Perempuan dan Ketertindasan dalam Cerpen “Air”

No Comment Yet

Djenar Maesa Ayu merupakan sastrawan perempuan yang dikenal karena mendapat pujian sekaligus kritikan. Karyanya banyak menuai kontroversi, karena acapkali dinilai terlalu berani dalam menggunakan kosa kata yang dianggap masyarakat masih tabu. Sosoknya yang berani dalam menulis karya yang lantang mengungkap ketertindasan perempuan dengan kata-kata vulgar, menjadikannya sebagai sosok yang  dicintai sekaligus dibenci banyak orang.

Salah satu karya Djenar Maesa Ayu yang menceritakan ketertindasan dan ketidakadilan yang dialami perempuan, tertuang dalam sebuah cerpen berjudul “Air”. Air merupakan kata yang biasa digunakan masyarakat sehari-hari, namun dari tangan Djenar, kata “air” bisa merujuk pada hal-hal yang berbau seksual dan merujuk pada ketertindasan yang dialami perempuan. Kata “air” inilah yang lalu menjadi sebuah cerpen dalam mengungkap sisi lain dari kehidupan seorang perempuan single parent, yang mendapatkan perlakuan berbeda hanya karena ia seorang perempuan.

Cerita pendek berjudul “Air”  yang ditulis Djenar Maesa Ayu pada 13 Mei 2006, dan diterbitkan di surat harian Kompas, mengisahkan keberanian dan ketimpangan yang dialami seorang perempuan, ketika memutuskan untuk melahirkan dan membesarkan anaknya seorang diri. Cerita diawali ketika tokoh ‘saya’ memilih untuk tetap melahirkan dan membesarkan anak yang dikandungnya seorang diri, karena sang Ayah dari jabang bayi di kandungannya memutuskan untuk melepas tanggung jawab terhadap anak tersebut.

Cerita lalu dilanjutkan dengan masa kehamilan yang begitu berat dialami oleh tokoh ‘saya’, ketika ia dipaksa berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang SPG hanya karena ia sedang mengandung, ia dianggap tak lagi menarik karena perutnya yang semakin membuncit. Perempuan dalam kasus ini hanya dianggap sebagai objek visual semata. Tubuhnya dijadikan alat untuk mengeruk keuntungan oleh kapitalisme, lalu saat tubuh itu tak lagi dianggap menarik, maka tubuh itu dibuang begitu saja. Hal ini menunjukkan bahwa eksploitasi tubuh perempuan memang benar adanya. Perempuan memiliki keterbatasan dalam mengatur tubuhnya sendiri, karena standar kecantikan yang melekat di masyarakat seolah mengharuskan perempuan untuk memiliki tubuh yang dianggap menarik bagi mereka. Bahkan, kehamilan dianggap membuat tubuh perempuan tak lagi menarik. Standar kecantikan yang ada saat ini mengharuskan perempuan memiliki tubuh sempurna dan menarik, namun hal ini kadang menjadi tekanan dan hal yang sangat merugikan bagi perempuan. Perempuan seolah tak memilki kebebasan dalam mengekspresikan tubuhnya sendiri, karena standar kecantikan berkembang dan merambah hingga ke dunia kerja. Akhirnya perempuan dituntut untuk menjadi cantik demi kepuasan social dan pasar.

Cerita lalu dilanjutkan dengan kelahiran seorang bayi dari tokoh ‘saya’ dan hari-hari yang mereka lalui. Sebagai seorang perempuan yang membesarkan anaknya seorang diri, tokoh ‘saya’ berani mengambil keputusan besar tersebut, dan mampu berjuang dalam menjalani hidupnya sebagai seorang ibu sekaligus pencari nafkah.

Tapi perjuangan dari tokoh ‘saya’ rasanya telah dikhianati oleh anaknya yang tumbuh menjadi remaja yang hidup dalam pergaulan bebas. Dalam keterputusasaannya, si tokoh ‘saya’ mencoba untuk mengakhiri hidupnya tapi ia lolos dari maut, dan justru menemukan kasih sayang dari anaknya lewat puisi dalam sebuah buku milik anaknya.

Dari uraian tersebut, saya merasa cerita pendek berjudul “Air” dari Djenar Maesa Ayu ini sangat menarik untuk dibahas dengan menggunakan perspektif feminis. Pendekatan feminisme dinilai tepat dalam menganalisa cerpen ini, karena dapat membongkar realita yang dialami perempuan yang terwakilkan dalam sosok “saya” di cerpen “Air” ini .

Dalam cerpen ini terdapat ketimpangan gender, yang pertama kali terlihat ketika sang perempuan memutuskan mempertahankan kandungannya seorang diri setelah sang laki-laki menolak untuk bertanggungjawab. Disini peran antara perempuan dan laki-laki terhadap anaknya begitu berbeda. Si tokoh ‘saya’ sebagai perempuan, dibebani tanggung jawab terhadap anak yang dikandungnya, sejak embrio itu ada di rahimnya, berkembang lalu lahir menjadi seorang  bayi, dan besar menjadi seorang anak, serta tanggungjawab dalam membentuk karakter anak. Sedangkan stigma dari masyarakat kepada laki-laki hanya sebatas ketika ia membuahi rahim tersebut dan bagaimana ia menafkahi anak tersebut saja.

Karena stigma dari masyakarat inilah yang akhirnya memaksa perempuan yang hamil diluar nikah untuk memilih melahirkan anaknya seorang diri atau menggugurkannya, meski begitu apapun keputusan yang diambil perempuan,  nyatanya ia akan mendapat stigma negatif dari masyarakat seumur hidupnya. Berbeda dengan laki-laki yang setelah proses pembuahan ini akan lebih mudah dalam melepaskan tanggung jawabnya

Cerita pendek berjudul “Air” yang ditulis oleh Djenar Maesa Ayu ini, mampu mengungkapkan sisi gelap kehidupan seorang perempuan yang hamil diluar nikah, dan terpaksa membesarkan anaknya seorang diri. Dimana hal ini masih banyak terjadi di kehidupan masyarakat negara ini. Di tengah masyarakat dengan budaya patriarki, Perempuan masih saja dianggap hanya sebagai alat reproduksi dan seksualitas semata. Perannya dihilangkan dari masyarakat dan keberadaannya hanya dianggap sebagai alat pencari keuntungan oleh para pemilik modal atau kaum kapitalis.

Tentunya dalam cerita pendek ini, Djenar berusaha menunjukkan hal-hal yang sering luput dari mata manusia. Ia menunjukkan betapa ketimpangan-ketimpangan itu masih banyak dirasakan oleh perempuan. Bagaimana seorang perempuan terpaksa dibebankan tanggung jawab dan kehilangan peran dalam masyarakat dan ekonomi.

Namun ditengah semua kesulitan itu, sosok perempuan mampu melawan ketertindasan dengan perjuangannya dalam meneruskan kehidupan. Meski masyarakat dan ekonomi terus menjadi tekanan dalam hidupnya.

Dalam pandangan yang berkembang di masyarakat saat ini. perempuan seringkali dicap sebagai manusia yang lemah dan sebatas manusia yang bekerja pada urusan domestik. Padahal perempuan seperti tokoh “saya” mampu mengambil beberapa peran sekaligus, dan tak melulu peran perempuan hanya dianggap sebagai seorang ibu yang mengasuh anak dan mengurus urusan rumah tangga belaka. 

Penulis: Nafisatul Ummah

Editor: Hastomo D. Putra

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *