Mempertimbangkan Kembali Ramalan Covid-19: Kemenangan Sosialisme?

No Comment Yet

Mengawali 2021, tak ayal jika seluruh umat manusia merasa bahwa wabah Covid-19 harus segera diakhiri. Apa yang telah direnggut oleh wabah ini tentu saja bukan hanya nyawa, namun juga kebebasan seseorang dalam beraktivitas sehari-hari. Bagi sebagian orang pula, wabah ini juga berdampak pada kondisi ekonomi yang memaksa untuk merubah pola konsumsi mereka.

Sejak tulisan ini dipublikasikan, Covid-19 sudah menyentuh angka 84.916.674 kasus di dunia. Layanan kesehatan masih memprihatinkan di beberapa negara. Hal ini berimbas pula pada kondisi ekonomi, ketika Covid-19 menghambat aktivitas pasar dunia. Namun, apa yang akan terjadi dengan kondisi ekonomi dunia pasca Covid-19?

Ketika fenomena Covid-19 belum begitu menjadi perbincangan populer, para ilmuwan dari berbagai penjuru dunia sudah berlomba-lomba memecahkan teka-teki dari mana virus ini berasal. Namun, penelitian yang menyita perhatian saya jatuh pada kajian Rob Wallace, biolog evolusioner yang melakukan berbagai penelitian ilmiah tentang epidemologi dengan pendekatan ekonomi politik.

Dalam perbincangannya dengan Yaak Pabst untuk majalah sosialis Marx21, Rob Wallace, yang juga sebagai penulis buku Big Farms Make Big Flu ini mengatakan bahwa, peningkatan virus sangat terkait dengan produksi pangan dan profitabilitas korporasi-korporasi multinasional.[1] Akibat ekspansi kapital yang terus-menerus, hutan pun dibabat sedemikian rupa. Masalahnya, hutan menyimpan beragam patogen-patogen yang jika dihabisi, patogen tersebut akan menyebar keluar hutan, contohnya ke peternakan lokal dan komunitas manusia seperti perkotaan. Dari peternakan lokal, hewan-hewan ternak tersebut dijual ke pasar-pasar yang terformalisasi, kemudian dikonsumsi oleh manusia. Artinya, Investasi mendorong deforestasi dan menyebabkan munculnya penyakit.

Seluruh negara bersusah payah menemukan jalan keluar dari masalah darurat yang menjangkit umat manusia ini. Namun, tak ada yang menyangkal bahwa sebenarnya, negara itu sendiri yang telah memberi ruang bagi kapital untuk melakukan deforestasi tersebut. Meskipun terbuka untuk kritik dan pembaharuan, penelitian Rob Wallace terdengar cukup masuk akal.

“You couldn’t design a better system (than capital agriculture) to breed deadly diseases.”

Rob Wallace

Kendati demikian, Covid-19 telah menjadi musuh bersama bagi seluruh dunia. Beragam upaya dilakukan. WHO menetapkan darurat kesehatan internasional. Korporasi mulai gigit jari melihat situasi yang mengancam kepentingannya, yang akhirnya berimbas pada negara-negara yang ditungganginya.

Bias Optimisme

Di sisi lain, meskipun bukan hal baru, adalah topik yang menarik untuk memproyeksikan situasi ekonomi, politik, sosial, dan budaya pasca pandemi. Media sosial, warung kopi, dan ruang-ruang publik lainnya, menjadi wadah bagi seluruh lapisan masyarakat untuk membayangkan hal tersebut. Tak ketinggalan juga bagi para intelektual ternama. Kita menemukan tulisan Martin Suryajaya, misalnya, dengan analogi “Empat Penunggang Kuda Hari Kiamat”nya yang meramalkan ajal bagi kapitalisme karena pandemi.[2] Atau, kita juga sudah mendengar ramalan Slavoj Zizek, lewat perumpamaannya bahwa wabah virus corona seperti “Five Point Palm Exploding Heart Technique,” jurus mematikan dalam film Kill Bill 2, yang menyerang kapitalisme global.[3] Jika tak dapat dikatakan ramalan, analisis Zizek tentang krisis ekonomi yang dibawa oleh pandemi ini mengantarkan kita pada suatu pertanyaan, apakah pandemi ini membawa umat manusia pada Barbarisme, atau mendorong kesadaran akan solidaritas global?

Dari ramalan-ramalan tersebut, baik Martin maupun Zizek, kemiripan ramalan mereka terletak pada kondisi ekonomi yang berubah secara fundamental, runtuhnya kapitalisme global yang kemudian mengilhami perubahan ekonomi secara radikal, dimana sosialisme dan solidaritas global adalah jalan keluar. Mandeknya industri-industri yang mengandalkan pekerja fisik, menurunnya minat investasi, nasionalisasi besar-besaran seperti yang terjadi di beberapa negara, adalah lampu penerang jalan bagi kapitalisme menuju liang kuburnya, menurut mereka.

Namun, apakah ini akhir bagi kapitalisme? Bagaimana jika kapitalisme mampu melewati krisis ini, atau justru semakin kuat pasca pandemi? Ini tentu bukan hal yang mengejutkan, mengingat kapitalisme terus menerus mengalami, sekaligus mengatasi krisis. Sejauh mana kita dapat mempercayai solidaritas global hari ini, kamerad?

Kita ingat bagaimana krisis moneter 1998 yang menyerang negara-negara Asia, atau misalnya krisis 2008 yang berdampak secara global meskipun dengan skala yang berbeda-beda di tiap negara, kapitalisme masih tetap eksis hingga saat ini. Masih menjadi perdebatan serius diantara para ekonom untuk menemukan jawabannya. Krisis moneter 1998, krisis ekonomi 2008, atau krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, dan krisis ekonomi yang melanda seluruh dunia saat ini, memang terdapat beberapa perbedaan. Tapi, bukankah terlalu terburu-buru untuk mengatakan bahwa wabah virus Corona adalah ajal bagi kapitalisme berdasarkan fakta tersebut? Bukti mundurnya kapitalisme kontemporer tidak secara otomatis menandakan kemenangan sosialisme.

Berbagai protes yang secara langsung menyerukan anti kapitalisme dan pasar bebas juga acap kali terjadi. Seattle 1999, Hamburg 2017, beberapa kali pengrusakan patung Charging Bull di Wall Street yang menjadi ikon kekuatan kapitalisme, atau gelombang protes yang saat ini masih berlangsung di beberapa negara di Eropa, nyatanya belum begitu kuat. Sepertinya, cukup relevan untuk mengatakan bahwa revolusi sosial masih berada di titik nadir.

Bukan hanya sebagai sistem dalam ekonomi, namun juga sebagai paradigma yang mempengaruhi setiap sektor kehidupan, kapitalisme sangatlah dialektis.

 Ajal Kapitalisme?

Apa yang Martin katakan bahwa seluruh industri manufaktur padat karya serta hiburan akan hancur karena penjarakkan fisik, nampaknya perlu untuk kita bicarakan ulang. Pasalnya, beberapa negara justru lebih mementingkan keselamatan ekonomi dibanding kesehatan rakyatnya. Karantina wilayah mungkin diterapkan oleh pemangku kebijakan. Namun untuk saat ini, karantina wilayah semakin dilonggarkan. Pusat-pusat perbelanjaan, hotel, restoran, tempat wisata, sekolah, dan tempat publik lainnya, sudah mulai dibuka kembali. Begitu sangat memaksakannya ketika bioskop mulai dibuka kembali, dengan pembatasan jumlah penonton dan dikosongkannya beberapa bangku. Protokol kesehatan memang diterapkan, tapi memang begitulah semestinya agar roda ekonomi tetap berjalan.

Dari hal tersebut, pekerja fisik pun tetap dipekerjakan dengan upah yang dipotong karena perusahaan tak mau makin merugi di tengah krisis. Beberapa perusahaan bahkan harus memecat pekerjanya. Hal ini membuat kesadaran kelas bagi para pekerja semakin kabur. Dengan dirinya yang masih diberi kesempatan bekerja untuk pemilik modal dibanding kawan-kawannya yang telah dipecat, sepiring nasi akan lebih bermanfaat ketimbang cita-cita utopis.

Kabar bahwa beberapa negara mengalami resesi ekonomi memang bukan kabar burung. Kurs dollar sempat mengalami kenaikan tajam di beberapa negara sejak Maret hingga pertengahan tahun. Hal ini berdampak pada pasar impor, harga bahan pokok di beberapa negara mengalami kenaikan, termasuk di Indonesia. Selain itu, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), menyusutnya daya beli masyarakat karena pendapatan yang berkurang, telah mengancam beberapa ekonomi negara.

Meski beberapa negara sempat mengalami resesi ekonomi, seperti Indonesia, Singapura, dan, Korea Selatan, hal ini tidak dapat dijadikan indikator krisis ekonomi akan terjadi. Dibanding periode Maret hingga pertengahan tahun, saat ini kondisi ekonomi beberapa negara mulai beradaptasi dengan pandemi. Hanya beberapa bulan hingga akhirnya kurs dollar di beberapa negara kembali mengalami fluktuasi yang tak begitu mengancam.

Masyarakat yang kesulitan mencari kerja atau yang sebelumnya kena PHK, mulai mencari solusi. Beberapa diantaranya membangun usaha ekonomi kreatif secara mandiri, usaha kecil-kecilan, atau menjadi freelance dengan upah seadanya. Terlebih dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (meskipun belum sempurna), segalanya terkoneksi lebih mudah antara produsen dan konsumen. Kendati mencari modal itu sulit, sesulitnya mencari modal, akan lebih sulit mendengar rintih perutnya sendiri yang kelaparan.

Harga bahan pokok yang naik akan diimbangi dengan tersedianya lapangan kerja baru. Barangkali kita mengira gelombang PHK beberapa waktu lalu adalah tanda sulitnya mencari kerja untuk saat ini. Namun, ini akan menjadi batu loncatan bagi pasar tenaga kerja untuk menjadi lebih fleksibel. Di era akumulasi seperti sekarang ini, satu pintu yang tertutup tidak menutup sembilan pintu yang lain. Ketika ribuan orang di-PHK, pemerintah memiliki celah untuk menyediakan pasar tenaga kerja yang fleksibel. Korporasi besar akan menginvestasikan diri di perusahaan digital. Hal ini berimbas pada legitimasi proyek pembangunan pemerintah oleh masyarakat yang dengan manisnya mengatasnamakan kepentingan bersama.

Mewujudkan fleksibilitas pasar tenaga kerja barangkali adalah satu dari sekian langkah yang akan dilakukan negara dalam upaya mengembalikan kestabilan ekonominya. Beranjak dari sebuah bencana Covid-19 yang mengguncang masyarakat dunia, memungkinkan bagi pemerintah untuk membuat suatu kebijakan yang menguntungkan kapital. Cukup relevan melihat kondisi ini dengan apa yang Naomi Klein sebut sebagai Shock Doctrine. Peneliti sekaligus aktivis yang fokus pada isu-isu lingkungan hidup ini, melihat bagaimana kapitalisme mentransformasikan suatu bencana atau tragedi di masyarakat menjadi suatu komoditas dalam melancarkan kepentingannya. Dalam hal ini, negara mengambil peran dalam membentuk kebijakan baru secara sepihak dengan mengatasnamakan situasi darurat nasional. Shock Doctrine adalah taktik negara dalam menciptakan kedamaian semu bagi rakyatnya.

Lebih dari Sekedar Wabah

Sudah sembilan bulan sejak Rob Wallace menganalisis kemunculan wabah virus Corona dan kaitannya dengan agrikultur kapital. Kini, pihak yang bertanggung jawab untuk menangani wabah pun sudah terlihat. Meskipun, bertanggung jawab oleh ulahnya sendiri adalah sesuatu yang mesti diapresiasi, kapital tetaplah kapital dengan kepentingannya. Di Indonesia, pemerintah sudah menjalin kerja sama dengan tiga perusahaan swasta untuk memproduksi dosis vaksin Covid-19.[4] Inilah hal yang pasti akan terjadi. Sudah tak ada waktu bagi kita untuk terkejut.

Proyeksi saya sendiri, ini barulah tahap awal dari evolusi kapital yang lebih matang. Kepanjangan tanganan kapital dan “kemurahan hati” pemerintah akan terus berlanjut pasca pandemi. Perusahaan-perusahaan yang berorientasi pada pengadaan alat-alat kesehatan dan sanitasi, layanan kesehatan dan kebersihan, atau perusahaan financial teknologi dan e-commerce, akan terus menerus masuk. Hal ini diselaraskan dengan budaya hidup bersih yang sengaja diciptakan dan diperkuat oleh pengalaman sulit selama pandemi. Covid-19 tak lebih menakutkan dengan komunisme. Maka, ialah musuh bersama yang sengaja diciptakan.

Budaya hidup bersih tersebut tidak bisa berdiri dengan sendirinya, namun diciptakan. Benar adanya jika pemerintah sudah membuat undang-undang yang mengatur tentang kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, sertifikasi untuk UMKM, perusahaan, atau sekolah bersih, dan semacamnya. Namun, dengan adanya pandemi ini, pemerintah mendapatkan legitimasi yang semakin kuat untuk membangun budaya hidup bersih. Jangan terkejut bilamana nantinya, perusahaan-perusahaan tersebut semakin menjamur dan mungkin saja mendapat posisi khusus.

Selain itu, hal ini juga mungkin akan berdampak pada maraknya penggusuran kampung-kampung kota yang dianggap “kumuh.” Hal ini memang sudah terjadi dan masif sejak era Orde Baru. Di era Jokowi, Tamansari di Bandung adalah korban proyek Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) yang sejak 2017 hingga saat ini masih berstatus sengketa. Rencananya, di atas puing-puing reruntuhan Tamansari akan dibangun dengan dua blok Apartemen. Program ini disosialisasikan kepada pemerintah daerah pada 27 April 2016 dengan mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), memiliki sumber pembiayaan yang berasal dari pinjaman luar negeri lembaga donor, yaitu World Bank, Islamic Development Bank, dan Asian Infrastructure Investment Bank.[5]

Kotaku sendiri masuk dalam Program Padat Karya Tunai (PKT). Di tengah pandemi, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menggelontorkan anggaran Rp 10,22 triliun untuk membiayai program PKT di 34 provinsi, salah satunya masuk ke dalam anggaran Kotaku. Ini dikarenakan Jokowi yang telah mengeluarkan instruksi percepatan PKT guna mempertahankan daya beli masyarakat dan membuka lapangan pekerjaan di tengah pandemi Covid-19.[6] “Kumuh” akhirnya menjadi label yang terus direproduksi negara dan semakin dimantapkan dengan adanya pandemi ini.

Harga barang kebutuhan mungkin saja naik sebagai konsekuensi industri yang mesti punya sistem kebersihan terstandarisasi oleh negara. Taraf hidup masyarakat pun naik. Hidup sehat akan menjadi semakin tren. Aparatus-aparatus ideologi memiliki peranan dalam hal ini. Kita tak dapat menafikan bahwa bersih adalah hal yang baik, meskipun kita menyangkal bahwa hidup bersih adalah budaya yang dibentuk oleh kapitalisme. Tetapi ada keterbatasan untuk bisa bersih. Masyarakat miskin tak punya hygiene kit karena tak mampu mengaksesnya. Orang miskin semakin dijauhi karena dianggap kotor, marjinalisasi semakin menjadi.

Pada akhirnya, akan ada “seleksi tidak alamiah” untuk menyingkirkan kelompok yang tak bisa hidup bersih. Saya teringat pada film The Purge (2013) ketika orang-orang yang tak memiliki sistem proteksi diri cukup kuat dan kelompok tunawisma, akan mati dibunuh. Sistem ini diciptakan oleh negara, kemudian didukung oleh perusahaan swasta penyedia layanan pertahanan rumah, jasa atau barang. Bedanya dengan proyeksi saya kedepan, orang miskin akan mati karena tak bisa hidup sesuai standar kebersihan yang dibentuk negara.

Asumsi bahwa pemerintah berupaya menakut-nakuti rakyatnya dengan kehebohan Covid-19, masih perlu kita kaji lebih dalam. Melihat otoritas negara dan praktik kapitalisme hari ini, nampaknya bukan suatu kemustahilan jika pandemi ini justru semakin melegitimasi posisi kapitalisme dalam kehidupan kita. Meskipun nampak fatalis, penuh pesimisme, dan mengglorifikasi sistem hari ini, saya tak meragukan jika suatu saat nanti, kehidupan yang layak bagi seluruh umat manusia dapat terwujud. Namun, sulit bagi saya untuk menerima bahwa Covid-19 telah cukup kuat untuk mendorong terciptanya kesadaran kelas, untuk saat ini.


[1] https://arlandy.medium.com/agrikultur-kapitalis-dan-covid-19-sebuah-kombinasi-mematikan-8215df2650d1

[2] https://indoprogress.com/2020/04/membayangkan-ekonomi-dunia-setelah-korona/

[3] https://lpmarena.com/2020/04/09/slavoj-zizek-coronavirus-adalah-serangan-kill-bill-bagi-kapitalisme-dan-penemuan-kembali-komunisme/

[4] https://nasional.kompas.com/read/2020/10/27/18255761/pemerintah-gandeng-3-perusahaan-swasta-untuk-pengadaan-vaksin-covid-19

[5] Forum Solidaritas Melawan Penggusuran. Harlah Satu Tahun Tamansari: Melawan Adalah Marka, Panggilan dan Penegas Ihwal Perlawanan yang Urung Tugur, Tentang Perjuangan yang Akan Terus Berlangsung. Zine Harlah Satu Tahun Tamansari Melawan 2018.

[6] https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/properti/read/2020/04/23/220013521/tahun-ini-program-kota-tanpa-kumuh-dilaksanakan-di-364-kelurahan


Penulis: Hastomo D. Putra

Editor: Uly Mega dan Muhamad Muhtar

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *