Cupang Menyambung Kehidupan Rakyat Kecil

No Comment Yet

Sudah setahun lebih Indonesia berjuang menghadapi Covid-19. Namun, segala kebijakan yang dibuat oleh pemerintah mengenai pandemi. Nampaknya belum membuahkan hasil. Seakan pemerintah dibuat dilema oleh pandemi. Sampai saat ini, upaya pemerintah dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 dengan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berkepanjangan.

 Vaksinasi juga mulai dilakukan sejak pertengahan Januari 2021. Tetapi di satu sisi, segala sektor ekonomi berupaya bertahan menghadapi pandemi. Dengan memberlakukan kebijakan, berupa pegawai yang dirumahkan, tidak digaji, hingga dipecat.

Hal ini terlihat dengan maraknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh perusahaan, dimana perusahaan beranggapan untuk mengurangi ongkos produksinya di tengah pandemi. Sekitar 6,4 juta pekerja di PHK atau dirumahkan, yang dijelaskan oleh Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Benny Sutrisno. “Akibat covid ini, kami sudah banyak merumahkan tenaga kerja. Dimana ada yang dibayar, ada yang tidak dibayar. Kalau terpaksa, di-PHK,” katanya dalam acara Forum Merdeka Barat, di Jakarta, Selasa (6/10/2020).

Dengan maraknya pegawai yang dirumahkan sampai pada akhirnya dipecat, seperti yang dialami oleh Farhan Febriansyah, Jakarta Pusat, Kampung Rawa, 19 tahun. Semenjak dirumahkan oleh perusahaannya pada bulan maret. Ia hanya menerima setengah dari penghasilan, ia hanya mendapatkan penghasilan tidak lebih dari 2 juta. Lalu pada bulan Desember 2020, ia pun dipecat oleh perusahaannya. Akan tetapi,  perusahannya masih ingin memperkerjakannya sebagai karyawan lepas. “Seminggu paling dipanggil sama bos tiga sampai empat hari lah,” ujarnya.

Sebelum terkena PHK, biasanya ia dapat membantu bayar sewa kontrakan dan cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Tiap bulannya, ia mendapat penghasilan sekitar empat jutaan. Sedangkan, ia harus memutar otak untuk mencukupi dan membantu ekonomi keluarganya. Karena ia masih tinggal bersama orang tuanya di sebuah kontrakan.

Yah, pas jadi freelance gajinya gak tentu, bisa seminggu lima ratus ribu lah,” ucapnya.

Dengan penghasilan yang tidak menentu, ia pun mencari peluang usaha yang dapat membantu perekonomiannya. Kala itu, ia melihat tren cupang hias yang sangat meningkat. Selain itu, ia memang tengah merintis usaha burung kicau. Dengan, melombakan burung kicau-nya diberbagai kontes. Untuk, mendapatkan sertifikat juara. Dimana, sertifikat juara bisa mendobrak harga jual burung kicau. Tetapi, karena perputaran uang di bisnis burung kicau sangat lama dan susah baginya.

Akhirnya, Ia memutuskan menjual semua burung kicaunya dan mulai membeli cupang hias. Dengan awalan tersebut, ia memanfaatkan tren cupang hias yang masif saat itu. Baginya, daya tarik dari cupang hias ialah memiliki jenis dan corak warnanya yang beraneka ragam.

Saat pertama kali mengeluti bisnis cupang hias dimulai pada bulan Maret 2020. Awalnya ia hanya menjadi reseller cupang hias, modal awal nya sekitar 200 ribu. Farhan, mendapatkan modalnya dengan menyisihkan penghasilannya yang dipotong setengah oleh perusahaanya. Sebab, ia terdampak sebagai pegawai yang dirumahkan.

Dari modalnya itu ia membeli cupang hias jenis blue rim, dimana jenis tersebut sedang tren dikalangan pecinta cupang. Dalam seminggu ia bisa menjual 3 ekor cupang hias. “Ketika jadi reseller, setiap cupang yang berhasil dijual bisa menghasilkan lima puluh ribu dalam dua hari,” ungkapnya.

Setelah 4 bulan menjadi reseller cupang hias. Ia pun mencoba untuk berternak cupang hias dengan membeli jenis bibit cupang yang paling laku di pasaran, seperti blue rim, multicolor gold dan avatar gold. Untuk masalah tempat, ia memanfaatkan ruang yang ada di kontrakannya semaksimal mungkin. Maka, tak ada masalah serius perihal tempat untuk berternak. “Walaupun hanya seluas 3×4 meter, bisa lah buat ternak cupang hias,” pungkasnya.

Menurutnya, ternak cupang hias harus sabar, ulet, dan teliti. Karena, untuk mendapatkan hasil yang memiliki nilai jual tinggi, diperlukan waktu berbulan-bulan. Selain itu, saat proses mengawinkan cupang hiasnya diperlukan ketelitian. Sebab, induk cupang yang sama-sama agresif terkadang bisa menggagalkan proses perkawinan.

Bahkan, hal ini dapat menyebabkan salah satu indukan meninggal atau kerusakan pada ekornya. Meski demikian, semua jenis bisa dikawinkan. Disinilah keunikan dari cupang hias. “Kita bisa membuat jenis cupang yang baru. Tetapi untuk mendapatkan jenis baru, mesti generasi ketiga atau keempat,” ujarnya.

Untuk sekali bertelur, ikan cupang dapat menghasilkan tiga ratusan telur. Namun, bayi cupang yang bertahan hanya sekitar seratus lima puluh ekor saja. Saat menetas, induk harus secepatnya dipisahkan dengan bayi cupang. Jika dibiarkan, bayi cupang akan dimakan oleh induknya.

Lalu untuk pakan bagi bayi cupang juga harus dilihat berdasarkan usianya. Dua minggu pertama diberikan artemia, sebulan kemudian yakni kutu air, dan bulan berikutnya diberikan jentik nyamuk, cacing darah dan kutu air. Pembagian tersebut didasarkan pada asumsi, bahwa pertumbuhan yang baik bagi cupang, ditentukan oleh pakan yang sesuai dengan usia si bayi cupang.

Namun, beragamnya jenis pakan tersebut tentu membutuhkan ongkos yang sepadan. Sebab, untuk artemia harus dibeli dengan harga 85 ribu rupiah untuk ukuran botol 200ml. Kutu air, cacing darah, dan cacing sutra tentu memerlukan ongkos yang lebih mahal, apalagi pakan jenis tersebut masih susah dibudidayakan sendiri. Harga pangan cupang di pasar saat ini bisa mencapai lima puluh ribu per gelas kecil

Cupang hias baru bisa untuk dijual saat umur tiga sampai empat bulan. Sebab pada usia tersebut, cupang hias sudah mengeluarkan warna dan coraknya. Tetapi saat memasuki bulan keenam, warna dan corak dari cupang hias sudah tidak berubah lagi, “Harga di pasaran bisa mencapai 150 ribu untuk cupang dengan umur tiga sampai empat bulan, sedangkan untuk cupang umur enam bulan bisa mencapai 300 ribu ke atas.”

Untuk memasarkan cupang hias ternaknya, biasanya Farhan membuka lelang di media sosial atau menawarkan ke teman-teman sesama pecinta cupang hias.

Akan tetapi ia memiliki kesulitan saat menjual dengan cara lelang di media social. Sebab saat lelang di medsos lebih banyak orang yang mengaku deal saat lelang. Lalu, saat dihubungi untuk pembayaran., Biasanya tidak bisa dihubungi atau menghilang. Jadi, Farhan lebih fokus untuk menawarkan cupang hias daganganya ke komunitasnya.

Omsetnya bisa mencapai 150-200 ribu per minggu. Dari angka tersebut, sudah cukup bagi Farhan untuk membiayai hidup sendiri dan membantu orang tuanya

Dengan naiknya tren cupang hias, perekonomian bagi sebagian rakyat kecil seperti Farhan, yang terdampak pandemi ternyata dapat diselamatkan. Cupang hias menjadi berkah bagi mereka yang tersingkirkan secara ekonomi oleh pandemi.

Penulis : Rijalul Haq
Editor : Ihsan Dwirahman

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *