Terapi Visi Pendidikan Indonesia

No Comment Yet

2 Mei kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS). Tema yang diusung adalah “Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar”. Tak ada yang spesial dari peringatan tahun ini. Sama seperti sebelumnya, momentum besar tersebut hanya diisi dengan upacara oleh guru dan orang-orang di Kementerian Pendidikan.

Merdeka belajar sebenarnya sudah tak asing di telinga kita. Sebab, konsep tersebut merupakan program unggulan yang diusung Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan. Sehemat penulis, persoalan tersebut sudah banyak ditulis dan diamati oleh tokoh pendidikan tanah air.

Ketimbang membicarakan Merdeka Belajar di sini. Penulis lebih tertarik meneropong visi pendidikan Indonesia kedepannya. Tepatnya yang tertulis dalam draft Peta Jalan Pendidikan Indonesia (PJPI) 2020-2035. Terlepas dari persoalan bentuknya yang belum final, serta sempat menjadi perdebatan soal hilangnya frasa agama di dalamnya. Namun, draft tersebut sudah cukup untuk mengintip arah pendidikan Indonesia di masa mendatang.

Visi pendidikan Indonesia 2035 yang tertulis dalam draft tersebut adalah membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera, dan berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila.

Kata pembelajar seumur hidup, penulis rasa perlu di garis bawahi. Sebab hal tersebut seharusnya, menjadi sebuah acuan bahwa pendidikan tak hanya tersekat di tembok sekolah. Namun melihat realita hari ini masyarakat semakin menganggap sekolah menjadi lembaga yang bisa menyulap anak-anaknya menjadi sesuatu yang mereka inginkan.

Ketergantungan Masyarakat Terhadap Sekolah

Seperti yang penulis singgung di atas bagaimana hubungan sekolah dengan masyarakat hari ini. Telah menjadi problematika baru, terutama anggapan berlebihan akan kesempurnaan sekolah.

Sebenarnya, hal ini telah dianalisis oleh Gerd Biesta seorang pakar pakar pendidikan asal Belanda dalam esainya “What Kind of Society Does the School Need? Redefining the Democratic Work of Education in Impatient Times”. Terdapat dua poin dalam tulisannya yang bisa kita jadikan analisis terhadap problem di atas yaitu dualisme sejarah sekolah modern dan hadirnya masyarakat implusif.

Pertama, sekolah modern yang hadir saat ini menurutnya adalah hasil dari pembedaan pekerjaan berdasarkan fungsinya di masyarakat (diferensiasi fungsional) dalam proses modernisasi. Muaranya, sekolah berfungsi untuk mempersiapkan anak-anak berkehidupan di masa depan. Serta masyarakat pun memiliki hak dan suara untuk memutuskan dan mengecek, apakah sekolah telah melakukan sesuai dengan keinginan mereka.

Hal tersebut turut dipengaruhi dengan hadirnya masyarakat implusif yang bergerak sesuai keinginan mereka. Menjadikan sekolah terperangkap dengan tranksasi antara konsumen dengan produsen. Khususnya di Indonesia, keduanya sangat terlihat jelas.

Sekolah dianggap sebagai satu-satunya lembaga penyedia pendidikan. Masyarakat memiliki harapan tinggi dengan menyekolahkan anak-anaknya, kedepannya mendapat kemudahan dalam mencari pekerjaan. Akhirnya lingkup pendidikan di lingkungan masyarakat sering dilupakan.

Belum lagi, menjamurnya bimbingan belajar di luar sekolah yang diharapkan masyarakat dapat menambah pemahaman anak-anaknya terhadap materi di sekolah. Ini menandakan sekolah belum mampu memenuhi keinginan masyarakat.

Sebenarnya, terdapat alternatif  lain soal sejarah sekolah modern dalam pandangan Gert Biesta. Sekolah yang diambil dari kata Yunani schole bermakna waktu luang. Namun, bukan berarti sekolah hanya dipahami sebagai pengisi kekosongan. Biesta menganggap waktu luang ini sebagai sesuatu yang dibebaskan.

Di sanalah, sekolah dapat terbebas dari segala tuntutan masyarakat. Penulis sebenarnya lebih setuju dengan narasi kedua, namun Biesta berhati-hati dengan memberikan peringatan agar tidak terjebak dalam kedua paradigma sejarah sekolah modern. Tetapi untuk menemukan keseimbangan antara keduanya, atau dalam bahasanya kalibrasi ulang historisitas sejarah sekolah modern.

Lantas bagaimana caranya mencetak pembelajar seumur hidup, sedangkan ketergantungan masyarakat terhadap sekolah demikian besarnya?

Kembali Pada Tri Pusat Pendidikan   

Keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan tri pusat pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara.

Hal utama, keluarga sebagai gerbang awal mendidik anak serta menanamkan budi pekerti dan cara bermasyarakat. Menariknya, sekolah diletakkan di antara keduanya. Hal ini sejalan dengan pandangan Biesta yang beranggapan sekolah sebagai tempat di antara rumah dan jalan, kehidupan pribadi keluarga dan kehidupan publik masyarakat. Sekolah sebagai ruang percobaan dan melatih diri serta mendapatkan pengetahuan.

Terakhir, masyarakat guna menjalin hubungan dan tidak terlepas dari lingkungannya. Secara lebih tepat Ki Hajar sebenarnya menempatkan organisasi kepemudaan sebagai poin ketiga. Pada saat itu diharapkan lulusan Taman Siswa turut aktif dan berjuang di dalamnya. Tidak lain sebagai bentuk penentangan terhadap kolonialisme saat itu.

Sementata itu, H.A.R Tilaar, salah seorang tokoh pendidikan Indonesia yang banyak menulis masalah pendidikan nasional. Ia memasukan negara dan dunia global sebagai pusat pendidikan sehingga menjadi Panca Pusat Pendidikan.

Dunia global menurutnya merupakan suatu kewajiban, akibat arus globalisasi yang tidak bisa dibendung lagi. Maka, dunia pendidikan seharusnya menyesuaikan diri, tetapi dirinya memberikan sinyal agar tidak terjebak hal negatif di dalam arus tersebut. Seperti gaya hidup, kebudayaan, semakin mengikuti ke Barat. Menurut Tilaar, lembaga pendidikan sebagai penyemai dan pengembang kebudayaan harus lebih berhati-hati.

Baik Tri ataupun Panca Pusat Pendidikan tidak berjalan secara terpisah tetapi menjadi kesatuan serta bertanggung jawab atas berjalannya pendidikan. Dengan penerapannya, seharusnya pendidikan tidak di titik beratkan pada sekolah saja, namun semuanya turut berperan aktif. Menurut penulis hal ini dapat meluruskan kembali tugas sekolah, yang bukan sekedar memenuhi keinginan masyarakat. Serta, pada akhirnya menghilangkan ketergantungan masyarakat terhadapnya.

Visi untuk menghasilkan pembelajar seumur hidup bukanlah suatu keniscayaan belaka, jika kita mampu menerapkan kembali konsep Tri pusat pendidikan. Tak ayal, semua tempat dapat menjadi sekolah dan semua orang adalah guru dalam bayangan Ki Hajar Dewantara mampu terwujud.

Selain itu, pembelajaran daring yang sudah berjalan selama setahun membuat orang tua kembali terlibat dalam pendidikan anaknya secara langsung. Hal ini sebenarnya menyadarkan kita akan pentingnya kembali pada konsep Tri pusat pendidikan.

Semoga momentum Hari Pendidikan Nasional tahun ini dapat menjadi ajang merefleksikan dunia pendidikan.

Penulis: Mukhtar Abdullah

Editor: Ahmad Qori Hadiansyah

redaksi304

Author

redaksi304

Up Next

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *