Tuhan-Tuhan Baru Sekolah

No Comment Yet

Identitas Buku:

Judul                        : Matinya Pendidikan

Penulis                     : Neil Postman

Penerbit                   : Octopus

Tahun Terbit           :2019

Jumlah Halaman   : 294

ISBN                        : 978-602-5868-26-9

Wabah Covid-19 merombak habis hampir seluruh sektor kehidupan manusia. Berbagai negara kini berlomba membuat jaring pengamanan, dari penyebaran virus tersebut. Menyebabkan didorongnya sistem karantina suatu wilayah  atau lockdown, hingga kampanye Work from Home (WFH). Tak ayal berbagai kegiatan kini tersentralisasi dari rumah, mulai pekerjaan kantor, rapat-rapat penting, hingga kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Meski berbagai kegiatan dilakukan dari rumah, dunia pendidikan mungkin yang paling kita rasakan imbasnya. Indonesia sendiri menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), membuat proses pembelajaran kini bermigrasi ke ruang-ruang virtual. Seperti penggunaan platform digital penyedia konfrensi video untuk melakukan tatap muka, guru, dan murid atau sejenis platform pengumpulan tugas murid.

Murid kini menghabiskan waktunya menatap layar gawai, guna pelaksanaan belajar mengajar. Walaupun terdengar praktis dan dapat diakses semua orang. Justru dalam penerapannya, menghadirkan problem baru dalam dunia pendidikan. Semisal kepemilikan gawai sebagai alat penunjang, belum meratanya koneksi internet di berbagai daerah, semakin musykil karena ketiadaan subsidi dari pemerintah guna membeli paketan internet.

Setidaknya penerapan teknologi di dunia pendidikan bukanlah sesuatu yang baru. Jauh sebelum apa yang kita rasakan sekarang, Neil Postman seorang pendidik dan juga ahli teori media serta kritikus budaya, telah membayangkannya. Dalam bukunya End of Education, Postman seakan menerawang masa depan. Teknologi dianalogikannya sebagai tuhan baru yang kini mengisi kekosongan narasi sekolah. Penggunaan kata tuhan bukan dimaksudkan, dalam arti familiarnya.

Tetapi tuhan sebagai narasi besar yang memiliki kredibilitas, kompleksitas cukup, dan kekuatan simbolis yang menjadikan seseorang mampu mengatur orang-orang di sekelilingnya.   

Jauh sebelum teknologi hadir, tuhan-tuhan lama telah mengalami kegagalan seperti komunisme dan fasisme. Baik tuhan lama ataupun baru keduanya menawarkan janji-janji dan narasi-narasi besar, tentang keberhasilan dan pencapaian yang gemilang jika kita mau tunduk padanya.

Teknologi sendiri menjanjikan dapat memudahkan akses informasi, menyamaratakan kesempatan belajar bagi setiap orang, hingga dianggap bebas dari berbagai kesalahan. Namun, anggapan tersebut agak meragukan. Berkaca dari penerapan PJJ saat ini. Berbagai problem yang timbul seakan memberi sinyal bahwa, pernyataan di atas bisa jadi salah besar.

Hal tersebut juga disetujui oleh Postman, baginya teknologi memiliki beberapa rahasia. Postman mengungkapnya dengan kisah yang agak Ironis. Bagaimana orang tua si kecil Eva dapat  menghadirkan teknologi dan perangkat lunak. Agar anaknya dapat belajar aljabar di tengah malam. Berbanding terbalik dengan orang tua Merry yang tak dapat menghadirkan keduanya.

Mirisnya kisah tersebut benar-benar terjadi, di tengah penerapan PJJ. Tersiar kabar orang tua yang tak dapat membelikan anaknya smartphone, atau seorang anak yang rela datang sendirian ke sekolahnya guna mengikuti pembelajaran, hingga seorang anak yang menjual ayam peliharaannya untuk membeli gawai agar tak menyusahkan orang tuanya.

Selain kemunculan teknologi, hadir pula kemanfaatan ekonomi dan konsumerisme. Keduanya sama-sama di posisikan Postman sebagai tuhan-tuhan baru. Tuhan kemanfaatan ekonomi masuk ke sekolah-sekolah, dengan narasi kemudahan mendapat pekerjaan, serta gaji tinggi. Setelah murid-murid lulus dan kembali ke masyarakat. Namun seperti omong kosng belaka,  sebab realitanya hingga saat ini hanya sedikit sekolah atau bahkan tak ada, yang benar-benar menjamin hal tersebut dapat ter- realisasikan.

Tuhan kemanfaatan ekonomi mungkin masuk dunia pendidikan lewat sekolah. Berbeda dengan temannya, konsumerisme bahkan mempengaruhi anak-anak jauh sebelum mereka bersekolah. Bukti nyatanya setiap hari di televisi iklan-iklan di putar dengan jingle-jingle menarik. Memaksa kita untuk menjadi masyarakat yang konsumtif. Ditambah saat ini platform-platform sejenis televisi bermunculan. Salah satunya Youtube, ketika memutar video ada saja iklan yang melintas. Postman mengutip sebuah pepatah, guna memotret kemiripan keduanya.

Kemanfaatan ekonomi merumuskan anda adalah apa yang anda dapatkan dalam penghidupan; sedangkan konsumsumerisme merumuskan anda adalah apa yang bisa kamu kumpulkan (hlm.49)

Saat ini ketiga tuhan baru, telah mengalami kegagalan. Janji akan kemajuan dan perubahan semuanya sangat meragukan. Hal inilah yang akhirnya mengantarkan pendidikan sekolah kepada akhir dan kematiannya.

Pertolongan Telah Datang

Ibarat bunga-bunga layu diganti bunga-bunga baru, yang mungkin lebih cantik dan indah. Postman turut menghadirkan tuhan-tuhan baru yang mampu memberi pertolongan dan menentukan tujuan baru sekolah. Salah satunya lewat penghadiran mata pelajaran arkeologi, antropologi, serta astronomi. Ketiganya dirumuskan untuk menghasilkan kecintaan terhadap bumi yang kini kita tinggali.

“Bagaimana kita mencintai pohon di depan rumah, sedangkan kita mengabaikan rumah itu sendiri”. Hal tersebutlah yang kini terjadi, mengantarkan kita pada ketidakpedulian terhadap bumi. Ketiga mata pelajaran yang dirumuskan Postman dimulai dari aerkeologi membimbing kita menyelami kehidupan masa lalu. Bagaimana peradaban Mesir dapat membangun piramida, atau kemajuan yang diperoleh suku maya. Meski belum mengenal kemajuan teknologi saat ini. Mereka lebih mengenal tentang bumi dan cara merawatnya, hal ini dapat menjadi pelajaran bagi murid untuk tidak terlalu terkesima dengan kemajuan yang ada.

Sedang studi antropologi, dimaksudkan untuk mengahantarkan peserta didik memahami berbagai kultur serta pandangan terhadap dunia yang berbeda-beda. Hal ini dapat menumbuhkan rasa toleransi serta menerima perbedaan pandangan. Postman memberi gambaran dari film star trek, ketika orang-orang vulkar memandang makhluk bumi dengan keheranan, sebab berbeda dengan mereka. Namun dengan kita mempelajari sesuatu dari kelompok lain, rasa toleransi dapat tercipta. Meskipun tiap-tiap kelompok tetap memegang cara pandang dunia dari kelompoknya.

Antropologi dapat menghindarkan kita dari rasa intoleransi, ketidakpercayaan, serta ketidakpeduliaan, yang sedang mengancam keadaan planet saat ini. Terakhir dengan dimasukannya astronomi, kita dapat lebih mendalami tentang planet-planet lain selain bumi. Sehingga murid menganggap tempat yang saat ini ditinggali merupakan, kendaraan ruang angkasa yang harus dijaga dan dilestarikan.

Lebih jauh, Postman, menganjurkan sekolah-sekolah membiasakan murid belajar dari kesalahan masa lalu. Dirinya menganggap gagasan ini akan ditertawakan orang lain, sebab kesalahan dianggap sebagai sesuatu yang memalukan bahkan tabu. Baginya dari pada guru hanya berpacu pada teks-teks buku, sehingga menghasilkan dogmatisme semata. Lebih baik murid dijejali beragam fakta atau persoalan yang pernah dialami umat manusia. Kemudian mencari kekurangan dan kesalahannya, untuk diperbaiki kedepannya. Metode ini bisa jadi membuat murid berpikir kritis dan lebih peka terhadap realitas sosialnya.

Selain itu sekolah-sekolah juga dapat merumuskan pelajaran tentang bahasa dan kata-kata. Postman menganggap pandangan manusia terhadap dunia tercipta lewat definisi-definisi, metafora-metafora, pertanyaan-pertanyaan dari penggunaan kata. Namun sekolah-sekolah, membatasi pelajaran bahasa pada tata penggunaanya, penyusunan kalimat, dll. Dia memandang bahasa dan realitas sebenarnya terhubung, sebab peristiwa manusia selanjutnya akan dilukiskan dengan kata-kata.

Gagasan yang disebutnya sebagai tuhan baru bisa saja menghindarkan sekolah dari kematiannya. Penerapan tiga mata pelajaran sebelumnya, yang dimaksudkan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap bumi dan lingkungan. Nampaknya berguna di tengah kondisi wabah saat ini. Daripada murid-murid hanya menghabiskan tenaganya, melakukan pembelajaran daring. Lebih baik mereka dikerahkan untuk membantu tenaga-tenaga medis atau sekedar mengedukasi masyarakat untuk menjaga diri dari penyebaran covid-19. Pengandaian tadi telah di gambarkan oleh postman dalam kisah fiksi kerusuhan di New York, akhirnya selesai setelah sekolah mengerahkan murid-muridnya untuk membantu masyarakat.

Dua rumusan terakhir, berguna untuk mempertanyakan penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan saat ini. Hingga saat ini sekolah-sekolah hanya mengajarkan tujuan-tujuan teknis, seperti pengoperasian komputer dan penggunaan internet. Penerapan keduanya membuat murid peka terhadap kesalahan dan lebih kritis. Serta memahami makna dari kata yang ada, juga penggunaanya. Mungkin di tengah penerapan PJJ sekarang, murid bukan lagi menanyakan bagaimana melakukan persentasi secara daring atau sibuk menggunakan beragam aplikasi. Lebih jauh pembahasannya bisa berupa apa dampak negatif dari penggunaan aplikasi untuk pembelajaran saat ini? Atau apakah teknologi memanfaat kita?

Terakhir meski tak sempat melihat atau membuktikan analisisnya terhadap pengaruh teknologi di dunia pendidikan. Tulisannya tahun 1995 ini, berhasil memotret perkembangan saat ini. Bukan tanpa kekurangan, buku ini banyak mengambil studi kasus dari Amerika. Sehingga banyak perbedaan dengan perkembangan tempat lain, khususnya negara-negara yang baru merasakan kemajuan teknologi, akhir-akhir ini.

Sesuai dengan judul bukunya, end of education dapat berarti akhir atau tujuan. Bisa menjadi sebuah refleksi bersama terhadap pendidikan hari ini. 

Penulis : M. Abdul

Editor : M. Muhtar

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *