Isu Agraria, Anak Tiri Wacana Media

No Comment Yet

Pada 28 Agustus 2020, Kanal Youtube Sekretariat Presiden menampilkan pidato presiden Joko Widodo meresmikan Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) sekaligus menara navigasi udara dan peringatan dini bencana tsunami. Sebelum presiden, Faik Fahmi, DIrektur utama Angkasa Pura 1, mengungkapkan bahwa bandara akan menarik wisatawan.

Di balik peresmian bandara, media massa memainkan peran penting dalam dinamika pembangunan. Kamil Alfi Arifin dan Umar Basuki, dosen program studi ilmu komunikasi mengungkapkan bahwa media turut mengambil peran dalam suatu konflik agraria. Dalam penelitian tersebut, media kedaulatan rakyat jogja, krjogja.com, sebagai salah satu media tertua menggunakan pembingkaian dan pemilihan narasumber untuk menampilkan kesan positif mengenai proyek bandara YIA.

Krjogja.com, terkait pemberitaan YIA, menampilkan proses pembangunan bandara sedari peletakan batu pertama, pembersihan lahan, sampai peresmian. Disamping itu pemberitaan mengenai prospek dan keunggulan bandara turut menghiasai pemberitaan. Begitupun peluang usaha dan ekonomi pembangunan bandara, pemberitaan analisis mengenai dampak lingkungan yang tidak kritis, mitigasi bencana, dan relokasi ganti rugi. Penelitian ini juga menyebutkan beberapa wacana yang seharusnya mendapat perhatian diantaranya perampasan lahan dan penghidupan petani produktif, kerusakan ekosistem dan pembangunan yang tidak partisipatif[1].

Di sisi lain, pemberitaan media daring Tirto.id memilih memberitakan tindakan PT Angkasa Pura 1 terhadap warga yang berlebihan. Tirto.id mewartakan proses pengosongan lahan dengan tindakan seperti menyeret pemilik rumah yang tidak luput dari perkelahian. Hal ini kemudian menentukan konstruksi sosial yang tampil dalam pemberitaan[2].

Dari contoh-contoh di atas, menunjukan minimnya perspektif media terkait isu agraria. Bahkan menurut Sapariah Saturi, penulis sekaligus penyunting senior Mongabay.co.id,  isu agraria menjadi anak tiri dan bukan konsumsi wacana arus utama. Hal tersebut ia sampaikan dalam diskusi dies natalis Lembaga Pers Mahasiswa Aspirasi. Sementara menurutnya masalah agraria terus berlangsung bahkan berujung pada pelanggaran hak asasi manusia. “Selain itu masalah agraria tidak menunggu trending,” ujarnya.

Minimnya pemberitaan media mengenai isu agraria, menurut Sapariah memiliki beberapa penyebab diantaranya adalah keterbatasan media serta sumber daya. Selain itu ia menyebutkan kepentingan politik dibalik media mempengaruhi apa yang akan tampil. “Pelaku bisnis ekstraktif memiliki relasi dengan pemilik media,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, penelitian Sumantri Raharjo, dosen akademi komunikasi Yogyakarta menyebutkan bahwa media merupakan entitas bisnis dalam jaringan yang ia sebut sebagai konglomerasi media. Kegiatan menjalin hubungan dengan media merupakan hal penting bagi perusahaan atau organisasi untuk citra, tulisnya. Terlebih lagi saat perusahaan banyak menggunakan media yang masih dalam satu kelompok usaha. Dia mencontohkan Lippo Group yang memiliki koran Jakarta Globe, suara pembarauan, beritasatu.com, sekaligus bisnis properti, rumah sakit, asuransi, serta penyedia layanan internet[3].

Senada dengan hal tersebut, Benny Wihaya, pengurus Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), menggatakan salah satu dampak dari kolomerasi media terhadap pemberitaan media mengenai isu agraria mengakibatkan pemberitaan yang hanya permukaan dan parsial. “Belum membahas akar masalah agraria,” ungkapnya. Dia juga menjelaskan akar masalah yang dimaksud ialah salah kebijakan, persepsi pemerintah soal pertanahan yang sempit atau politik ijin usaha suatu perusahaan (politik ijon).

Terakhir, Benny, menyampaikan jaringan masyarakat mengakali ketimpangan representasi media dengan mengabarkan melalui media sosial. Maka, ia berpendapat, pentingnya mengadakan pelatihan isu agraria guna menambah persepktif agraria bagi wartawan.


Referensi

[1] Arifin, Kamil Alfi, and Umar Basuki. “MEDIA DAN NYIA:(Analisis Wacana Kritis Pembangunan Bandara Baru New Yogyakarta International Airport dalam Pemberitaan Media Lokal di Yogyakarta).” Jurnal Komunikasi 13.1 (2018): 67-80.

[2] Faujiah, Nanda Aullia, and Rubiyanah Rubiyanah. “Analisis Framing Pemberitaan Konflik Agraria Kulon Progo terkait Pembangunan Bandara Yia Pada Medcom. id dan Tirto. id.” Jurnal Studi Jurnalistik 1.2 (2020): 72-80.

[3] Raharjo, Sumantri. “Media Relations di Era Konglomerasi Media.” Jurnal Komunikasi 7.1 (2012): 1-16.

Penulis: Faisal Bahri

Editor: Uly Mega

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *