atau tokoh lainnya melihatnya. Padahal boleh saja kamera meninggalkan ruangan Jeff, namun sutradara mengukuhkan bahwa kamera hanya boleh terpaku bersama Jeff.

Dalam narasi film, Jeff yang hobinya menatap kehidupan orang lain adalah metafora bagi medium film. Hitchcock melalui gerak kameranya mengibaratkan film bekerja seperti mata nakal yang melihat dalam kehidupan orang. Sebagai konsekuensi keberadaan mata nakal tersebut adalah konflik yang harus muncul. Dalam hal ini adalah upaya menemukan kebenaran mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh Thorwald. Tanpa mata nakal penonton, yang diwakili oleh Jeff, tidak akan terjadi pemubunuhan. Atau setidaknya tidak akan ada pembunuhan yang dapat dibahas.

Lebih jelasnya, tanpa diketahui, maka tidaklah ada pembunuhan.

Hal ini menunjukan relasi yang terjadi antara penonton dari luar layar dan pemeran dalam layar. Relasi tersebut menunjukan keintiman. Jika seorang (atau suatu) karakter menghadapi kematian atau nasib buruk, sedikit banyak penonton terkena dampaknya. Ibarat lautan, maka sebuah narasi adalah ombak yang terbawa sampai ke permukaan dan menyentuh seseorang. Entah sekedar mengelus permukaan kulit, memberi tamparan, atau bahkan menyeret ke perut lautan.

Meskipun begitu, perasaan tersebut tidak lain merupakan ulah tangan tak terlihat (atau terlihat) unsur dibalik film. Sutradara, Studio, atau komite tertentu. Dengan kata lain, manifestasi kesenangan, kesedihan, atau semacamnya tidak lebih dari buatan semata.

Proses inilah yang membuka film dapat menjalankan fungsi sebagai alat ideologi. Louis Althusser dengan teori mengenai apartus ideologi menyebutkan bahwa media memiliki fungsi sebagai alat ideologi. Kontras dengan aparatus kekerasan seperti polisi atau tentara yang memaksakan ideologi dengan kekerasan. Hal ini tentunya tidak terbatas pada film yang memiliki fokus mengenai politik.

Laura Mulvey dengan teori male gaze menyebutkan bahwa terdapat manifestasi ideologi patriarki dalam banyak film-film holywood. Hal ini disebabkan oleh minimnya peran perempuan di dalam industri perfileman. Jika menggunakan kerangka analisa ini, maka male gaze dapat dilihat (agak) secara literal karena tokoh utama menggunakan kamera untuk memata-matai kehidupan personal tetangganya. Tindakan ini mendapatkan reward, dalam narasi film, dengan memberikan happy ending bagi tokoh utama, pelaku pengintip.

Jika tidak, upaya menggali ideologi lewat medium ini dapat dilihat dari karya filsuf Slovenia, Slavoj Žižek yang memberikan commentary terhadap berbagai judul film. Bahkan salah satu karya dia secara spesifik, The Perverted Guide to Ideology, membahas mekanisme ideologi lewat imajinasi konsumen media. Imajinasi tersebut yang kemudian menjadi penentu dari realita, dengan kata lain adalah ideologi.

Maka konsekuensi dari menonton film adalah menjadi penerima atau penonton pasif. Sebagai penonton, kita diajak terlibat dalam penjabaran sebuah ideologi. Mirip seperti framing berita terhadap suatu perkara, atau bahkan secara langsung membaca kepingan propaganda.

Penulis: Faisal Bahri

Editor: Uly Mega

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *