Wahana Baru Sirkus Akademik

No Comment Yet

Gimana ya pkkmb tahun ini masa marah-marahnya online?

Apa masih harus pakai atribut-atribut kaya tahun kemaren ya?

Tapi kalo online masa masih ada k-tiga gitu sih?

Hal-hal di atas kini sedang ramai diperbincangkan karena berkaitan dengan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB). Sukar sekali membayangkan kegiatan yang lumrah dilaksanakan di lingkungan kampus kini berpindah ke dunia virtual. Memang tidak terlalu mengejutkan sebab rutinitas pendidikan memang dilaksanakan secara daring, akibat wabah Covid-19.

PKKMB kini dilasungkan lewat aplikasi seperti Instagram, Youtube, Zoom dan lain sebagainya. Tak ayal hal tersebut membuat kita tidak akan menjumpai penampilan pemain-pemain sirkus akademik. Seperti puluhan orang yang dengan lantang meneriakan yel-yel saat siang bolong. Barisan-barisan orang beratribut nyentrik, atau sepasukan manusia berseragam rapih sedang menunduk dimarahi.

Sebelum membayangkan lebih jauh PKKMB daring saat ini. Sebenarnya kegiatan tersebut bertujuan untuk mengenalkan iklim akademik kampus ke mahasiswa baru. Namun dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kegiatan tersebut hanya menjadi ajang marah-marah, media menunjukkan superior seorang senior. Namun dengan migrasinya ke dunia virtual, muncul pertanyaan baru apakah pelaksanaanya kini betul-betul memberikan perbedaan, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Atau malah sekedar berpindah tempat saja? Serta, tetap menjadi ajang lucu-lucuan yang dibalut embel-embel kegiatan akademik.

Bungkus Baru PKKMB

PKKMB digital. Setidaknya sebutan itu yang kini cukup familiar. Membayangkannya saja membuat kita kadang memikirkan betapa majunya tekologi pendidikan kita. Namun, bayangan tersebut agaknya terlalu ketinggian, melihat realita penerapan PKKMB sendiri. Walau kini dilaksanakan secara daring praktek-praktek seperti penyeragaman, pemakaian atribut, penugasan masih lestari diterapkan.

Tak usahlah jauh-jauh melongok ke kampus lain. UNJ toh buktinya masih melakukannya. Seperti bentuk penyeragaman cara berpakaian, dengan alasan kerapihan dan ketertiban. Ditambah penambahan atribut-atribut yang terkesan berlebihan. Semakin komplit dengan adanya penugasan membuat video, menghafal yel-yel, hingga mencatat materi yang disampaikan. Dalam penerapannya panitia biasanya mewajibkan mahasiswa baru untuk melaksanakannya.

Apabila tidak di kerjakan hal-hal di atas bisa mendatangkan malapetaka baru berupa hukuman. Permasalahannya bentuk hukuman itu sendiri tidak mendidik sama sekali. Malah semakin membuat ajang ini menjadi sarana lucuan-lucuan. Belajar dari tahun-tahun sebelumnya biasanya hukuman ini berbentuk suruhan untuk menyanyi di depan mahasiswa lainnya. Memimpin yel-yel teman-temannya atau diberdirikan dan disuruh mengakui kesalahannya di depan umum.

Meski tidak secara terang-terangan melakukan penindasan, sebenarnya dengan pelaksanaan kegiatan tersebut panitia telah merubut habis kebebasan mahasiswa baru. Mungkin, banyak yang mengatakan, “udah gak usah ikut aja.” Namun biasanya, hal ini disiasati dengan dalih sertifikatnya sebagai syarat skripsi. Apalagi di tengah penerapannya secara daring. Kebijakan yang keluar, sebagai hukuman adalah tidak mendapatkan KTM dan sertifikat jika tidak berpartisipasi.

Selain kebebasan yang diambil paksa, ajang ini juga menjadi sarana awal pembungkaman kesadaran kritis mahasiswa baru. Sebab, maba hanya diposisikan sebagai subyek pasif, yang terus-menerus harus melaksanakan perintah. Tanpa harus tahu maksud dan tujuannya. Ibarat robot bernyawa, berjalan dengan program yang telah dibuat, tanpa pernah mengetahui maksudnya.

Padahal, menurut Paulo Friere seorang tokoh pendidikan Brazil, kesadaran kritis adalah bentuk kesadaran tertinggi dalam aerkeologi kesadaran manusia. Ketika sudah mencapai tahapan tersebut biasanya manusia akan menyadari realita di lingkungan tempat hidupnya serta berani mengkritisinya. Namun hal ini hanya bisa dicapai jika ada proses dialektis yang berlangsung. Dimana semuanya menjadi subyek aktif dan saling berdialog satu sama lain.

Meski PKKMB telah dilaksanakan secara daring, bentuk-bentuk penindasan tersebut nyatanya akan tetap subur. Sebab mau dilaksanakan di luar angkasa sekalipun, jika kesadaran kritis mahasiswa baru terus-terusan dibungkam. Maka kegiatan tersebut hanya mentransformasikan orang yang dulu ditindas, menjadi penindas-penindas baru yang bisa jadi lebih parah.

Andaikan

Nampaknya PKKMB secara daring tak membawa pembaruan sama sekali. Praktek-praktek yang telah ada terus saja dilestarikan. Walaupun kini medianya hanya lewat layar segi empat dan bertempat di rumah masing-masing.

Membayangkan kegiatan tersebut dapat lebih bermanfaat nampaknya lebih mengasyikan. Bagaimana akhirnya PKKMB menjadi suatu ajang pengenalan iklim akademik, serta tidak adanya bentuk penyeragaman dan pembungkaman daya kritis bagi mahasiswa baru.

Apalagi kegiatannya kini di lakukan secara daring. Daripada mahasiswa baru menghabiskan waktu menatap layar, mencatat materi, mendengarkan evaluasi dan sebagainya, lebih baik mereka diarahkan untuk berkontribusi di masyarakat. Meski terdengar agak aneh hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan, agar kita tak terpisah dari lingkungan sekitar.

Bisa dengan cara menerjunkan mahasiswa baru ke masyarakat lingkungan sekitar rumahnya. Guna memberikan sosialisasi untuk menjaga kesehatan, atau membantu mengajarkan anak-anak yang bersekolah secara daring. Sebenarnya beberapa cara tersebut telah dibayangkan Neil Postman, seorang Pedagog dan kritikus media. Baginya ditengah pendidikan yang serba digital saat ini, seharusnya kita menyadari pentingnya mencintai lingkungan tempat hidup kita.

Jika bila angan-angan tersebut dapat terealisasikan, setidaknya dapat menjadi pembuktian terhadap omongan sekelompok orang yang menamai dirinya badan eksekutif mahasiswa, yang disela-sela kegiatan PKKMB suka meneriakan untuk peduli dan membantu masyarakat. Serta jargon utamanya Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

PKKMB secara daring ini merupakan tanda kemajuan teknologi dalam pendidikan. Namun, jika kita berkaca penerapannya, secara langsung maupun daring tetap tak mengalami perubahan.

Nampaknya, masih membutuhkan waktu panjang untuk mengharapkan PKKMB sebagai kegiatan yang benar-benar bersifat akademik. Kegiatan yang memberikan kebebasan akademik, serta membangun kesadaran kritis kepada mahasiswa baru. Daripada hanya sekedar jadi ajang penampilan-penampilan yel-yel, penggunaan atribut bak anak TK, atau ajang ingin dihormati sebagai senior oleh mahasiswa baru.

Penulis: Abdul

Editor: Ahmad Qori

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *